Search

Dengarkan Berita Ini

Kemendag Perkuat Strategi Amankan Pasar Ekspor Baja ke Uni Eropa dan Inggris

Kabupaten Tangerang, 17 Oktober 2026 – Kementerian Perdagangan terus memperkuat strategi mengamankan akses pasar ekspor nasional di tengah penyesuaian tarif dan kuota impor produk baja yang diterapkan Uni Eropa (UE) dan Inggris. Langkah ini penting untuk mempertahankan daya saing dan keberlanjutan ekspor baja Indonesia ke Eropa.

Upaya tersebut menjadi pokok pembahasan dalam seminar bertajuk “Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris: Strategi Amankan Pasar Ekspor Indonesia” yang merupakan rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten pada Jumat (16/10).

Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia Kemendag, Dina Kurniasari, menekankan pentingnya memahami perubahan kebijakan mitra dagang sebagai fondasi perumusan strategi ekspor. Menurutnya, regulasi baru seperti tarif, kuota, hingga Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah dan swasta untuk memastikan industri baja Indonesia tetap unggul di pasar global.

“Dalam beberapa tahun terakhir, negara mitra makin aktif menerapkan perlindungan industri domestik sebagai respons atas perubahan iklim dan kelebihan kapasitas produksi. Pemerintah terus mengedepankan diplomasi dan negosiasi dengan UE dan Inggris untuk memperjuangkan kepentingan ekspor Indonesia. Di sisi lain, industri dalam negeri perlu mempersiapkan langkah antisipasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan perubahan kebijakan,” ungkap Dina.

Atase Perdagangan RI di Jenewa, Swiss, Ghanna Wivanius, menekankan, pengamanan akses pasar Indonesia dilakukan melalui dua jalur utama, yaitu perundingan multilateral di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan pendekatan bilateral melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-UE (I-EU CEPA). Hal utamanya mencakup perjuangan alokasi kuota khusus, kompensasi yang adil, serta perlindungan komitmen tarif nol persen.

“Upaya perundingan ini harus berjalan beriringan dengan penguatan daya saing industri dalam negeri dan diversifikasi ekspor ke pasar potensial lain seperti Timur Tengah, Asia Selatan, dan ASEAN,” ungkap Ghanna.

Sementara itu, Atase Perdagangan RI di London, Inggris, Ayu Siti Maryam, menyampaikan bahwa kebijakan impor baja Inggris membuka tantangan sekaligus peluang bagi eksportir Indonesia. Meski potensi pasar Inggris besar dengan nilai impor besi dan bajanya yang mencapai USD 7,02 miliar pada 2025, Indonesia belum memperoleh tarif khusus sehingga harus bersaing dengan negara lain dalam memanfaatkan kuota residual melalui mekanisme first come, first served. Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Ayu menyarankan eksportir mengatur jadwal pengiriman sejak awal kuartal, memanfaatkan subkuota produk hot-rolled coil (HRC), serta memenuhi ketelusuran bahan baku dan proses produksi.

“Optimalisasi pemanfaatan kuota, penguatan diplomasi bilateral, serta peningkatan kepatuhan terhadap persyaratan pasar menjadi kunci penting untuk menjaga daya saing ekspor baja Indonesia ke Inggris. Melalui koordinasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha, peluang pasar yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Ayu.

Narasumber berikutnya adalah Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara. Ia menekankan pentingnya penguatan daya saing dan kepastian akses pasar di tengah penyesuaian regulasi global. “Antisipasi terhadap perubahan tarif dan kuota harus dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, pemahaman ketentuan pasar, serta perluasan tujuan ekspor. Langkah ini krusial agar industri baja nasional tidak hanya mampu mempertahankan pasar utama, tetapi juga responsif dalam menangkap peluang alternatif,” ungkap Harry.

Salah satu pelaku usaha yang menjadi peserta seminar adalah Muhammad Raim. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika kebijakan perdagangan serta dampaknya terhadap ekspor. “Materi yang disampaikan sangat jelas dan membuka wawasan kami tentang tantangan ekspor. Informasi ini membantu kami menentukan arah strategi industri di tengah persaingan pasar global,” ujarnya.

 

 

   


--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers DITJENPPI