Sambal Hijau Menggoda Dendeng Membara, Sepiring Rasa Minang Tanpa Santan di Pangan Nusa Expo 2026
Kabupaten Tangerang, 21 Oktober 2026 – Sepotong dendeng unjuk pesona di atas wajan panas. Sesekali, semprotan minyak kelapa menyapa permukaan daging, mengundang desis yang beradu dengan aroma bakaran. Dendeng menari bersama spatula sementara sambal hijau menanti disapa. Tapi saat disajikan, tidak ada kuah santan kental ciri masakan Minang. Sebagai gantinya, dendeng bakar dan sambal hijau segar bersekutu menghadirkan kejutan rasa.
Begitulah dendeng batokok “Badendeng” memperkenalkan diri di tengah hiruk pikuk Hall 1 Pangan Nusa Expo 2026 di di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten pada 14—18 Oktober 2026.
Guruh, pemilik dari Badendeng, menceritakan pengalamannya menekuni kuliner tersebut. Semua bermula dari perjumpaan pria berdomisili Jakarta ini dengan dendeng batokok di sebuah rumah makan saat menyambangi Padang, Sumatra Barat. Ia bukan tipe orang yang gemar jajan atau sembarangan mencoba makanan. Namun, sepiring dendeng batokok berhasil mengubah sikapnya.
Guruh mengingat-ingat saat sambal hijau mengejutkan tiap suapannya. Alih-alih mendominasi dengan rasa pedas, justru sambal hijau menghadirkan sensasi asam dan segar. Menariknya, sambal itu tidak dimasak. “Jadi, yang saya rasakan itu mulai dari dagingnya, kemudian sambalnya itu berbeda dengan di Jakarta karena rasanya asam dan segar. Sambalnya tidak dimasak,” ujar Guruh saat ditemui di Paviliun Pangan Nusa Expo 2026, (16/10).
Rasa penasaran itu kemudian tumbuh menjadi gagasan usaha. Guruh berkenalan dengan juru masak setempat dan memboyong cita rasa dendeng batokok ke Jakarta. Setelah melakukan sejumlah penyesuaian dengan selera konsumen Ibu Kota, ia membuka gerai pertamanya di Heritage Square, Kuningan, sekitar dua tahun lalu. Guruh juga menawarkan ayam batokok, telur barendo, dan sop iga.
Lidah warga Jakarta menyambut baik. Dalam sehari, Guruh mampu menjual 60—100 porsi melalui penjualan langsung dan daring. Sambutan tersebut kemudian mendorongnya membuka gerai kedua di Bintaro, yang baru beroperasi sekitar tiga minggu saat wawancara berlangsung.
Salah satu pengalaman menarik Guruh saat pameran di Pangan Nusa Expo 2026 datang dari seorang pengunjung asal Semarang. Setelah dua kali mencicipi dendeng batokok, pengunjung tersebut kembali dengan satu pertanyaan: bisakah ini dibawa pulang ke Semarang?
Pertanyaan sederhana itu membuka kemungkinan baru. Guruh mulai mempertimbangkan pengembangan produk siap santap (ready-to-eat) agar dendeng batokok dapat dinikmati konsumen di luar Jakarta. Guruh pun masih mencari cara agar sambal hijaunya dapat dikemas untuk perjalanan jauh tanpa kehilangan karakter rasa. Sebab, apa artinya membawa pulang dendeng batokok jika kesegaran sambal hijaunya tertinggal?
Pengalaman berikutnya tidak disangka karena pesona dendeng batokok ternyata bisa diterima lidah global. Di tengah pameran yang sama, sambal hijau racikan Guruh berhasil mencuri hati seorang pengunjung pameran dari Senegal. Pengunjung itu hadir di pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang terlaksana di lokasi dan waktu bersamaan dengan Pangan Nusa Expo 2026.
Cerita bermula ketika pengunjung tersebut mencicipi hidangan Badendeng. Sambal hijaunya meninggalkan kesan mendalam, sampai-sampai keesokan harinya ia kembali untuk makan lagi. “Kemarin ada orang Senegal datang ke sini. Dia coba dendeng dan suka sekali dengan sambal hijau kami. Sampai besoknya kembali lagi,” kata Guruh.
Menurut Guruh, pengunjung itu merasa sambal hijau tersebut mengingatkannya pada salah satu makanan di negara asalnya. Ada kemiripan rasa yang menjembatani dua tradisi kuliner dari belahan dunia berbeda. Bedanya, sambal hijau racikan Guruh memiliki sentuhan rasa kelapa yang memang didatangkan dari daerah asal untuk menjaga karakter rasa.
Agaknya, sambal hijau memang tak perlu paspor untuk menjelajah dunia. Cukup sepiring dendeng batokok, rasa khas Minang sudah mampu memperkenalkan diri kepada lidah dari negeri jauh.
Pangan Nusa menjadi panggung perdana Badendeng dalam sebuah pameran kuliner. Berawal dari informasi kurasi produk, Guruh mencoba peruntungan dengan mengirimkan sampel makanan. Produknya kemudian lolos seleksi dan mendapat kesempatan tampil dalam rangkaian TEI ke-41. Meski baru pertama kali mengikuti pameran, respons pengunjung membuat Guruh semringah. Dalam sehari, lebih dari 50 porsi dendeng batokok berhasil terjual. Namun, Pangan Nusa bukan sekadar tempat menjajakan makanan. Bagi Guruh, pameran ini juga menjadi ruang untuk membaca selera pasar dan mendengarkan langsung keinginan konsumen.
--selesai--