Search

Dengarkan Berita Ini

Perkuat Ekosistem Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor, Kemendag Gelar Lokakarya Campuspreneur

Bandung, 8 Mei 2026 – Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) bekerja sama dengan Telkom University menggelar lokakarya Campuspreneur di Auditorium Telkom University, Bandung, Jawa Barat pada Kamis, (7/5). Lokakarya ini diikuti 90 peserta yang terdiri atas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan mahasiswa.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan, lokakarya ini merupakan bagian dari penguatan Program Campuspreneur yang telah diluncurkan pada 2 April 2026. Program Campuspreneur dijalankan melalui kolaborasi Kemendag dengan berbagai perguruan tinggi untuk mencetak wirausaha muda dari kalangan mahasiswa, baik sebagai pelaku usaha di pasar dalam negeri maupun yang berorientasi ekspor.

“Lokakarya ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional dalam mendukung peningkatan ekspor Indonesia. Kami ingin mendorong lahirnya wirausaha muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha yang berdaya saing, baik untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun pasar ekspor,” ujar Puntodewi pada kesempatan terpisah.

Mengusung tema “End-to-End Export Readiness: Transforming MSME Products from Design, Financing, to Global Market Access”, lokakarya ini menghadirkan sesi penguatan kapasitas ekspor mulai dari pengembangan desain produk, akses pembiayaan, hingga strategi akses pasar global. Sejumlah narasumber turut hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, yaitu Kepala Divisi Jasa Konsultasi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Maria Sidabutar, Tenaga Ahli Desain Indonesia Design Development Center (IDDC) Darfi Rizkavirwan, dan Atase Perdagangan RI Den Haag Annisa Hapsari.

Sekretaris Ditjen PEN Kemendag Sugih Rahmansyah hadir menjadi pembicara kunci pada acara ini. Dalam sambutannya, ia menekankan, penguatan daya saing UMKM merupakan salah satu prioritas Kemendag karena UMKM memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian nasional. UMKM tidak hanya berperan menjaga stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pelaku ekspor, termasuk pelaku usaha yang lahir dari lingkungan kampus,” ujar Sugih.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Program Campuspreneur dirancang melalui empat pilar utama yaitu peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pendampingan serta program inkubasi berbasis kebutuhan pasar; pengembangan inovasi, yang mendorong lahirnya produk yang berdaya saing dan model bisnis yang memiliki nilai tambah; pembukaan akses pasar, yang dilakukan melalui fasilitasi promosi, pitching, business matching, dan pengenalan terhadap peluang pasar ekspor; serta penguatan kemitraan, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dunia usaha, industri, dan mitra internasional.

“Melalui Program Campuspreneur, kami ingin membangun ekosistem kewirausahaan muda yang terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi produk, pembukaan akses pasar, hingga penguatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menciptakan produk yang berdaya saing, tetapi juga siap mengisi pasar dalam negeri dan menembus pasar ekspor,” tutur Sugih.

Kemendag juga memfasilitasi business matching secara daring bekerja sama dengan 46 Perwakilan Perdagangan RI di 33 negara dan pembina UMKM ekspor. Skema ini diperuntukkan bagi UMKM kategori emerging exporter dan established exporter agar dapat terhubung langsung dengan buyer internasional

“Kami percaya bahwa kesiapan ekspor tidak dibangun secara instan, tetapi melalui proses pembelajaran, pendampingan, dan kolaborasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan lokakarya ini sebaik-baiknya, sebagai sarana untuk belajar, berdiskusi, serta membangun jejaring,” ujar Sugih.

Sementara itu, salah satu peserta lokakarya, pemilik usaha Replast yang berfokus pada daur ulang sampah plastik, Dafa Alif menyampaikan, Program Campuspreneur tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pengembangan produk, tetapi juga pendampingan terkait akses pasar dan peluang ekspor. “Harapannya, melalui Program Campuspreneur, UMKM di Jawa Barat bisa semakin siap menembus pasar ekspor,” ujar Dafa.

Pemilik Abah Sorgum, Neneng Supriati Ningsih menilai, Program Campuspreneur memberikan banyak masukan bagi pengembangan produknya, terutama melalui sesi konsultasi bersama IDDC. “Dari sesi konsultasi IDDC, kami mendapat banyak masukan untuk memperbaiki kemasan, memperkuat storytelling mengenai sorgum, serta menonjolkan keunikan produk karena sorgum ini sebenarnya merupakan harta karun yang memiliki potensi besar,” ujar Neneng.

Kinerja Perdagangan dan Regional

Sugih juga memaparkan, Indonesia mencatatkan kinerja perdagangan yang positif. Pada Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 3,32 miliar. Secara kumulatif, periode Januari—Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 5,55 miliar.

Sedangkan Provinsi Jawa Barat turut menjadi penopang utama ekspor nasional dengan membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 2,11 miliar pada Maret 2026. Sektor industri manufaktur yang bervariasi dan stabil memberikan kontribusi yang mencapai 98,57 persen terhadap ekspor di jawa Barat.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers