Ciptakan Transaksi Global yang Lebih Efisien, Wamendag Roro Ajak Pelaku Usaha Optimalkan Local Currency Transaction (LCT)
Kabupaten Tangerang, 16 Oktober 2026 – Untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global, Kementerian Perdagangan mendorong optimalisasi skema Local Currency Transaction (LCT). Skema ini memungkinkan terjadinya transaksi perdagangan dengan menggunakan mata uang lokal negara-negara mitra tanpa perlu terlebih dahulu dikonversi dalam mata uangketiga. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan daya saing produk melalui fasilitasi perdagangan yang kian efisien.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri pada Talkshow and Sharing Session bertajuk "Local Currency, Global Opportunity: Unlocking Efficient, Resilient, and Connected Cross-Border Transactions" yang diselenggarakan sebagai rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (16/10). Acara ini merupakan hasil kerja antara Kementerian Perdagangan dengan Bank Indonesia sebagai regulator utama LCT.
"Perdagangan luar negeri merupakan salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global, kita perlu terus memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing produk, serta menghadirkan fasilitasi perdagangan yang makin efisien. Salah satu aspek penting yang perlu kita dorong bersama yaitu kemudahan pembayaran dan penyelesaian transaksi melalui skema LCT," ujar Wamendag Roro.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A.M Djiwandono menekankan bahwa perbedaan mata uang antarnegara seharusnya tidak menjadi penghalang untuk memperluas jangkauan pasar di tataran global.
“Pemanfaatan LCT secara signifikan memperlihatkan pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, Bank Indonesia berkomitmen untuk memastikan kesiapan infrastruktur perluasan LCT sehingga pelaku usaha makin mengenal dan menjalankan transaksinya menggunakan LCT,” jelas Thomas.
Skema LCT ini telah dirintis sejak tahun 2018 dan saat ini telah mencakup enam negara mitra utama, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Persatuan Emirat Arab (PEA). Ke depan, implementasi kerja sama ini direncanakan akan diperluas ke Singapura dan India.
Pemanfaatan LCT oleh dunia usaha menunjukkan peningkatan signifikan. Pada periode Januari–Agustus 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai ekuivalen USD 49,42 miliar dengan rata-rata 20.850 nasabah per bulan. Angka ini melonjak tajam dibandingkan capaian sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan nilai transaksi sebesar ekuivalen USD 25,74 miliar dengan rata-rata 9.720 nasabah per bulan.
Meski pertumbuhannya pesat, Wamendag menilai potensi pemanfaatan LCT masih terbuka sangat luas jika dibandingkan dengan total nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan seluruh negara mitra. Oleh karena itu, ia mengajak para eksportir dan importir untuk berkonsultasi dengan bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) guna memahami mekanisme dan manfaat LCT bagi operasional bisnis mereka.
Salah satu pemateri hari ini, Head of Finance Department PT Obsidian Stainless Steel (OSS), Wang Qi menjelaskan signifikansi penggunaan LCT dalam operasional PT OSS. “Perusahaan kami menjalankan industri nikel dan baja nirkarat yang berpusat di Indonesia di mana sebagian besar pengadaan lokal dan biayaoperasional harian kami dibayarkan menggunakan mata uang Rupiah. Namun, penjualan kami sangat bergantung pada permintaan pasar Tiongkok dengan arus komersial dan pendanaan lintas negara yang ditransaksikan menggunakan Yuan (CNY). Dengan adanya LCT, pembayaran menjadi lebih mudah dan menguntungkan sebab tidak harus dikonversi lebih dahulu ke USD. Hal ini membuat keseluruhan proses lebih cepat dan efisien,” tutur Wang Qi, salah satu pemateri hari ini.
Melengkapi pembahasan, hadir pula Direktur Departemen Internasional Bank Indonesia, Irfan Hendrayadi; Atase Perdagangan RI Beijing, Junita Syartika; dan VP International Payment Specialist, Bank Central Asia (BCA), Syiska D. Ventia. Setiap narasumber membagikan informasi sesuai dengan cakupan bidang masing-masing, baik dari perspektif Bank Indonesia selaku Bank Sentral atau regulator utama maupun perspektif praktik sukses oleh perbankan serta perwadag yang telah konsisten memfasilitasi skema LCT.
Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan peserta, baik dari kalangan pemerintah, pelaku usaha, hingga perbankan. Salah satu peserta, Tari Alifiah dari salah satu bank swasta di Indonesia mengaku banyak insight menarik yang didapatkan dari kegian ini. “Informasi yang dibagikan dalam forum ini membukakan wawasan tentang tren terkini dalam transaksi lintas negara. Selain itu, kami dari perbankan juga dapat menangkap urgensi pengembangan kesiapan infrastruktur LCT di perusahaan kami sendiri,” ucap Tari.
Di akhir sambutannya, Wamendag Roro menyampaikan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan dalam penguatan ekosistem LCT. Wamendag Roro juga kembali mempertegas bahwa Trade Expo Indonesia merupakan momentum yang sangat tepat untuk memperluas pemanfaatan LCT. “TEI mempertemukan pelaku usaha, perbankan, dan pemerintah. Forum ini perlu dimanfaatkan dengan optimal menjadi jembatan antara kebijakan yang kita bangun dengan kebutuhan nyata dunia usaha," tutup Wamendag Roro.