Pertemuan Joint AMM-AEM, Indonesia Serukan ASEAN Solid dan Terbuka di Tengah Ketidakpastian Global
Jakarta, 7 Mei 2026 – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, ASEAN harus tetap terbuka dan tangguh di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia. Menurut Mendag Busan, koordinasi antara pilar ekonomi dan politik ASEAN menjadi kunci untuk memastikan kawasan mampu merespons berbagai guncangan global secara cepat, terukur, dan kolektif.
Penegasan tersebut disampaikan Mendag Busan saat memberikan intervensi pada Pertemuan Gabungan Menteri Luar Negeri dan Menteri Ekonomi ASEAN (Joint ASEAN Foreign and Economic Ministers’ Meeting/AMM-AEM Meeting) di Cebu, Filipina, Rabu (7/5). Pertemuan di antaranya membahas pandangan ekonomi global dan regional serta dampak krisis Timur Tengah terhadap kawasan ASEAN. Pertemuan berlangsung dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Mendampingi Mendag Busan, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Johni Martha.
“ASEAN perlu menunjukkan kepada komunitas bisnis dan internasional bahwa kawasan ini tetap terbuka, tangguh, dan mampu menjaga stabilitas perdagangan serta rantai pasok di tengah ketidakpastian geopolitik global,” ujar Mendag Busan.
Mendag Busan menyampaikan, Indonesia mendorong penguatan kerja sama ketahanan energi dan pangan ASEAN sebagai prioritas strategis kawasan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan produksi, memastikan keamanan pasokan, serta mempertahankan kelancaran arus perdagangan barang-barang esensial.
Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pasokan energi, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), serta peningkatan pertukaran informasi antarnegara ASEAN guna mengantisipasi potensi krisis pangan dan energi di masa mendatang.
Dalam forum tersebut, Indonesia turut mendorong penguatan perdagangan intra-ASEAN melalui percepatan ratifikasi Second Protocol to ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). Langkah ini dipandang penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok kawasan di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global.
“Penguatan perdagangan intra-ASEAN dan fasilitasi perdagangan menjadi instrumen penting untuk menjaga kelancaran arus pangan, energi, dan barang kebutuhan pokok bagi masyarakat kawasan,” kata Mendag Busan.
Lebih lanjut, Indonesia juga menegaskan pentingnya memperluas kerja sama perdagangan ASEAN dengan mitra strategis. Hal tersebut mencakup percepatan penyelesaian ASEAN–Canada Free Trade Agreement (ACaFTA) serta optimalisasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Mendag Busan menambahkan, respons ASEAN terhadap berbagai tantangan global harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok rentan seperti petani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan kawasan.
“ASEAN harus mampu membangun solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan kawasan, tetapi juga melindungi masyarakat, khususnya petani dan UMKM, dari dampak krisis global,” ujar Mendag Busan.
Pada pertemuan tersebut, Indonesia juga mendukung pengembangan mekanisme respons krisis kolektif ASEAN yang lebih cepat, fleksibel, dan terintegrasi lintas sektor melalui inisiatif ASEAN Coordinated Response for Enduring Resilience (ASEAN CORE). Mekanisme ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan ASEAN dalam menghadapi berbagai krisis multidimensi di masa depan.
Para Menteri juga mendapatkan pandangan dan usulan rekomendasi kebijakan terkait pentingnya upaya bersama dalam penguatan ketahanan kawasan dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC).