Cerita Kelinci dan Buaya: Cara Seru Perpustakaan Kemendag Kenalkan Literasi Perdagangan di Hari Anak Nasional
Jakarta, 23 Juli 2026 – Ruang Perpustakaan Kementerian Perdagangan yang biasanya tenang mendadak hangat dan riuh oleh tawa riang puluhan anak. Nyanyian, tepuk tangan, dan sorak-sorai balita memenuhi ruangan saat sebuah boneka buaya sedang beraksi menyapa mereka dalam pertunjukan dongeng tangan yang interaktif.
Momen hangat ini merupakan bagian dari gelaran “Dongeng Literasi Anak (Dolan) di Perpus” yang diadakan di Perpustakaan Kemendag pada Rabu, (22/7), dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli. Sebanyak 25 anak-anak usia 2—5 tahun, dari Taman Asuh Ramah Anak (TARA) "Little Star Club" Kemendag serta putra-putri dari para pegawai Kemendag, tampak antusias mendengarkan dongeng yang dibawakan.
Tak sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi cara edukasi dini yang dikemas sederhana dan menarik untuk anak-anak. Melalui fabel bertema perdagangan, anak-anak diajak menyimak kisah seekor kelinci yang membeli mainan dari buaya. Sang buaya mengaku barang dagangannya itu masih dalam kondisi bagus. Namun, sesampainya di rumah, si kelinci menyadari mainan tersebut ternyata telah rusak. Lewat alur cerita sederhana ini, pesan penting tentang kejujuran dalam berdagang serta ketelitian saat membeli barang disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Sesi dongeng tersebut dibawakan secara apik oleh Valentin Danuwirya (Valen), pendongeng dari Komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Menurut Valen, metode bercerita menjadi salah satu cara untuk menanamkan pemahaman awal tentang gagasan yang ingin disampaikan kepada anak-anak usia dini, termasuk nilai-nilai ekonomi dan perlindungan konsumen.
“Dari dongeng, anak-anak bisa menjadi mawas diri. Ketika membeli sesuatu, anak-anak jadi bisa cek dulu apakah barang itu sudah baik, layak dibeli, dan memang dibutuhkan. Anak-anak bisa melihat bagaimana cara mempersiapkan diri untuk melakukan transaksi,” ujar Valen.
Menurut Valen, dongeng memberi ruang untuk anak-anak mengeksplorasi makna dari cerita yang mereka dengar. Dongeng yang baik mampu memberi ruang untuk berimajinasi alih-alih mendikte suatu pesan. “Kami tidak langsung menyebutkan manfaatnya apa, tetapi membiarkan anak-anak berimajinasi dengan makna yang kami selipkan di dalam setiap cerita. Anak-anak tahu banyak hal dari cerita-cerita yang ada di sekitar,” jelas Valen.
Suasana riang semakin hangat saat Menteri Perdagangan Budi Santoso hadir di tengah-tengah acara untuk berinteraksi langsung. Seorang anak dengan polosnya bertanya bagaimana cara agar bisa menjadi seperti Pak Menteri. Dengan senyum hangat, Mendag Busan menjawab ringkas, “Rajin belajar.”
Mendag Busan mengajak anak-anak yang hadir untuk gemar berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada untuk membaca dan menambah pengetahuan. “Di sini (kantor Kemendag) ada perpustakaan. Nanti anak-anak bisa baca di sini. Kalian baca ya di sini,” ajak Mendag Busan.
Apresiasi positif juga datang dari para pegawai Kemendag yang membawa buah hatinya. Tino Dhamroni, salah satu pegawai Kemendag mengungkapkan, alasannya mengikuti acara ini adalah untuk menumbuhkan minat baca sang putri sejak dini.
“Saya melihat susunan acaranya menarik, jadi saya tertarik untuk ikut. Saya juga ingin anak saya ada kesadaran untuk membaca buku. Perpustakaan Kemendag menyediakan banyak sekali buku-buku yang menarik,” ujar Tino.
Senada, Nurokhman, pegawai Kemendag yang membawa putranya berharap kegiatan edukatif semacam ini dapat terus berlanjut. “Saya berharap acara seperti ‘Dolan di Perpus’ ini bisa lebih sering diadakan,” ujar Nurokhman.
Melalui ‘Dolan di Perpus’, Perpustakaan Kemendag berhasil menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan. Lewat kisah sederhana tentang Kelinci dan Buaya, benih-benih pemahaman tentang literasi perdagangan dan budaya membaca telah ditanamkan sejak usia dini.
--selesai--