Embusan Semangat Perjuangan dalam Perdagangan Indonesia
Jakarta, 17 Agustus 2026 – Matahari beringsut perlahan di tanggal merah, Senin, (17/8). Hari ini peringatan kemerdekaan RI. Upacara penurunan Sang Saka Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, sudah berlalu. Kini giliran lampu di jalanan dan dari berbagai gedung terus berjuang melawan senja yang makin temaram.
Di atas jalan protokol, di antara gedung-gedung tinggi, iring-iringan kendaraan hias kementerian dan lembaga meluncur dengan teguh. Patung Kuda hingga Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta Pusat menjadi rutenya. Kendaraan-kendaraan hias ini membawa semangat kemerdekaan, mengingatkan pejalan kaki bahwa perjuangan Indonesia belum selesai meski telah memproklamasikan kemerdekaan 81 tahun silam.
Salah satu kendaraan hias yang melintas ini digawangi Kementerian Perdagangan. Di atasnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso berdiri menyapa masyarakat yang memenuhi tepian jalan. Sesekali tangannya melambai, membalas sapaan warga. Mendag Busan turut mengajak masyarakat Indonesia untuk memperkuat perdagangan Indonesia.
“Mari kita wujudkan semangat kemerdekaan dengan memperkuat perdagangan Indonesia karena perdagangan yang kuat menjadi salah satu fondasi Indonesia yang maju. Untuk itu, pasar dalam negeri terus kita jaga, akses pasar ekspor terus kita buka, dan produk-produk lokal kita dorong agar semakin berdaya saing dan mampu menembus pasar global,” ujarnya.
Kendaraan tersebut melaju membawa cerita tentang perdagangan Indonesia. Cerita tentang produk dan jasa yang tumbuh di negeri sendiri, serta orang-orang yang berjuang untuk melangkah menuju pasar dunia.
Tiga program utama Kemendag terpampang nyata di badan kendaraan: Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global. Ketiganya menggambarkan upaya Kemendag mengajak pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk berjuang bersama dalam memajukan perdagangan Indonesia.
Perjuangan pertama dimulai dari rumah sendiri. Melalui Program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Kemendag terus memperkuat pasar domestik agar menjadi ruang tumbuh dan berkembangnya produk-produk Indonesia. Melalui program ini, Kemendag mendorong produk dalam negeri agar tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan, tetapi juga menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari memperluas kemitraan dengan ritel modern, memfasilitasi sertifikasi halal, hingga membuka lebih banyak ruang bagi produk lokal untuk hadir dan mengisi pasar domestik. Kokohnya pasar dalam negeri menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Perjuangan berlanjut, melalui Program Perluasan Pasar Ekspor, pemerintah berjuang untuk mengetuk pintu-pintu pasar luar negeri. Ada yang langsung terbuka lebar, ada pula yang harus diketuk berkali-kali. Di balik pintu itu, para negosiator Indonesia berjuang di meja perundingan membawa kepentingan perdagangan Indonesia. Kepentingan Indonesia diperjuangkan agar produk-produk dalam negeri mendapat akses pasar yang lebih luas.
Ketika pintu sudah terbuka, perjalanan belum selesai. Produk perlu diperkenalkan ke dunia. Pelaku usaha perlu dipertemukan dengan calon pembeli. Promosi dagang, misi dagang, hingga business matching menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dari satu pertemuan, bisa lahir percakapan. Dari percakapan, muncul ketertarikan. Dari ketertarikan, diharapkan lahir transaksi.
Perjalanan itu tidak dilakukan sendirian. Di berbagai penjuru dunia, ada 46 perwakilan dagang Indonesia yang tersebar di 33 negara. Mereka menjadi kepanjangan tangan Indonesia di pasar global yang membuka pintu, memperkenalkan produk, mencari peluang, dan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra dagang di negara tujuan.
Produk yang diperjuangkan ini tidak hanya lahir dari perusahaan besar. Banyak di antaranya tumbuh dari daerah, dari tangan pelaku usaha yang memulai usaha dengan sederhana. Dari dapur rumah, ruang kerja kecil, atau usaha yang dirintis sedikit demi sedikit.
Di sanalah cerita Dari Lokal untuk Global bermula. Produk yang semula hanya dikenal tetangga dan pelanggan sekitar, kemudian mulai mencari jalan untuk dikenal lebih jauh. Kemendag mendorong produk-produk lokal tersebut agar makin siap bersaing dan punya kesempatan menembus pasar internasional.
Jalannya tidak selalu mulus. Negara tujuan ekspor akan menegakkan standar untuk masuk ke pasar mereka. Ada selera konsumen yang perlu dipahami. Kemasan yang perlu dibenahi. Harga yang harus diperhitungkan. Tetapi, pelan-pelan, produk Indonesia naik kelas.
Akhirnya, ada pelaku usaha yang mendapat tempat di ritel modern. Ada yang bertemu pembeli dari luar negeri. Ada pula yang mencetak pengalaman pertamanya mengirim produk menyeberangi batas negara. Begitulah produk lokal memulai perjalanan panjangnya.
Matahari sudah benar-benar tenggelam ketika kendaraan hias Kemendag mendekati Bundaran HI. Lampu-lampu Jakarta makin terang. Jalanan makin ramai. Orang-orang makin memenuhi tepian jalan untuk melihat berbagai pesan perjuangan di era ini.
Dekorasi merah dan putih mendominasi pandangan. Hiasan dan ornamen kemerdekaan terpasang di sepanjang jalan. Bendera Merah Putih berkibar di antara kerumunan, sesekali tertangkap cahaya lampu yang menyala dari gedung-gedung dan kendaraan.
Di malam itu, Kemendag membawa cerita tentang produk yang tumbuh di negeri sendiri. Tentang pelaku usaha yang berani mencoba. Tentang pasar yang perlahan dibuka. Tentang pintu-pintu pasar dunia yang diketuk berkali-kali. Semua itu membawa semangat perjuangan yang diproklamasikan 81 tahun lalu, yaitu untuk mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
--selesai--