Search

Dengarkan Berita Ini

Mendag Busan Bertemu Mendag India, Bahas Pendalaman Kerja Sama Perdagangan Bilateral

Jaipur, 8 Agustus 2026 – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso bertemu dengan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal di Jaipur India, pada Jumat, (7/8). Pertemuan tersebut membahas penguatan hubungan perdagangan bilateral melalui percepatan kerja sama perdagangan, peningkatan akses pasar, dan penguatan investasi antara kedua negara. Pertemuan dilaksanakan di sela rangkaian BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) pada 6–7 Agustus 2026.

Mendag Busan mengatakan, Indonesia memandang India sebagai mitra dagang strategis di kawasan Asia Selatan yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Menurutnya, penguatan kerja sama perdagangan akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi pelaku usaha kedua negara sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok regional.

“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat hubungan dagang Indonesia dan India melalui kerja sama yang lebih erat, baik pada tingkat bilateral maupun dalam kerangka ASEAN–India. Indonesia mendukung terciptanya perdagangan yang semakin terbuka, fasilitatif, dan saling menguntungkan sehingga mampu mendorong peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara,” ujar Mendag Busan pascapertemuan.

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri membahas pelaksanaan Working Group on Trade and Investment (WGTI) Indonesia dan India. WGTI adalah forum tahunan yang menjadi wadah pembahasan isu perdagangan dan investasi bilateral pada tingkat teknis. Indonesia menyampaikan dukungan terhadap India sebagai tuan rumah penyelenggaraan WGTI kedua pada 2026, sebagaimana tindak lanjut Pernyataan Bersama para pemimpin Indonesia dan India saat kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 7 Juli 2026.

Selain itu, kedua negara membahas perkembangan reviu ASEAN–India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap target penyelesaian perundingan pada 2026 dengan tetap mengedepankan hasil yang lebih sederhana, ramah bagi dunia usaha (business-friendly), dan mampu memfasilitasi perdagangan secara lebih efektif.

Mendag Busan menjelaskan, Indonesia berkomitmen memenuhi target liberalisasi akses pasar sebesar 80 persen sebagaimana telah disepakati dalam perundingan AITIGA Review. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tingkat liberalisasi Indonesia saat ini yang mencapai 41,9 persen. Hingga Juli 2026, Indonesia telah menyampaikan penawaran akses pasar secara bertahap yang mencakup sekitar 57 persen dari target tersebut.

“Indonesia mendukung penyelesaian AITIGA Review pada tahun ini. Namun, kami juga memerlukan waktu untuk menyelesaikan konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan dalam negeri agar hasil perundingan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pelaku usaha,” kata Mendag Busan.

Pada kesempatan tersebut, Mendag Busan mengapresiasi tanggapan positif Pemerintah India terhadap usulan pembentukan Indonesia–India Preferential Trade Agreement (ID–IN PTA). Ia pun berpandangan, perjanjian perdagangan bilateral tersebut akan melengkapi AITIGA dengan menyediakan akses pasar yang lebih luas, mengurangi hambatan nontarif, serta memperkuat fasilitasi perdagangan.

Mendag Busan berharap, pembahasan teknis mengenai ID–IN PTA dapat segera dimulai setelah Review AITIGA mencapai konklusi substansial yang ditargetkan pada Oktober 2026. Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama erat dengan India dalam mewujudkan kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif dan saling menguntungkan.

Menanggapi usulan tersebut, Mendag Piyush menyambut baik inisiatif Indonesia untuk pembentukan ID–IN PTA. Menurutnya, PTA akan menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar, meningkatkan perdagangan yang lebih berimbang, serta memberikan kepastian yang lebih besar bagi pelaku usaha kedua negara. Ia mengusulkan agar pembahasan PTA diluncurkan melalui forum bilateral tingkat menteri setelah proses review AITIGA mencapai kemajuan yang substansial.

Selain itu, Mendag Piyush mengusulkan agar Indonesia dan India segera mengaktifkan kembali WGTI serta Trade Ministers' Forum yang telah lama tidak diselenggarakan. Menurutnya, kedua forum tersebut dapat menjadi wadah untuk mengidentifikasi peluang perdagangan, menyelesaikan hambatan nontarif secara konstruktif, serta mempersiapkan pertemuan antarpelaku usaha melalui delegasi bisnis kedua negara. Sebagai tindak lanjut, India juga mengusulkan penyelenggaraan pertemuan teknis secara virtual guna mempercepat pembahasan isu-isu perdagangan prioritas dan implementasi kerja sama bilateral.

India merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia. Negara tersebut secara konsisten menempati posisi sebagai tujuan ekspor nonmigas terbesar ketiga sekaligus sumber impor terbesar kesepuluh bagi Indonesia. Pada Januari—Juni 2026, total perdagangan kedua negara mencapai USD 11,89 miliar dengan ekspor Indonesia sebesar USD 9,28 miliar dan impornya sebesar USD 2,60 miliar. Pada periode ini, Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang sebesar USD 6,68 miliar dengan India.

Sementara itu, pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 23,13 miliar, dengan ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 18,30 miliar dan impornya sebesar USD 4,84 miliar, sehingga Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 13,46 miliar.  

Ekspor utama Indonesia ke India di antaranya adalah batu bara, minyak sawit, baja nirkarat, asam lemak monokarboksilat industri, dan korundum buatan. Sementara itu, impor Indonesia dari India meliputi daging kerbau, kacang tanah, kendaraan pengangkut barang, suku cadang dan aksesori traktor, serta tembakau mentah. 


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers DITJENPPI