Search

Dengarkan Berita Ini

Indonesia Ingin Menjadi Mitra Strategis Belanda, Tidak Sekadar Pemasok


Kabupaten Tangerang, 15 Oktober 2026 - Dunia usaha Indonesia perlu bergerak lebih jauh dalam rantai nilai pasok, mengembangkan produk yang lebih kompetitif, serta berpartisipasi lebih aktif dalam jaringan produksi internasional. Untuk itu, perdagangan perlu dilihat tidak hanya dari sisi nilai ekspor, tetapi juga dari kontribusinya terhadap peningkatan kapasitas industri, inovasi, dan penguatan kemampuan produksi nasional.

“Kami berupaya memastikan partisipasi Indonesia dalam perdagangan internasional, menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian kita, sekaligus membuka peluang baru untuk kerja sama dengan mitra-mitra kita, termasuk dari Belanda,” ujar Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri pada Forum Bisnis Indonesia-Belanda bertema “From Sourcing to Partnership” dalam gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10).

Indonesia dan Belanda memiliki hubungan ekonomi yang telah terjalin lama, memiliki sejarah panjang dengan didukung jaringan bisnis yang mapan dan kekuatan yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan basis produksi yang kuat, sumber daya alam yang melimpah, sektor manufaktur yang beragam, serta makin banyaknya bisnis inovatif. Perusahaan-perusahaan Indonesia terus mengembangkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional, mulai dari produk pertanian dan pangan hingga barang manufaktur dan produk konsumen.

Sementara itu, Belanda memiliki keunggulan signifikan di bidang logistik, distribusi, teknologi maju, inovasi, dan jaringan bisnis internasional. Posisi strategisnya di Eropa juga menawarkan peluang berharga bagi perusahaan Indonesia yang ingin memperluas jangkauan ke pasar Eropa yang lebih luas. Kekuatan yang saling melengkapi ini menjadi landasan yang kokoh bagi kerja sama yang lebih mendalam.

Wamendag Roro menekankan, sifat saling simbiosisme mutualisme (melengkapi) saja, secara otomatis menciptakan daya saing. Kedua belah pihak harus mewujudkannya dalam bentuk kolaborasi yang nyata.

Bagi Indonesia, hal ini berarti melangkah lebih jauh dari peran tradisional sebagai pemasok produk dan bahan baku. Indonesia ingin berpartisipasi lebih aktif dalam rantai nilai internasional, mengembangkan produk bernilai tambah lebih tinggi, memperkuat kemampuan industri, serta membangun hubungan jangka panjang dengan pembeli dan mitra bisnis internasional.
Bagi mitra Belanda, hal ini menghadirkan peluang untuk membangun hubungan pengadaan yang andal dengan perusahaan Indonesia, sembari menjajaki kerja sama di bidang teknologi, inovasi, produksi, dan pengembangan pasar.

Wamendag Roro menyoroti perlunya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Dunia usaha perlu memahami persyaratan pasar. Mereka perlu memenuhi standar kualitas, memastikan pasokan yang konsisten, memenuhi harapan pembeli, serta membangun kapasitas untuk mempertahankan hubungan komersial jangka panjang.

Sementara itu, pemerintah dapat memfasilitasi perluasan akses pasar, memperkuat kerja sama perdagangan, dan menghubungkan pelaku usaha dengan berbagai peluang. Namun pada akhirnya, komunitas bisnislah yang mengubah peluang-peluang tersebut menjadi hubungan komersial, investasi, dan nilai ekonomi nyata.

“Indonesia dan Belanda perlu menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan pemasok, peningkatan produktivitas, penguatan aspek ketertelusuran (traceability), serta penerapan teknologi yang membuat bisnis lebih kompetitif. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat membangun kemitraan yang tidak hanya layak secara komersial, tetapi juga tangguh dan berkelanjutan,” tandas Wamendag Roro.

Pertimbangan penting lainnya yaitu perubahan lanskap rantai pasok global. Pelaku usaha di seluruh dunia makin mendiversifikasi strategi pengadaan bahan baku dan mencari mitra yang mampu menawarkan keandalan, kemampuan beradaptasi, serta nilai jangka panjang. Hal ini menghadirkan peluang penting bagi Indonesia dan Belanda untuk memperkuat kerja sama dengan memadukan kemampuan produksi Indonesia dan keahlian Belanda di bidang logistik, teknologi, serta inovasi.

Forum bisnis ini diikuti oleh sekitar 100 peserta. Salah satu peserta forum bisnis bernama Santi Rosyidah dari PT Tetra Setia Indonesia menerangkan, area pekerjaannya di bagian pengadaan (purchasing) mendorongnya mengikuti forum bisnis ini. 

“Saya merasa dekat dengan isu pengadaan sehingga mengikuti forum bisnis ini dengan harapan mencari referensi. Sejumlah forum bisnis juga akan saya datangi untuk berjejaring dan menambah relasi,” jelas Santi.
--selesai--

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers DITJENPEN