Campuspreneur Gandeng IPB University, Mendag Busan Ajak Mahasiswa Jadi Eksportir Muda
Bogor, 13 Juni 2026 – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak mahasiswa dan civitas academica untuk bergabung dalam Program Campuspreneur yang diinisiasi Kementerian Perdagangan. Ia menilai, lulusan kampus memiliki banyak kesempatan untuk menjadi pelaku usaha. Selain itu, peluang ekspor Indonesia masih terbuka lebar di tengah berbagai tantangan global. Mendag Busan pun mendorong mahasiswa untuk menjadi pelaku usaha dan eksportir muda.
Hal ini disampaikan Mendag Busan dalam “Campuspreneur 2026: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor” di IPB University, Bogor, Jawa Barat, hari ini, Jumat (12/6). Turut hadir Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet. Mendampingi Mendag Busan, yaitu Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi dan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono.
“Kami ingin mahasiswa setelah lulus tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi pengusaha dan eksportir. Program Campuspreneur pun bersinergi dengan perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan, pendampingan, hingga penjajakan bisnis (business matching). Dengan demikian, terjalin sinergi menjaring produk potensial dari kampus untuk mengisi pasar dalam negeri maupun menembus ekspor,” ujar Mendag Busan.
Mendag Busan menambahkan, peserta Campuspreneur terpilih juga akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan digelar pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Kemendag juga menyiapkan ruang promosi khusus bagi peserta Campuspreneur serta fasilitasi dalam program pitching atau business matching agar produk-produk inovatif hasil karya mahasiswa dapat bertemu langsung dengan ribuan pembeli mancanegara.
Di hadapan para mahasiswa, Mendag Busan pun menjelaskan sejumlah hasil fasilitasi ekspor yang dijalankan Kemendag. Contohnya, sepanjang 2025, Program Usaha Mikro Kecil Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) berhasil mencatatkan transaksi ekspor UMKM sebesar USD 134,87 juta atau lebih dari Rp2 triliun. Sementara itu, pada periode Januari–Mei 2026, nilai transaksinya telah mencapai USD 193,88 juta.
“Sebagian pelaku usaha yang telah difasilitasi merupakan eksportir baru, belum pernah menembus pasar internasional. Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha pemula, termasuk mahasiswa dan startup kampus, memiliki peluang besar untuk memasuki pasar global,” ujar Mendag Busan.
Kemendag juga konsisten membuka akses pasar ekspor melalui 46 perwakilan perdagangan RI yang tersebar di 33 negara. Selain itu, pemerintah juga mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian dagang agar produk Indonesia semakin mudah masuk ke pasar internasional.
Saat ini, Kemendag juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra dalam negeri, antara lain, PT Kereta Api Indonesia (KAI), Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), serta platform digital seperti Shopee. Upaya ini untuk memperluas pemasaran produk UMKM di dalam negeri.
Sementara itu, Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet menyambut baik pelaksanaan Program Campuspreneur. Ia menilai, program tersebut sejalan dengan visi IPB dalam mencetak sumber daya manusia yang berorientasi pada kewirausahaan.
“IPB punya visi untuk menjadi Technosocial Entrepreneur University. Kami ingin menghasilkan sumber daya manusia unggul yang berorientasi pada kewirausahaan, dan program Campuspreneur ini sangat sinergis. Kami juga akan mengintegrasikan program ini dengan kurikulum di IPB sehingga program mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti program ini bisa diakui sebagai kredit yang mendukung pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.
Mahasiswa Program Sekolah Bisnis IPB University, Febridha Putri Jusson, mengaku tertarik mengikuti Program Campuspreneur. Ia mengikuti seminar Campuspreneur hari ini, (12/6) di kampus IPB University yang menghadirkan berbagai narasumber inspiratif. “Saya merasa program ini sangat relevan dan menjadi langkah awal yang baik. Saya berharap, Campuspreneur dapat terus berlanjut karena bisa menjadi cikal bakal untuk kita mengetahui lebih lanjut tentang dunia usaha, salah satunya tata cara menjadi eksportir,” ujar Febridha.
Program Campuspreneur diluncurkan secara serentak pada 2 April 2026 dan telah diikuti oleh 19 perguruan tinggi di Indonesia. Program Campuspreneur menghubungkan mahasiswa dengan berbagai fasilitas pengembangan ekspor seperti pelatihan ekspor, kurasi produk, business matching dengan peritel modern dan calon pembeli mancanegara, hingga partisipasi dalam pameran internasional.
Lepas Ekspor Pinang Ke Bangladesh dan Maladewa
Mendag Busan juga melepas ekspor produk pinang dari PT Export Tani Nusantara ke Bangladesh dan Maladewa senilai Rp2,2 miliar. PT Export Tani Nusantara adalah perusahaan yang dikelola oleh mahasiswa-mahasiswa IPB University yang berhasil mengembangkan usaha berbasis komoditas pertanian hingga menembus pasar ekspor.
Mendag Busan mengungkapkan, keberhasilan ekspor tersebut berawal dari fasilitasi Kemendag melalui promosi dagang dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli mancanegara sejak tahun lalu. Selain berhasil menembus pasar Bangladesh dan Maladewa, perusahaan tersebut juga memperoleh transaksi ekspor baru saat mengikuti pameran dagang di Tiongkok.
“Hari ini, kami melepas ekspor produk pinang ke Bangladesh dan Maladewa. Pembeli komoditas ini diperoleh melalui fasilitasi promosi dan business matching yang dilakukan Kemendag tahun lalu. Kami harap semakin banyak mahasiswa mengikuti jejak PT Export Tani Nusantara,” ujar Mendag Busan.
CEO PT Export Tani Nusantara, Al Fiqie, mengungkapkan, dukungan Kemendag dan IPB University berperan penting dalam pengembangan usahanya, sehingga ia mampu menembus pasar ekspor.
Salah satu dukungan yang diterima adalah fasilitasi keikutsertaan dalam pameran dagang di Shanghai, Tiongkok, beberapa bulan lalu. Melalui pameran tersebut, perusahaan berhasil memperoleh sejumlah calon pembeli potensial dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan nilai transaksi mencapai Rp 33 miliar. Komoditas yang diminati meliputi biji kopi arabika, vanili, kakao, dan pinang. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Kemendag dan IPB yang selalu mendukung dalam bentuk pelatihan, pendampingan, serta akses pasar melalui business matching,” imbuh Fiqie.
--selesai--