Search

Dengarkan Berita Ini

Tingkatkan Ketahanan ASEAN dalam Hadapi Tantangan Global, Wamendag Roro: Proaktif Kejar Peluang untuk Majukan ASEAN

Jakarta, 10 Februari 2026 – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong ketahanan ASEAN di tengah tantangan geopolitik dan geoekonomi dunia saat ini. Menurutnya, dengan berbagai tantangan tersebut, negara-negara ASEAN bukan hanya harus beradaptasi, tetapi juga harus proaktif menangkap berbagai peluang guna memajukan kawasan.

Hal tersebut ditegaskan Wamendag Roro saat menyampaikan pidato kunci dalam Peluncuran dan Dialog Kebijakan Perdana Southeast Asia Futures Initiative Center (SEAFIC) bertajuk “ASEAN’s Golden Decade: turning Geopolitical Overload into Geoeconomic Opportunity” di Jakarta, Selasa (10/2).

“Indonesia bersama negara-negara di kawasan perlu saling menguatkan agar tetap bisa melihat peluang-peluang memajukan ASEAN di tengah tekanan global. Untuk itu, kami menyambut baik beberapa inisiatif yang lahir sebagai upaya ASEAN beradaptasi di situasi saat ini, seperti pembentukan ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) pada April 2025,” ungkap Wamendag Roro.

Wamendag Roro melanjutkan, AGTF menjadi wadah para ahli dari berbagai negara ASEAN berkumpul memberikan saran bagi para pembuat kebijakan, terutama dalam hal mengelola risiko ekonomi jangka pendek, memajukan integrasi dan ketahanan kawasan, memperkuat multilateralisme dan koordinasi lintas pilar, serta mencapai tujuan ambisius seperti tarif ekternal umum (common external tariff) dan kebijakan industri yang koheren.

“Inisiatif ini mencerminkan transisi ASEAN dari berprinsip netralitas menuju ke arah kerja sama strategis yang proaktif. Ini sejalan dengan visi Indonesia yang lebih luas yaitu beradaptasi dan memitigasi, yang artinya beradaptasi dengan perubahan global sekaligus mengurangi risikonya melalui tindakan kolektif,” jelas Wamendag Roro.

Selanjutnya, untuk beradaptasi dengan situasi global terkini, ASEAN juga mempercepat transformasi ekonomi di beberapa area utama. Pertama, melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang menjadi perjanjian ekonomi digital kawasan pertama di dunia. DEFA bertujuan menyelaraskan aturan perdagangan digital dan membuka potensi ekonomi digital senilai sekitar USD 2 triliun pada 2030.

Kedua, melalui peningkatan ketahanan rantai nilai global (global value chain/GVC). Wamendag Roro mengungkapkan, hingga Januari 2026, ASEAN telah menyelesaikan 27 dari 34 lini aksi dalam Rencana Kerja GVC, serta memperkuat daya saing kawasan di sektor-sektor seperti semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan manufaktur berkelanjutan. Ketiga, melalui inisiatif di bidang iklim dan keberlanjutan, seperti ASEAN Power Grid (APG), the Framework for Circular Economy for the AEC, dan the ASEAN Strategy for Carbon Neutrality. Upaya-upaya ini tidak hanya akan mengurangi emisi tetapi juga menciptakan hingga 12 juta lapangan kerja hijau dan menarik pendanaan hijau sebesar USD 1,1 triliun pada 2030.

Kemudian, Wamendag Roro juga menegaskan beberapa upaya pada tingkat nasional Indonesia dalam memperkuat arsitektur perdagangan dan strategi diversifikasi pasar, antara lain melalui beberapa perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan negara- negara seperti Kanada dan Peru. Kemudian ada perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dan perjanjian perdagangan preferensial (PTA) dengan Tunisia. Sejalan dengan itu, Kementerian Perdagangan RI juga menggenjot perdagangan dalam negeri dengan komitmen meningkatkan ekspor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan program unggulan UMKM Berani Inovasi Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang dimulai pada 2025.

Adapun hadir sebagai panelis pada forum tersebut yaitu Kepala SEAFIC, Tengku Zafrul Aziz; Kepala Indonesian Business Council, Arsjad Rasjid; dan Profesor Ekonomi Lee Kuan Yew School of Public Policy, Danny Quah. Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, hadir menyampaikan sambutan melalui video virtual.

Sejalan dengan Wamendag Roro, Kepala SEAFIC Zafrul juga menyatakan bahwa dalam menghadapi kondisi dunia saat ini, sikap netralitas ASEAN perlu dibarengi dengan pemanfaatan potensi yang dapat melindungi kepentingan ASEAN dalam jangka panjang. “Penerapan prinsip netralitas ASEAN telah banyak memberikan manfaat bagi kita, kawasan kita terbuka, stabil, dan efektif secara komersial. Namun, banyak argumen mengatakan saat ini ASEAN berada di fase yang penting dan bahwa netralitas saja tidak cukup. Saat ini ASEAN perlu melindungi kepentingan jangka panjangnya dan memanfaatkan peluang yang ada. Jadi, kita harus beralih dari adaptasi pasif ke aktif dan berorientasi pada masyarakat. Di sinilah SEAFIC akan berkontribusi,” ujar Zafrul.

Zafrul menjelaskan, SEAFIC didirikan dengan satu tujuan sederhana, yaitu untuk membantu Asia Tenggara tidak hanya memahami masa depannya, tetapi sekaligus dapat membentuk masa depannya. Sementara itu, Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn juga menyatakan untuk menghadapi disrupsi rantai pasok saat ini, penting bagi ASEAN untuk berkoordinasi lebih baik dengan niat yang lebih strategis. ASEAN harus melihat kondisi saat ini bukan penuh akan batasan, tapi sebagai peluang.

Informasi lebih lanjut hubungi:

N.M. Kusuma Dewi
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Perdagangan
Email: pusathumas@kemendag.go.id

Nugraheni Prasetya Astuti
Direktur Perundingan ASEAN
Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional
Kementerian Perdagangan
Email: asean@kemendag.go.id

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers DITJENPPI