Search

Dengarkan Berita Ini

Atdag RI Canberra Dorong Mahasiswa Indonesia di Australia Jadi Eksportir dan Buyer Masa Depan

Canberra, 24 Mei 2026 – Atase Perdagangan RI Canberra Agung Haris Setiawan menginisiasi lokakarya (workshop) ekspor-impor Indonesia ke Australia yang dilaksanakan secara hibrida di Marie Reay Teaching Centre, Australian National University (ANU), Canberra, Australia, pada Sabtu (23/5). Lokakarya yang bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Australian Capital Territory (PPIA ACT) dan PPIA ANU tersebut mengusung tema ‘Campuspreneur: Mencetak Mahasiswa Indonesia Menjadi Eksportir dan Buyer Masa Depan’.

Turut menjadi narasumber yaitu Founder Agis Indoply International Pty Ltd Agis Fendy Hasan Bachtiar. Adapun perserta yang mengikuti lokakarya tersebut berjumlah 30 mahasiswa Indonesia yang hadir secara luring dan beberapa pelaku usaha Indonesia secara daring.

“Lokakarya ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa Indonesia di Australia mengenai peluang perdagangan dan proses masuk pasar dari Indonesia ke Australia. Tidak hanya itu, lokakarya ini turut mendorong mahasiswa untuk mengambil peran sebagai calon eksportir, buyer, distributor, maupun penghubung produk Indonesia di Australia,” ujar Haris.

Haris menilai, mahasiswa Indonesia di Australia memiliki keunggulan karena memahami Indonesia sekaligus mengenal langsung konsumen, standar, budaya bisnis, dan jejaring di pasar Australia. Menurut Haris, mereka dapat tumbuh menjadi eksportir ataupun buyer, serta mitra pasar bagi produk Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Haris juga menekankan bahwa ekspor dimulai dari memiliki pola pikir global yang berorientasi jangka panjang, menjaga kepercayaan dan reputasi, memenuhi standar internasional, serta bersaing melalui kualitas dan nilai tambah, bukan semata-mata menawarkan harga murah. Haris menambahkan, mahasiswa Indonesia di luar negeri dinilai sebagai aset strategis karena mampu membaca tren pasar, memahami kebutuhan konsumen, dan membangun jejaring sejak masa studi.

Haris mengungkapkan, peserta lokakarya turut diperkenalkan pada peluang produk Indonesia di Australia dan kawasan Pasifik, seperti kopi dan kakao, rempah dan herbal, alas kaki, bahan bangunan, furnitur dan dekorasi rumah, fesyen dan modest wear, hingga jasa serta produk digital.

Peserta, lanjut Haris, memperoleh pemahaman mengenai tahapan ekspor yang dimulai dari riset pasar, penentuan kode Harmonized System (HS) dan pemanfaatan perjanjian perdagangan, serta penyiapan legalitas usaha. Berikutnya, adaptasi produk dan kemasan, pemahaman biosekuriti Australia, hingga strategi penetapan harga, logistik, kontrak, dan membangun hubungan jangka panjang dengan buyer.

Kegiatan ini, imbuh Haris, sejalan dengan semangat Campuspreneur Kementerian Perdagangan yang mendorong mahasiswa untuk menjadi bagian aktif dari ekosistem perdagangan. Selain itu, sinergi Atdag RI Canberra dengan mahasiswa Indonesia di Australia telah dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi dengan PPIA dan Mata Garuda Australia and New Zealand (ANZ) dalam program toko ritel temporer (pop-up store) ‘Lokal untuk Global’ yang memperkenalkan 42 jenama usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia kepada konsumen Australia.

Lokakarya ini turut melibatkan Kopicino Foodtruck sebagai penyedia makanan Indonesia bagi peserta. Usaha kuliner yang dirintis alumnus mahasiswa Indonesia di Australia tersebut menjadi contoh kontribusi mahasiswa dan alumni dalam memperkenalkan produk serta identitas Indonesia di Australia.

Ke depan, Atdag RI Canberra akan terus memperkuat pembinaan mahasiswa Indonesia di Australia melalui lokakarya, pendampingan (mentoring), pelibatan dalam promosi dagang, serta penghubung antara UKM dan eksportir Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa Indonesia di Australia diharapkan menjadi jembatan bagi perluasan ekspor produk Indonesia.

Sementara itu, Agis Fendy Hasan Bachtiar membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa Master of Professional Accounting di University of Tasmania, Australia yang membangun Agis Indoply International Pty Ltd. Berangkat dari pengalamannya di bidang pemasaran ekspor kayu lapis (plywood), Agis melihat persoalan kualitas dan kepercayaan dalam rantai pasok sebagai peluang usaha. Ia kemudian mengembangkan model bisnis berbasis jasa pencarian pemasok (sourcing), pemilihan pabrik, negosiasi, inspeksi lapangan, dokumentasi produk, hingga pengiriman kepada pelanggan.

Saat ini, Agis aktif mengekspor plywood Indonesia ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Tailan, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dengan volume lebih dari 30 kontainer per bulan. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia juga dapat berperan di bidang perdagangan.

Menurut Agis, pasar Australia masih memiliki peluang besar bagi mahasiswa Indonesia yang memahami kebutuhan pasar setempat, khususnya untuk model bisnis yang dijalankannya. Agis menekankan, mahasiswa dapat memulai usaha dari satu hal sederhana, seperti menemukan satu peluang, memvalidasi permintaan, memilih pemasok yang tepat, memenangkan satu pelanggan, dan mendokumentasikan hasil sebagai modal kepercayaan.

Agis juga membahas langkah praktis mendirikan usaha di Australia, pentingnya legalitas dan rekening bisnis, serta rekomendasi tim terpercaya di Indonesia untuk inspeksi dan mengurus dokumen ekspor. Tidak sampai di situ, Agis turut menjelaskan pentingnya penggunaan kontrak dan International Commercial Terms (Incoterms) yang jelas, strategi memperoleh pelanggan melalui jejaring, pencitraan diri (personal branding), bukti kualitas, serta tindak lanjut yang konsisten.

Ditemui di lokasi lokakarya, salah satu peserta yang juga merupakan mahasiswa Master of Marketing Management ANU Muhammad Zukhri Ihsan mengaku memperoleh wawasan baru mengenai peluang perdagangan Indonesia-Australia. Menurutnya, pemaparan dari Atdag RI Canberra dan pelaku usaha memberikan gambaran praktis mengenai dunia ekspor yang sebelumnya belum banyak ia ketahui.

“Saya memperoleh informasi yang sangat berharga dari Atdag RI Canberra dan Mas Agis, khususnya terkait kebijakan perdagangan Indonesia-Australia serta perspektif pelaku ekspor Indonesia. Saya juga baru mengetahui bahwa ekspor plywood dari Indonesia ke Australia tidak dikenakan pajak. Hal ini sangat menarik karena informasi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas,” ujar Zukhri.

--selesai--

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers