Search

Dengarkan Berita Ini

Kemendag Dorong Modest Fashion Indonesia Tembus Pasar Global Lewat IN2MOTIONFEST X JMFW 2026

Jakarta, 18 Oktober 2026 – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan, fesyen Indonesia, termasuk produk modest fashion, bukan sekadar produk pakaian semata, tetapi memiliki makna penuh arti yang lahir dari kekayaan budaya Indonesia. Inilah yang membuat modest fashion Indonesia dapat dikenal luas hingga mancanegara. Hal ini disampaikannya dalam pagelaran Parade Fesyen ke-15 IN2MOTIONFEST X JMFW 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10).

"Saat berbicara mengenai fesyen Indonesia, kita tidak hanya berbicara mengenai pakaian. Di balik sebuah karya fesyen, terdapat cerita mengenai budaya, keterampilan, kreativitas, serta perjalanan panjang para pelaku usaha dalam menghasilkan produk yang bernilai. Indonesia memiliki kekayaan yang menjadi keunggulan tersendiri. Batik, tenun, kebaya, serta berbagai kekayaan tekstil dari berbagai daerah bukan hanya indah, tetapi juga memiliki karakter dan cerita yang membedakan produk kita dengan produk dari negara lain,” ujar Wamendag Roro.

Menurutnya, peluang produk modest fashion Indonesia di tingkat global makin terbuka. State of the Global Islamic Economy Report 2025/26 mencatat, belanja konsumen muslim dunia untuk pakaian dan alas kaki mencapai USD 347 miliar pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar USD 444 miliar pada 2029. Adapun negara-negara yang dinilai sebagai pasar potensial mencakup wilayah Timur Tengah, seperti Iran, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.

Di tengah peluang tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada sektor modest fashion dalam Global Islamic Economy Indicator 2025. Posisi ini menjadi pengakuan sekaligus tanggung jawab untuk terus menghadirkan karya yang memiliki kualitas, karakter, dan identitas Indonesia. 

Lebih lanjut Wamendag Roro menjelaskan, pasar global memberikan peluang besar, tetapi persaingannya juga makin ketat. Oleh karena itu, keunggulan Indonesia harus terus ditingkatkan melalui perpaduan antara kreativitas, kualitas, dan kekuatan identitas budaya. 

Di samping itu, keberhasilan industri fesyen Indonesia tidak akan dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi banyak pihak, mulai dari pemerintah, desainer, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga masyarakat sebagai pengguna produk Indonesia.


“Yang perlu kita lakukan bersama yaitu memastikan agar produk fesyen Indonesia dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Tidak hanya menjadi kebanggaan di dalam negeri, fesyen Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari konsumen internasional sehingga turut memperkuat posisi Indonesia dalam industri fesyen global,” ujar Wamendag Roro.

Dalam kesempatan ini, Wamendag Roro juga tampil sebagai muse dari salah satu desainer yang ikut dalam pagelaran fesyen JMFW. Mengenakan pakaian Batik Jambi Berkah karya Rifda Rusli, Wamendag Roro berjalan di atas panggung memperagakan busana yang memadukan keindahan motif tradisional Jambi dengan sentuhan desain modern yang elegan dan berkarakter.

Turut hadir sebagai muse beberapa Wakil Menteri dan tokoh wanita Indonesia, di antaranya Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Stella Christie; Ketua Persatuan Istri Anggota DPR RI, Raden Euis Handayani Dasco; Penasehat DWP Kementerian Perdagangan Danti Budi Santoso; Penasehat DWP Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Tina Astari Maman Abdurrahman; serta Penasehat DWP Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sri Suparni Bahlil.

Kehadiran para Wakil Menteri dan tokoh wanita sebagai muse ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi nyata pemerintah terhadap para desainer dan pelaku usaha, tetapi juga merupakan wujud dukungan penuh dalam mempromosikan serta memajukan karya-karya terbaik industri modest fashion tanah air ke kancah internasional.

Salah satu peserta pameran tahun ini, perwakilan Dian Pelangi, Ahmad Sazili menyatakan, antusiasme masyarakat terhadap produk fesyen muslim nasional terus meningkat. Perkembangan pasarnya pun sangat positif, dengan konsumen yang menyukai gaya fesyen fleksibel serta santai. Dengan perkembangan tersebut, setiap pelaku usaha dituntut untuk terus berkreasi dan menonjolkan ciri khas masing-masing guna menangkap peluang pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

“Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan para desainer dan jenama lokal dapat terus bertukar ide, memahami preferensi konsumen modern, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional secara berkelanjutan dan memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pusat fesyen muslim dunia,” tutup Ahmad.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers