Bukan Sekadar Tren, VersaLayer Beri “Napas Kedua” untuk Limbah Denim
Surakarta, 24 April 2026 – Di balik lemari yang kian penuh, tersimpan sisi gelap industri fesyen yang kerap luput dari mata: tumpukan limbah kain yang kian menggunung. Pakaian yang dibeli demi tren sesaat perlahan kehilangan tempat, berakhir sebagai sisa yang membebani lingkungan. Namun, di tangan Mufida Khairul Muna dan tim VersaLayer, potongan denim yang terabaikan justru menemukan “hidup keduanya.”
VersaLayer yang digagas sejak Mei 2025, oleh mahasiswi Desain Mode Universitas Sebelas Maret (UNS) ini lahir dari keresahan yang mendalam. Sebagai pelaku di industri mode, Mufida melihat betapa masifnya dampak fast fashion dari Gen Z.
“Untuk di era sekarang itu yang paling bermasalah adalah sampah, sampah dari fast fashion. Apalagi sekarang orang-orang, terutama Gen Z, banyak yang mengikuti tren. Misalnya kalau ada baju viral, langsung ingin beli,” ungkap Mufida.
VersaLayer kemudian memilih konsep upcycle. Mereka memanfaatkan limbah jeans, material yang kuat, tetapi sulit untuk diurai. Potongan denim yang robek atau tak lagi layak pakai dikumpulkan dari berbagai mitra, lalu dipilah dan diolah ulang menjadi produk dengan nilai baru.
Prosesnya tidak instan. Ada keterampilan tangan yang bertemu dengan kesadaran lingkungan di setiap jahitannya. Hasilnya adalah busana yang unik; setiap potongan memiliki karakter berbeda dan tidak seragam. Perbedaan inilah yang menjadi identitas utama produk VersaLayer.
Dari Inkubasi Kampus ke Panggung Nasional
Perjalanan VersaLayer dimulai dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Meski perjalanannya penuh tantangan, semangat mereka tidak surut. Mereka terus memperkuat fondasi usaha melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) UNS hingga merambah pasar digital melalui Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia.
Kehadiran mereka di Solo Art Market dan partisipasi dalam program Campuspreneur yang diinisiasi Kementerian Perdagangan menjadi titik balik penting. Melalui Campuspreneur, VersaLayer tidak hanya didorong untuk berinovasi secara bisnis, tetapi juga diperkenalkan pada ekosistem pasar yang lebih luas.
Pada program Campuspreneur, setiap interaksi menjadi ruang untuk bercerita. Pengunjung tidak hanya melihat produk saja, tetapi juga mendengar narasi di baliknya, tentang nilai di setiap potongan kain, dan pilihan untuk tidak sekadar mengikuti arus.
Membangun kesadaran masyarakat akan dampak industri fast fashion bagi lingkungan bukanlah hal mudah. Namun, VersaLayer tetap melangkah dengan visi yang jelas: mengedukasi konsumen bahwa apa yang mereka pakai memiliki dampak panjang bagi bumi.
“Masih banyak orang yang belum paham tentang dampak lingkungan dari kain yang kita pakai. Harapannya, produk kami bisa lebih dikenal karena tetap memperhatikan dampak lingkungan dan pengelolaan limbahnya,” tambahnya.
Sejalan dengan semangat Campuspreneur, langkah Mufida dan tim VersaLayer menjadi potret tumbuhnya wirausaha muda yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan. Dari potongan denim yang terabaikan, lahir cerita baru tentang keberlanjutan, kepedulian, dan harapan yang dijahit perlahan dalam setiap karya.
--selesai--
Informasi lebih lanjut hubungi:
N. M. Kusuma Dewi
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Perdagangan
Email:
pusathumas@kemendag.go.id