Search

Dengarkan Berita Ini

Jejak Wastra Dots Indonesia, Dari Kurasi Kemendag Menembus Etalase Ritel Modern

Jakarta, 31 Juli 2026 – Dengan penuh ketelitian, Eka Adrianie merapikan setiap lipatan pada busana, kamisol, dan kain-kain lilitnya. Busana warna-warni dari kain-kain wastra bercorak etnik yang ia produksi itu berjejer manis di etalase, siap menarik perhatian pengunjung pusat perbelanjaan. Pada Kamis, 9 Juli 2026, Eka ada di Metro Department Store Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat. Hari itu menjadi debut penting. Jenama wastra yang ia besarkan, yaitu Dots Indonesia, perdana dipajang di ritel modern.

Bagi Eka, kehadiran Dots Indonesia di Metro menjadi tonggak dalam perjalanan usaha yang ia bangun sejak 2019. Baginya, ini bukan sekadar menambah satu rak busana bernuansa lokal di toko ritel. Lebih dari itu, justru ada kesempatan yang terbuka untuk memperkenalkan wastra Nusantara kepada pemiliknya sendiri, yaitu masyarakat Indonesia.

Kesempatan itu hadir melalui program kolaborasi Kementerian Perdagangan bersama Metro Department Store. Kolaborasi tersebut memungkinkan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hasil kurasi Kemendag untuk memperluas akses pasar melalui jaringan ritel modern. Dots Indonesia menjadi salah satu UMKM fesyen yang diusung Kemendag dalam kurasi tersebut bertepatan dengan penandatanganan kerja sama kedua pihak pada 9 Juli 2026.

Bagi Eka, perjalanan Dots Indonesia berawal dari pengalaman pribadinya yang merasa pilihan busana batik untuk bekerja masih didominasi model yang konvensional. Selain itu, busana yang ada saat itu ia nilai kurang nyaman dikenakan dalam berbagai aktivitas.

“Awalnya, saya berusaha mendesain batik yang menurut saya nyaman dipakai untuk bekerja, tetapi tetap cocok dikenakan saat acara kasual atau sekadar hangout. Saya buat baju sesuai keinginan saya. Ternyata teman-teman menilai desainnya berbeda dan mulai meminta dibuatkan juga. Dari situlah semuanya bermula,” kenang Eka.

Dari kebutuhan sederhana itulah Dots Indonesia lahir. Jenama tersebut berkembang seiring waktu dan saat ini percaya diri mengangkat konsep wastra kontemporer yang memadukan kekayaan tekstil Nusantara dengan desain modern. Dots Indonesia juga dikenal melalui berbagai teknik fabric manipulation yang sebagian besar dikerjakan secara manual oleh para artisan lokal. Setiap koleksi tidak hanya menawarkan nilai estetika, tetapi juga mencerminkan ketelitian, keterampilan, dan keaslian karya tangan para perajin Indonesia.

Nilai tersebut diperkuat dengan komitmen terhadap keberlanjutan. Untuk mengurangi limbah tekstil, sisa-sisa kain dari proses produksi dimanfaatkan kembali menjadi berbagai aksesori dan elemen dekoratif. Eka juga menggandeng para artisan lokal dalam proses produksi. Ia juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Depok untuk memberikan pelatihan keterampilan seperti memayet kepada para perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga. Melalui pelatihan, mereka dapat mengerjakan sebagian proses fabric manipulation Dots Indonesia dari rumah. Strategi ini membantu para perempuan memperoleh tambahan penghasilan dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Perjalanan Dots Indonesia bersama Kemendag dimulai sejak 2024 ketika jenama tersebut lolos kurasi Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW). Dari situ, Dots Indonesia memperoleh kesempatan menampilkan koleksinya dalam peragaan busana sekaligus membuka stan penjualan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Penjualan produk tercatat baik selama pameran berlangsung. Keyakinan Eka semakin kuat untuk terus mengembangkan jenamanya.

Keberhasilan Dots Indonesia di JMFW 2024 membuka jalan bagi jenama ini untuk mengikuti fasilitasi Kemendag berikutnya, yakni dikurasi untuk bisa bergabung dengan jaringan Metro Department Store. Hasilnya, Dots Indonesia dinyatakan memenuhi standar untuk bergabung dengan Metro Department Store. “Proses kurasinya cukup detail. Kami diminta mempresentasikan konsep jenama, membawa sampel produk, lalu semuanya diperiksa satu per satu dari sisi kualitas maupun desain,” ujar Eka.

Menurut Eka, kehadiran Dots Indonesia di Metro Department Store memungkinkan adanya ruang perkenalan antara wastra dan masyarakat. Pengalaman melihat, menyentuh, dan mencoba langsung produk tidaklah tergantikan. Proses ini menjadi bagian penting dalam memahami kualitas kain serta nilai di balik setiap proses pembuatannya.

“Saya percaya keberadaan toko fisik atau ritel masih sangat penting. Walaupun sekarang tren belanja sudah bergeser ke daring, pelanggan tetap membutuhkan pengalaman melihat, menyentuh, dan mencoba produk secara langsung sebelum akhirnya percaya dan membeli baik di toko maupun di lokapasar (marketplace),” tambah Eka.

Di balik setiap helai busana Dots Indonesia yang ditata rapi, tersimpan perjalanan panjang sebuah jenama lokal yang tumbuh dari ide sederhana. Jenama ini terus melangkah hingga mendapat tempat di salah satu jaringan toko serba ada (department store) terkemuka di Indonesia. Dukungan Kemendag menjadi langkah penting dalam perjalanannya memperluas pasar.

“Saya berharap, semakin banyak orang mengenal wastra Indonesia melalui produk kami. Semakin luas pasar yang terbuka, semakin banyak pula artisan dan komunitas yang bisa kami libatkan dalam proses produksi. Jadi, manfaatnya dirasakan oleh Dots Indonesia sekaligus masyarakat yang tumbuh bersama kami,” pungkas Eka.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers