Dorong Ekspor Rotan dan Batik Surakarta, Wamendag Roro Pantau Kesiapan UMKM Jelang TEI 2026
Surakarta, 4 September 2026 – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan dalam memperkuat kapasitas dan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berorientasi ekspor. Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro saat melakukan kunjungan kerja di Sukoharjo dan Surakarta, Jawa Tengah, pada hari Jumat (4/9). Kunjungan dilakukan guna meninjau langsung kesiapan serta potensi ekspor produk industri kreatif lokal menyongsong ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Rangkaian kunjungan kerja dimulai dari melihat secara langsung proses produksi sentra inovasi rotan Reka Design di Desa Trangsan, Sukoharjo, yang dikenal sebagai Desa Devisa Rotan. Produk furnitur berbahan rotan dari Reka Design telah sukses menembus pasar Eropa dan Amerika. Menurut Wamendag Roro, capaian dari Reka Design jauh melampaui sekadar angka transaksi, tetapi secara signifikan turut meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat sekitar.
“Kami melihat Reka Design dan UMKM di Desa Devisa Rotan ini benar-benar menghadirkan efek pengganda yang positif, misalnya dengan merangkul ratusan perajin yang tersebar di seluruh Desa Trangsan, menghadirkan lapangan kerja bagi penduduk setempat, serta penyerapan bahan baku rotan. Selain itu, dari segi desain, UMKM di sini juga inovatif dan memiliki daya saing tinggi yang siap memenuhi standar pasar mancanegara,” jelas Wamendag Roro.
Lebih lanjut, Wamendag Roro menjelaskan pentingnya regenerasi keahlian perajin, sehingga kearifan lokal ini dapat terus dipertahankan. Selain itu, Wamendag menilai pentingnya menjaga kelancaran rantai pasok industri rotan dengan semangat kerja sama lintas daerah untuk menjamin pasokan bahan baku. Produk rotan Indonesia dinilai telah memiliki ciri khas yang kuat di pasar global, sehingga ketersediaan bahan baku antarwilayah harus saling menyokong demi menjaga reputasi dan keberlanjutan ekspor nasional.
Wamendag Roro juga menyampaikan bahwa peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan produk-produk unggulan daerah yang akan ditampilkan pada ajang TEI 2026 serta mendorong adanya inovasi, sehingga produk yang dihadirkan menjadi kian kompetitif. “Pada gelaran TEI 2025 lalu, pameran ini berhasil mencatatkan kehadiran hingga 8.045 buyer dari berbagai negara. Hal ini membuktikan peran strategis TEI sebagai pameran dagang terbesar Indonesia dalam mendongkrak angka ekspor Indonesia. Kemendag akan mengupayakan capaian tahun ini pun dapat membanggakan,” ungkap Wamendag Roro.
Suryanto selaku pemilik dari Reka Design optimistis keikutsertaan Reka Design bersama HIPMI Surakarta di ajang TEI 2026 akan efektif memperluas pasar ekspor mereka dan membuat popularitas produk rotan kian meningkat sehingga diperhitungkan para buyer internasional. Selain itu, Suryanto juga menyatakan ketertarikannya untuk memanfaatkan berbagai pendampingan dan fasilitasi dari Kemendag, salah satunya yaitu Indonesia Design Development Center (IDDC) untuk terus mengembangkan desain produknya.
Bertolak dari Reka Design, Wamendag Roro mengunjungi sentra kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Kedua kawasan ini memiliki rekam jejak sejarah yang kuat sebagai pilar industri tekstil tradisional Surakarta. Saat ini, para perajin di Laweyan dan Kauman terus bertransformasi mengombinasikan warisan budaya luhur dengan strategi pemasaran serta desain modern.
Sejumlah UMKM batik di kawasan Laweyan dan Kauman tercatat merupakan peserta aktif TEI yang telah berhasil membukukan kemitraan dagang berkelanjutan dengan para buyer dari kawasan Asia Tenggara, Jepang, hingga Eropa. "Keikutsertaan para perajin batik Surakarta di ajang TEI membuktikan bahwa warisan budaya lokal dapat ditransformasikan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Kami ingin memastikan keberlanjutan partisipasi mereka di TEI guna memperluas jangkauan pasar ekspor mereka," tegas Wamendag Roro.
Pemilik Toko Sudagaran Laweyan yang dikunjungi oleh Wamendag Roro, Hapsari Chandra Dewi menjelaskan bahwa selain menjual batik tulis premium dengan corak khas Surakarta, mereka tengah menyiapkan peluncuran jenama baru yang menyasar ke generasi muda. “Kami membuat jenama kedua, yaitu Kultur Jawa yang menargetkan pembeli muda dengan selera warna-warna lebih cerah dan dengan model pakaian yang lebih kasual. Ini adalah cara kami untuk tetap memopulerkan batik agar terus diterima dan dicintai segala kalangan,” ucap Hapsari.
Untuk memaksimalkan penyerapan produk UMKM lokal di pasar global pada TEI 2026, Kementerian Perdagangan mengoptimalkan peran perwakilan perdagangan, baik Atase Perdagangan maupun Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Dalam rangkaian TEI, Kemendag akan memfasilitasi berbagai business matching dan business pitching agar pelaku usaha lokal dapat terhubung langsung dengan calon pembeli potensial.
“Kami sangat mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai forum bisnis yang dilaksanakan dalam rangkaian TEI 2026. Tujuan akhir dari seluruh rangkaian pendampingan dan partisipasi pameran ini bukan semata mencetak angka transaksi bisnis, melainkan untuk memastikan dampak ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat daerah serta mendorong kesejahteraan para perajin lokal secara luas,” tandas Wamendag Roro.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani menuturkan bahwa akan ada delapan UMKM dari Surakarta yang berpartisipasi di TEI 2026. “Produk yang akan ditampilkan di TEI 2026 didominasi oleh batik karena kami ingin fokus pada pelestarian batik, khususnya untuk memperlihatkan bahwa batik tulis terus kami kembangkan dengan serius. TEI merupakan dukungan yang luar biasa dari Kemendag bagi kami di pemerintah daerah untuk mengenalkan dan mengangkat citra produk yang berbasis kultur asli setempat,” tutup Astrid.
---selesai---
Ni Made Kusuma Dewi
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Perdagangan
Email:
pusathumas@kemendag.go.id