Search

Dengarkan Berita Ini

Forum Bisnis Produk Hijau di TEI ke-41, Kemendag Dorong Ekspor Penuhi Aspek Ramah Lingkungan

Kabupaten Tangerang, 20 Oktober 2026 – Kementerian Perdagangan menggelar forum bisnis bertajuk “Unlocking Green Export Opportunities: Optimalisasi Produk Environmental Goods untuk Pasar Internasional” pada Sabtu, (17/10) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City. Forum ini diikuti oleh para eksportir yang tertarik untuk mendorong ekspor produk-produk ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, membuka forum bisnis tersebut. Ia menyampaikan, perkembangan perdagangan luar negeri menuntut pelaku usaha untuk memperhatikan aspek keberlanjutan, ketelusuran rantai pasok, efisiensi penggunaan sumber daya, serta transparansi informasi mengenai lingkungan. Upaya ini menjadi penting untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses produk-produk Indonesia di pasar global.

“Melalui forum ini, Kemendag ingin memperkuat pemahaman pelaku usaha terhadap perkembangan perdagangan global sekaligus mendorong optimalisasi peluang ekspor produk ramah lingkungan di pasar global. Oleh karenanya, aturan tata kelola terkait komoditas perlu disampaikan dan dipahami oleh para pelaku usaha,” kata Tommy.

Berdasarkan data Trade Map yang diolah Kemendag, sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor kategori produk-produk ramah lingkungan (environmental goods) Indonesia mencapai USD 6,65 miliar, meningkat sekitar 59,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sementara itu, sepanjang 2024, nilai ekspor produk pada kategori tersebut mencapai USD 8,03 miliar, meningkat dari USD 7,03 miliar pada 2023. Sejumlah produk ramah lingkungan yang berkontribusi terhadap ekspor pada 2024 meliputi komponen dan aksesori kendaraan bermotor, tungku dan oven listrik untuk keperluan industri atau laboratorium, serta komponen mesin dan peralatan listrik.

Hadir empat perwakilan pemerintah, akademisi, perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, dan perwakilan dunia usaha sebagai narasumber. Pertama, yaitu Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Dewi Muliana. Ia menyampaikan strategi dan kesiapan sektor industri Indonesia menuju industri hijau. Sejumlah upaya telah pemerintah lakukan, misalnya dengan menerapkan Standar Industri Hijau (SIH), mengembangkan ekonomi sirkular, serta mendukung pembiayaan dan insentif pelaku usaha.

“Bicara industri hijau, tujuan akhirnya adalah agar sumber daya alam Indonesia berkelanjutan. Kita perlu mengurangi emisi, memperkuat ekonomi sirkular, dan memperkuat standardisasi industri agar peningkatan nilai tambah untuk sektor industri hijau ini makin besar,” ujar Dewi.

Dari kalangan akademisi, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Sri Mulatsih, menilai Indonesia memiliki iklim yang ideal untuk memproduksi dan mengekspor komoditas bernilai tinggi seperti kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, karet, dan rempah-rempah. Ia juga menyebut, sudah ada pasar yang tersedia jika Indonesia ingin menyasar perluasan ekspor produk hijau. “Dari sisi agroklimat, Indonesia sangat sesuai untuk banyak produk pertanian. Misalnya, dari sinar matahari sepanjang tahun, curah hujan yang tinggi, serta lokasi di daerah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang menjadikan tanah subur,” ujar Sri.


Sementara itu, Atase Perdagangan RI Brussels di Belgia, Lusyana Halmiati, memaparkan peluang pasar dan tantangan ekspor produk hijau di Uni Eropa. Ia juga membahas perkembangan persyaratan lingkungan yang perlu diperhatikan oleh eksportir Indonesia. “Paham hijau sudah menjadi gaya hidup di Uni Eropa. Regulasinya pun tentu makin mengarah pada keberlanjutan hijau. Calon eksportir harus memenuhi regulasi dan preferensi pasar karena buyer makin banyak meminta bukti bahwa produksi tidak berdampak buruk pada lingkungan,” ujar Lusyana.

Selanjutnya, sebagai pihak yang sudah mempraktikkan pasar ekspor hijau, Sustainability Director Cargill Indonesia, Yunita Widiastuti, menceritakan pengalamannya dan membahas strategi menembus pasar ekspor produk hijau. Yunita menyampaikan pentingnya kesiapan perusahaan dalam menyesuaikan strategi bisnis dengan kebutuhan pasar, meningkatkan daya saing produk, serta memenuhi tuntutan keberlanjutan yang makin berkembang di tingkat global. 

“Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat produk berkelanjutan, tetapi apakah klaim tersebut dapat diverifikasi, dapat ditelusuri, dapat dibuktikan dengan data, dan terlihat dampaknya di lapangan. Ketika kita berbicara mengenai kesiapan ekspor hijau, kita berbicara mengenai kesiapan seluruh sistem usaha yang ada, mulai dari sumber bahan bakunya, legalitasnya, proses produksi, sistem data, sampai kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan dan regulator,” kata Yunita.

Di sisi lain, salah satu peserta forum, Jason Sutjiawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia-Cocoa Sustainability Partnership (ASKINDO-CSP), mengapresiasi forum bisnis yang diadakan Kemendag. Menurutnya, forum ini menjadi kesempatan untuk mempromosikan produk Indonesia, baik lewat keunggulan kualitas maupun cara produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Jason berharap, Kemendag dapat mendukung perluasan pasar bagi produk-produk Indonesia, termasuk kakao.

“Kakao sudah menjadi komoditas yang diekspor dalam bentuk produk jadi. Maka, akses pasar menjadi suatu hal yang sangat penting bagi produk kakao, terutama pasar Eropa, lalu nanti ada ke Amerika, Tiongkok, juga India. Peran Kemendag untuk membuka pasar akan sangat berkontribusi besar bagi pengembangan sektor kakao,” ungkap Jason.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers DITJENDAGLU