Karachi, 11 Januari 2025 – Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan pertemuan dengan Ibu Negara Republik Islam Pakistan Aseefa Bhutto Zardari dalam rangkaian kunjungan kerja ke Karachi, Pakistan, Sabtu (10/1). Turut hadir dalam pertemuan tersebut Chief Minister (CM) Sindh Syed Murad Ali Shah dan menteri terkait Pemerintah Provinsi Sindh, Pakistan.
Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro menyampaikan apresiasi terhadap komitmen kuat Ibu Negara Zardari di bidang pemberdayaan perempuan, serta membuka peluang kerja sama antara Indonesia dan Pakistan di bidang kewirausahaan bagi kaum perempuan.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen kuat Ibu Negara Pakistan di bidang pemberdayaan perempuan. Sebagai perwakilan perempuan di jajaran pemerintahan, saya juga berpandangan bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, peluang ekonomi, dan peran kepemimpinan sangat penting bagi pertumbuhan nasional jangka panjang yang inklusif. Untuk itu, akan sangat baik jika dimungkinkan adanya kerja sama dengan Pakistan untuk mendukung kewirausahaan perempuan,” ungkap Wamendag Roro.
Wamendag Roro melanjutkan, peluang kerja sama tersebut diharapkan dapat meliputi program pengembangan keterampilan, peningkatan kapasitas, dan dialog kebijakan perdagangan. Selain itu, kerja sama tersebut mencakup upaya pertukaran wawasan dan praktik terbaik sebagai bagian dalam upaya penguatan kerja sama komprehensif antara kedua negara.
Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro kemudian menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan RI juga mendorong upaya pemberdayaan perempuan melalui kebijakan perdagangan inklusif, yang mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam perdagangan, kewirausahaan, serta proses perumusan kebijakan perdagangan. Wamendag Roro menekankan, upaya pemberdayaan perempuan penting bagi perdagangan Indonesia, mengingat Indonesia pada 2025 tercatat memiliki 65,5 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan 64,5 persen di antaranya yaitu pelaku UMKM perempuan. Sektor perdagangan Indonesia sendiri didominasi UMKM yang menyumbang 61,9 persen terhadap PDB Indonesia.
“Kami berharap, kerja sama di bidang pemberdayaan perempuan juga dapat dilakukan antara Indonesia dan Pakistan. Dengan kebijakan perdagangan yang inklusif, kami optimistis perempuan dapat memiliki akses terhadap pasar dan peluang ekonomi yang lebih baik,” lanjut Wamendag Roro.
Sementara itu, Ibu Negara Zardari menanggapi positif dan menyampaikan pandangan serupa mengenai peran perempuan dalam pembangunan nasional. Ia juga membagikan pengalaman menjalani tanggung jawabnya sebagai Ibu Negara Pakistan, khususnya dalam mendorong program-program sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat, salah satunya saat mengatasi situasi pasca-banjir di Provinsi Sindh pada 2022, melalui pembangunan lebih dari 2 juta rumah tahan perubahan iklim dengan kepemilikan tanah dialihkan kepada perempuan kepala rumah tangga untuk meningkatkan keamanan ekonomi dan martabat sosial. Ibu Negara Zadari juga membahas model kemitraan publik dan swasta di Provinsi Sindh di bidang perumahan, layanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.
Selain membahas isu sosial, pertemuan Wamendag RI dan Ibu Negara Pakistan juga membahas upaya kedua negara meningkatkan kualitas kerja sama ekonomi. Wamendag Roro menyampaikan bahwa telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Pembentukan Joint Trade Commission (JTC) bersama Menteri Perdagangan Pakistan, Jan Kamal Khan pada Jumat, (9/1) dalam acara Indonesia Palm Oil Networking Reception yang diselenggarakan Konsulat Jenderal RI Karachi. MoU tersebut menjadi instrumen penting memperkuat kemitraan perdagangan Indonesia–Pakistan, termasuk sebagai langkah strategis menuju target Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) di 2027.
Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Pakistan untuk memperluas kerja sama tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga dalam pembangunan sosial, pemberdayaan perempuan, pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kedua negara.
Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro didampingi oleh Konsul Jenderal RI Karachi, Mudzakir dan Anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, Satya Widya Yudha.
--selesai--