Melodi di Balik Jeruji: Saat Sangkar Lokal Jadi Mahakarya Ekonomi Rakyat
Jakarta, 7 Mei 2026 – Di sudut lapangan Kementerian Perdagangan, Minggu, (3/5), perhatian Menteri Perdagangan Budi Santoso tertambat pada detail ukiran halus di sebuah pengait sangkar kayu. Di tengah riuh rendah Festival Lomba Burung Berkicau, deretan kurungan itu tampak lebih menyerupai instalasi seni daripada sekadar perlengkapan hobi.
Bagi sebagian orang, sangkar adalah wadah. Namun, bagi Nurhasanah Dewi, setiap bilah bambu dan ukiran kayu tersebut adalah manifestasi ketekunan perajin lokal yang ia bawa dari kiosnya di Pasar Pramuka, Jakarta. Melalui Kios Fortuna, Nurhasanah menjadi jembatan bagi karya-karya tangan dari Bandung, Semarang, hingga Sidoarjo untuk menemui para pemiliknya. Berbagai pilihan jenis sangkar, baik sangkar ‘mentahan’ yang natural hingga siap pakai, tersedia di kiosnya.
Nurhasanah memahami bahwa di dunia kicau mania, sangkar adalah identitas. Tidak hanya bentuknya yang beragam, setiap sangkar dibuat presisi mengikuti karakter dan jenis sang burung agar mereka merasa nyaman. “Burung murai sangkarnya seperti ini, sedangkan cucak hijau berbeda. Ada standarnya masing-masing,” kata Nurhasanah.
Nurhasanah mengaku merasakan lonjakan minat masyarakat terhadap hobi burung dalam tiga tahun terakhir. Naiknya tren tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan perlengkapan burung, termasuk sangkar burung. Kini, kios Fortuna tidak lagi hanya melayani pelanggan di Jakarta, tetapi telah menjangkau pehobi di Batam hingga Medan.
“Tiga tahun belakangan, minat terhadap burung semakin meningkat. Sekarang, dengan semakin banyaknya orang yang tertarik dengan pelestarian alam, tren burung kicau mania juga semakin semarak. (Hal) ini pengaruh sekali (terhadap penjualan),” ujar Nurhasanah.
Nurhasanah berharap pemerintah dapat terus mendukung pelaku usaha yang bergerak di ekosistem hobi sepertinya. “Saya berharap pemerintah memperhatikan pelestarian alam, perdagangan dan para perajinnya sehingga seluruh siklusnya dapat berjalan dengan lancar dan baik,” ujar Nurhasanah.
Tren burung kicau yang semakin berkembang di dalam negeri berdampak baik bagi usaha yang Nurhasanah jalankan. Namun, ia mengaku menghadapi tantangan dalam penjualan ke luar negeri. Menurutnya, pengiriman ke luar negeri butuh biaya pajak yang tinggi. “Kesulitan kami saat ini kalau mau ke luar negeri, pajaknya terlalu tinggi,” ujar Nurhasanah.
Festival burung kicau dalam ekosistem hobi menunjukkan upaya mendorong ekonomi nasional dimulai dari hal paling dekat dengan masyarakat seperti hobi burung berkicau. Mendag Busan menilai, hobi burung berkicau adalah mesin ekonomi rakyat yang nyata. Ia melihat adanya efek domino yang tercipta dari setiap gantangan yang digelar. “Kalau lomba burung kicau semakin ramai, maka dampaknya adalah peternak semakin banyak, begitu juga pengembangbiakan, pembuat sangkar, pabrik pakan, dan penjual burungnya. Kami ingin nilai ekonomi dari hobi burung dapat terus meningkat,” jelas Mendag Busan.
Festival hari itu pun menjadi saksi, bahwa di balik indahnya suara burung yang juara, ada ribuan tangan perajin lokal yang sedang memahat harapan demi ekonomi nasional yang lebih kuat.
--selesai--