Wamendag Roro Dorong Pelaku Usaha Kreatif Pahami Kebutuhan Pasar Global
Jakarta, 23 Oktober 2026 – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong kepekaan pelaku usaha membaca selera konsumen global, mematuhi regulasi negara tujuan, serta sigap mengantisipasi tren perdagangan dunia. Menurutnya, pelaku usaha perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Demikian disampaikan Wamendag Roro dalam penutupan sesi 'The Global Market Brief: 7 Markets, New Opportunities' di Jakarta pada Jumat (23/10). Sesi ini merupakan bagian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang dirancang secara khusus untuk membedah empat pilar pokok bahasan strategis dari delapan pasar tujuan ekspor utama. Tidak hanya itu, gambaran dan tren pasar; peluang produk Indonesia; akses pasar dan strategi; serta peluang kolaborasi dan tindak lanjut turut dikupas pada sesi ini.
"Paradigma pelaku usaha harus bergeser secara mendasar. Dari sekadar menjual apa yang kita buat, menjadi menciptakan apa yang dibutuhkan pasar atau creating based on demand," jelas Wamendag Roro.
Di sinilah peran strategis perwakilan perdagangan RI di luar negeri (perwadag). Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) adalah garda terdepan Kementerian Perdagangan yang siap memberikan pendampingan dan membuka jalan bagi para pelaku usaha agar produk kreatif lokal siap bersaing dan bertaji di panggung global.
Kementerian Perdagangan juga memiliki InaExport, platform layanan ekspor terpadu yang memfasilitasi bertemunya para pelaku usaha lokal dengan para buyer internasional. Melalui platform ini, ekosistem ekspor dapat terbangun secara menyeluruh, membantu pelaku usaha memantau tren dan permintaan pasar, serta terhubung langsung dengan seluruh fasilitas pendukung ekspor dari Kementerian Perdagangan.
Sektor ekonomi kreatif memegang peran vital sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Potensi besar ini tercermin dari kemampuannya menyerap sekitar 26 hingga 27 juta tenaga kerja yang didominasi generasi muda dan perempuan. Kinerja ekspor produk kreatif kita pun terus menunjukkan tren positif; pada periode Januari--Agustus 2026, capaian ekspor telah menembus USD 5,96 miliar, memperkuat fondasi pencapaian 2025 yang berhasil mencatatkan angka USD 12,48 miliar.
Komoditas unggulan Indonesia, mulai dari perhiasan logam mulia, tas dan koper, furnitur kayu, mainan dan model rekreasi, hingga alat musik elektrik, telah membuktikan daya saingnya di pasar dunia. Pasar utama seperti Swiss, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab menjadi bukti nyata keberhasilan penetrasi produk kreatif Indonesia.
Wamendag Roro meyakini, melalui sinergi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri, serta para pelaku usaha, Indonesia dapat mengubah tantangan menjadi peluang, serta membawa produk karya anak bangsa dari lokal menuju pasar global (from local to global) dengan penjualan yang nyata.
Sebelum mengikuti sesi Global Market Brief WCCE tersebut, Wamendag Roro turut melakukan monolog pada sesi 'Blooming in Possibility' WCCE 2026 yang menyoroti potensi kreativitas Indonesia untuk menembus pasar global. Ia menggambarkan bagaimana karya dan produk lokal, mulai dari batik hingga seni digital merepresentasikan identitas Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi di pasar internasional.
"Perdagangan menjadi jembatan yang menghubungkan kreativitas lokal dengan peluang global. Oleh karena itu, sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan kreator diperlukan agar produk kreatif Indonesia semakin dikenal di pasar internasional. Penguatan perdagangan yang adil dan kemitraan yang lebih erat juga dapat mendukung perkembangan industri kreatif serta memperluas peluang ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)," ungkap Wamendag Roro.
Sinergi antarkementerian, lanjut Wamendag Roro, tercermin dalam berbagai kegiatan pemerintah, termasuk Trade Expo Indonesia (TEI) dan WCCE. Sinergi tersebut diharapkan membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring serta menjajaki peluang pasar.
Sementara itu, CEO and Founder Surabaya Survey Solution Yoga Arif Rohman yang menjadi peserta WCCE 2026 berharap WCCE dapat menjangkau pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk UMKM serta wirausaha muda yang sedang merintis bisnis di sektor ekonomi kreatif maupun bidang pendukungnya. Ia juga berharap acara tersebut dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan mengenai peluang kerja sama internasional, termasuk peluang yang dapat dikembangkan dari layanan atau keahlian yang selama ini belum banyak dikaitkan dengan ekonomi kreatif.
The 5th WCCE 2026 merupakan forum internasional yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, akademisi, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi serta mendorong pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Mengusung tema ‘Inclusively Creative: Collective Continuity’, WCCE 2026 menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari pameran seni dan desain, pengalaman interaktif di dunia gim, hingga pasar kreatif yang menampilkan karya dan produk lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian acara berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Jakarta.
--selesai--