Mendag Busan Optimistis Perdagangan Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Perdagangan Global
Jakarta, 26 Mei 2026 – Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis Indonesia tetap berpotensi meningkatkan perdagangan nasional di tengah tantangan global. Melalui catatan positif pada ekspor nonmigas Januari–Maret 2026, ia menunjukkan peluang pertumbuhan selalu ada. *Kementerian Perdagangan pun konsisten mendorong peningkatan perdagangan nasional melalui berbagai program prioritas yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi daerah.*
Mendag Busan menyampaikan hal tersebut sebagai panelis pada “Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah: Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor” di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5). Turut hadir mendampingi Mendag Busan, yaitu Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi.
“Indonesia tetap berpeluang untuk terus meningkatkan perdagangan di tengah kondisi perdagangan global yang menantang. Kalau kita lihat, pertumbuhan ekspor nonmigas kita pada Januari—Maret 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu tumbuh 0,98 persen. Jadi, sebetulnya kita masih (bisa) tetap tumbuh positif,” ujar Mendag Busan.
Ia pun mengatakan, Kemendag memiliki tiga program prioritas untuk mengakselerasi perdagangan nasional. Ketiganya, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global.
Melalui Program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Kemendag mendorong agar produk lokal dapat menguasai pasar domestik. Ia mengharapkan produk lokal dapat terus meningkatkan daya saing sebagai cara menangkal kebutuhan impor. Selain itu, instrumen trade remedies seperti anti-dumping dan safeguard dapat dimanfaatkan untuk melindungi pasar dalam negeri. “Kami ingin pasar kita yang besar diisi produk lokal. Kuncinya, produk harus berdaya saing. Kalau kita sudah memiliki produk dalam negeri yang bagus, kita tidak perlu impor,” ujar Mendag Busan.
Kemudian, pada Program Perluasan Pasar Ekspor, Kemendag mendorong terbukanya akses produk Indonesia di pasar dunia melalui perjanjian perdagangan. Hingga saat ini, sebanyak 20 perjanjian dagang telah diimplementasikan, 15 perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 11 perjanjian masih dalam proses perundingan. Mendag Busan juga menyampaikan upaya untuk mempertahankan pasar ekspor ke Amerika Serikat melalui Agreement Reciprocal Tariff (ART).
Program selanjutnya yang dijalankan adalah Dari Lokal Untuk Global. Program tersebut mendorong agar pelaku usaha lokal, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha di desa, dapat memperluas jejak produk Indonesia di kancah dunia dengan menjadi eksportir.
Program tersebut terbagi dalam empat klaster. Klaster pertama adalah UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor. Kemendag memfasilitasi pelaku UMKM menembus pasar global lewat dukungan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara.
“Kami ingin agar ekspor tidak hanya dari perusahaan besar, tetapi juga perusahaan kecil. Kami tugaskan perwakilan perdagangan RI untuk membantu pelaku usaha kita. Silakan menghubungi para perwakilan perdagangan untuk mendapat pendampingan ke pasar ekpor yang dituju,” ujar Mendag Busan.
Sepanjang 2025, UMKM BISA Ekspor telah memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) yang diikuti 1.217 pelaku usaha. Tercatat, total transaksi sepanjang 2025 mencapai USD 134,87 juta. Sementara itu, khusus Januari—April 2026, telah tercatat total transaksi sebesar USD 107,34 juta dengan 70 persen pelaku usaha merupakan eksportir baru yang belum pernah ekspor.
Klaster kedua adalah Desa BISA Ekspor yang mendukung para pelaku usaha di daerah untuk naik kelas melalui penguatan ekosistem hulu ke hilir. Kemendag telah mengidentifikasi dan bersinergi mengembangkan desa berpotensi ekspor di berbagai wilayah. Hingga saat ini, Kemendag telah memetakan 2.616 desa dan membaginya menjadi kelompok besar desa siap ekspor atau butuh pendampingan untuk menjadi desa siap ekspor.
Klaster ketiga adalah Campuspreneur yang memungkinkan Kemendag bermitra dengan 19 pergururan tinggi di Indonesia. Sinergi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pengembangan usaha bagi pelaku usaha muda. Terdapat kegiatan pengembangan produk, strategi pemasaran, hingga perluasan jejaring usaha.
Klaster keempat adalah kemitraan UMKM. Kemendag bekerja sama dengan asosiasi, ritel modern, hingga pusat perbelanjaan agar produk lokal semakin bisa dijual dan semakin mudah dijangkau oleh konsumen dalam negeri.
Selain tiga program prioritas Kemendag, Trade Expo Indonesia (TEI). Kegiatan pameran dagang internasional terbesar di Indonesia itu mempromosikan produk-produk Indonesia secara langsung kepada para buyer internasional. Pada 2025, TEI mencatatkan total transaksi sebesar USD 22,8 miliar dan menjaring partisipasi 8.045 buyer dari 130 negara. Di TEI 2025, juga diluncurkan Program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA) hasil kolaborasi enam kementerian dan lembaga untuk mempromosikan produk dan kuliner Indonesia di pasar global dalam satu payung koordinasi besar.
Acara dilanjutkan dengan sesi paparan dan tanya jawab bersama Menteri UMKM Maman Abdurrahman; Wakil Menteri Pertanian Sudaryono; dan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Dicky Kartikoyono.
--selesai--