Mendag Busan Ajak UMKM Banyuwangi Manfaatkan Program Pengembangan Ekspor Kemendag
Banyuwangi, 29 Agustus 2026 – Menteri Perdagangan Budi Santoso berdialog langsung dengan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Kabupaten Banyuwangi pada Jumat, (28/8). Dialog yang digelar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ini diikuti 50 peserta dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Banyuwangi dan sekitarnya. Pertemuan membahas berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi UMKM dalam mengembangkan usaha, meningkatkan daya saing produk, serta memperluas akses ke pasar domestik dan ekspor.
Dalam dialog tersebut, Mendag Busan mengajak pelaku UMKM di Banyuwangi untuk memanfaatkan kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Mendag Busan mengatakan, UMKM BISA Ekspor dan program kemitraan UMKM dengan jaringan ritel modern relevan bagi para pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pasar.
“Kami mengajak UMKM Banyuwangi untuk memanfaatkan program UMKM BISA Ekspor yang dapat menghubungkan UMKM dengan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang siap membantu UMKM menemukan buyer di negara tujuan ekspor,” ujar Mendag Busan.
Sementara untuk pasar domestik, Kemendag menjalankan program kemitraan dengan minimarket, ritel modern, dan toko serba ada (department store). Melalui program tersebut, Kemendag dapat memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) dan kurasi untuk mempertemukan produk UMKM dengan jaringan ritel.
UMKM BISA Ekspor dan program kemitraan dengan ritel modern merupakan bagian dari aktivitas pengembangan ekspor Kementerian Perdagangan di bawah payung program utama “Dari Lokal untuk Global”. Program ini mencakup UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, Campuspreneur, dan program kemitraan.
Selain mempertemukan UMKM dengan calon pembeli, Kemendag memperkuat promosi produk berorientasi ekspor melalui Program Product Placement Pilihan Busan. Produk UMKM dikurasi setiap tiga bulan untuk menjaring produk yang memenuhi standar ekspor. Produk terpilih kemudian dipromosikan langsung oleh Mendag Busan kepada tamu-tamu dari dalam dan luar negeri di ruang tamunya. Produk-produk terpilih juga berkesempatan diikutsertakan dalam berbagai pameran.
Selain itu, UMKM dapat memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14—18 Oktober 2026 sebagai salah satu sarana untuk memperluas akses pasar global. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, TEI menghadirkan 8.045 buyer asing dengan nilai transaksi mencapai USD 22,8 miliar. Khusus untuk UMKM, nilai transaksi tercatat sebesar USD 474,7 juta.
Kemendag juga menyediakan Klinik Desain untuk membantu UMKM meningkatkan kualitas desain dan kemasan produk. Konsultasi dapat dilakukan secara daring tanpa biaya. Menurut Mendag Busan, perbaikan desain dan kemasan dapat meningkatkan kesiapan produk UMKM untuk memasuki pasar ekspor. “Kalau desain kemasannya belum bagus, bisa kami ajari secara daring tanpa biaya. Banyak produk yang berhasil didesain ulang lalu mencetak ekspor. Kami menyediakan konsultasi desain dengan desainer untuk membuat desain produk menjadi lebih baik,” pungkas Mendag Busan.
Dalam sesi dialog, Diah Lestari, pemilik Pawon Koe, usaha makanan ringan olahan asal Banyuwangi sekaligus alumni Export Coaching Program (ECP) Kemendag, bercerita tentang perkembangan ekspor produknya. Kini, produknya telah memperoleh trial order dari Singapura, tengah dalam proses negosiasi dengan calon pembeli dari Taiwan, serta menjajaki peluang pasar Korea Selatan.
Namun, memasuki pasar Korea Selatan, Diah perlu memenuhi sejumlah persyaratan sertifikasi, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). Menanggapi hal tersebut, Mendag Busan menegaskan pentingnya sertifikasi dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Kemendag juga siap memberikan pendampingan kepada UMKM dalam mempersiapkan pemenuhan persyaratan yang dibutuhkan untuk memasuki pasar tujuan ekspor.
Apresiasi Furnitur ber-SVLK
Pada hari yang sama, (28/8), Mendag Busan mengunjungi produsen furnitur asal Banyuwangi, PT Warisan Eurindo. Ia menilai, Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing produk furnitur Indonesia di pasar global. Mendag Busan pun mengapresiasi komitmen PT Warisan Eurindo yang telah menerapkan SVLK sebagai bukti penggunaan bahan baku unggulan dari sumber legal dan terverifikasi.
“Produk furnitur PT Warisan Eurindo yang berkualitas tinggi ini terbuat dari kayu jati dan sudah mempunyai sertifikat SVLK untuk membuktikan produk-produknya ramah lingkungan. SVLK menjadi bekal penting dalam menjaga daya saing produk-produk furnitur kita di pasar global yang mendukung prinsip penggunaan kayu legal dan terverifikasi,” ujar Mendag Busan.
Mendag Busan menegaskan, pemerintah terus mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan dan menjaga konsistensi ekspor. Salah satu pendekatannya dilakukan dengan mendatangi perusahaan secara langsung untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kendala yang dihadapi sehingga dukungan yang diberikan dapat disesuaikan, termasuk melalui fasilitasi promosi.
Sementara itu, Mendag Busan mengajak para eksportir furnitur Indonesia untuk berpartisipasi pada pameran TEI ke-41. TEI Tahun ini akan memiliki area pameran khusus furnitur untuk menunjukkan keunggulan Indonesia dalam memproduksi produk furnitur berbahan baku lokal seperti rotan dan jati. “Kami ingin menunjukkan furnitur dari rotan dan jati Indonesia berkualitas tinggi yang bahan dan produksinya memang berasal dari kita,” ungkap Mendag Busan.
PT Warisan Eurindo berdiri sejak 1989 dan kini memiliki fasilitas produksi di Bali dan Banyuwangi. Perusahaan ini memproduksi furnitur dan dekorasi rumah (home decor) untuk pasar Asia, Amerika, dan Eropa. Fasilitas produksi di Banyuwangi memiliki kapasitas produksi rata-rata 3.065 m³ per tahun. PT Warisan Eurindo didukung sekitar 490 karyawan yang terdiri atas perajin, desainer, dan manajemen.
Direktur PT Warisan Eurindo, Matthew Mater, menyampaikan, PT Warisan Eurindo memproduksi furnitur pesanan berkualitas tinggi untuk sektor perhotelan. Dalam proses produksinya, perusahaan menggunakan kayu jati yang diperoleh dari Perum Perhutani serta mendukung penerapan SVLK sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mempromosikan kualitas furnitur Indonesia di pasar global.
--selesai--