Menjaga Hutan Aceh, Memikat Pasar Global: Perjalanan Yagi Forest Menuju Panggung Internasional
Kabupaten Tangerang, 16 Oktober 2026 – Di balik helai daun dan keasrian hutan Indonesia, terkandung kekayaan alam yang tak bernilai harganya. Bagi Farhaniza, Founder Yagi Forest, kekayaan ini bukan sekadar bahan baku, melainkan fondasi dari sebuah filosofi perawatan diri yang selaras dengan kelestarian bumi.
Berawal dari Aceh, Yagi Forest tumbuh menjadi lini produk perawatan tubuh yang berkomitmen untuk menghadirkan produk kecantikan alami berkelanjutan. Langkah Yagi Forest membuktikan bahwa inovasi lokal tidak hanya mampu menjawab kebutuhan perawatan kulit, tetapi juga membawa misi besar pelestarian lingkungan hingga ke mancanegara.
Mengusung konsep Forest Skincare, Yagi Forest memanfaatkan bahan-bahan alami yang dipanen secara etis dari hutan-hutan Indonesia. Keunggulan produk ini ditopang oleh Biossential Technology, sebuah teknologi inovatif yang menjaga potensi kebaikan alam tetap utuh sekaligus memastikan seluruh formula mudah terurai kembali oleh lingkungan (biodegradable).
Kekuatan utama produk Yagi Forest terletak pada racikan bahan-bahan lokal pilihan dari berbagai pelosok Nusantara yang kaya akan manfaat kulit sekaligus berpihak pada kelestarian ekosistem. Beberapa di antaranya serbuk kopi gayo Aceh, kemiri Aceh, dan cengkeh Aceh. Selain dari hasil alam Aceh, Yagi juga menggunakan kayu manis dari Kerinci, kenanga Jawa, merica hitam Halmahera, dan bunga Magnolia dari Bali. Seluruh bahan alami ini dibudidayakan melalui praktik agroforestry dan pertanian berkelanjutan bersama petani lokal.
"Kami percaya bahwa kecantikan sejati lahir dari pemberian alam yang paling murni," ungkap Farhaniza, Founder Yagi Forest. "Komitmen kami melampaui sekadar perawatan kulit; ini adalah wujud rasa hormat yang mendalam terhadap bumi dan sumber dayanya. Dengan menerapkan praktik berkelanjutan di setiap tahapan, kami ingin merawat kulit pengguna sekaligus menjaga planet ini,” lanjutnya.
Langkah nyata Yagi Forest terhadap lingkungan terbukti dari dampak positif yang telah mereka catat. Hingga saat ini, Yagi Forest berhasil menggantikan lebih dari 1.500 kg bahan kimia keras dan surfaktan pencemar air, menolak penggunaan 418 kg bahan mikroplastik, serta mencegah masuknya 198 kg bahan kimia pengganggu hormon (endocrine disruptors) dalam seluruh produk yang dihasilkan.
Keseriusan ini menjadikan Yagi Forest sebagai pabrik kosmetik pertama di Aceh yang telah mengantongi sertifikasi BPOM, dengan kapasitas produksi mencapai 10.000 produk setiap bulannya. Selain mengembangkan brand mandiri, Yagi Forest juga membuka layanan white label, pasokan untuk hotel, agen perjalanan, spa, hingga Original Equipment Manufacturer (OEM).
Perjalanan membangun produk kecantikan berbasis keberlanjutan tentu tak lepas dari tantangan. Farhaniza mengenang bahwa titik tersulit di awal berdirinya Yagi Forest adalah membangun pemahaman serta kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas produk alami.
"Tantangan terbesar kami di awal adalah mengedukasi pasar dan mendapatkan kepercayaan konsumen. Kami ingin membuktikan bahwa produk berbahan alami dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan standar kualitas dan keamanan yang tinggi," ujar Farhaniza.
Tantangan tersebut justru menempa Yagi Forest untuk terus berinovasi dan memperkuat identitasnya. Kini, setelah memperkokoh fondasi di dalam negeri dan berpartisipasi dalam berbagai pameran internasional seperti MIHAS di Malaysia, Osaka Expo di Jepang, serta OHEC di Oman, Yagi Forest bersiap melangkah lebih jauh. Melalui keikutsertaannya dalam Trade Expo Indonesia (TEI), Yagi Forest membidik peluang kerja sama dengan distributor dan mitra bisnis internasional. TEI dipandang sebagai ruang yang strategis untuk memperkenalkan potensi keanekaragaman hayati Indonesia ke pasar internasional yang kian peduli pada sustainable beauty.
"Melalui TEI, kami berharap dapat membuka jalur kemitraan global dan memahami lebih dalam kebutuhan pasar internasional. Kami ingin membawa produk asal Aceh yang mengangkat kearifan alam hutan Indonesia dan nilai keberlanjutan ke panggung dunia," tutup Farhaniza optimis.
Langkah Yagi Forest menjadi bukti nyata bagaimana pelaku UMKM dan industri kreatif Indonesia mampu memadukan kearifan lokal, teknologi ramah lingkungan, dan standar produksi modern untuk bersaing di pasar ekspor global.
--selesai–