Search

Dengarkan Berita Ini

Argotelo Salatiga, ‘Gunung Singkong’ yang Hidupkan Masyarakat

Jakarta, 30 Juni 2026 – Sebagai kota yang dikelilingi lanskap pegunungan, Salatiga menjadi rumah bagi lahirnya inovasi olahan singkong. Beragam produk berbahan dasar umbi ini perlahan menapaki jalannya dari lereng gunung menuju panggung dunia, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat lokal.

Impian inilah yang sedang diwujudkan Argotelo, bisnis olahan singkong asal Salatiga yang dibangun Toni Anandya. Nama Argotelo berasal dari perpaduan kata ‘argo’ yang berarti gunung, dan ‘telo’ yang berarti singkong. Filosofi ini bukan tanpa makna. Toni bermimpi agar bisnis Argotelo dapat menjadi sekokoh gunung yang menjadi sumber kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. “Kami ingin Argotelo bisa memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas layaknya gunung yang memberikan manfaat kepada masyarakat yang ada di dalamnya,” ungkap Toni.

Argotelo dirintis pada 2016 dengan modal terbatas dan kapasitas produksi 10 kg per hari. Kala itu, Toni menjajakan produk Argotelo dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor. Baru pada 2018, Argotelo memperluas pasarnya ke ranah daring. Peluang muncul ketika pandemi Covid-19 terjadi. Menilik ke belakang, Toni meyakini Argotelo termasuk salah satu usaha yang relatif cepat mengadopsi ekosistem digital.

“Pada 2018, kami sadar Argotelo bisa memberikan inovasi dengan jualan secara daring. Kemudian saat pandemi Covid-19, ketika pelaku usaha lainnya mungkin belum terlalu merambah daring, kami sudah jauh lebih siap. Saat ini, 90 persen penjualan kami adalah dari daring,” ujar Toni.

Singkong yang dikreasikan Argotelo memiliki keunikannya sendiri. Saat ini terdapat 25 varian produk olahan singkong yang ditawarkan, mulai dari gemblong lumer, getuk, singkong fla, stik tela tela, rondo royal, mento, nugget singkong, dan molen tape. Seiring pesatnya perkembangan usaha, kapasitas produksi ikut melonjak. Kini, produksi bisa mencapai 500 ton per tahun. Argotelo juga telah melengkapi legalitas usahanya dengan berbagai perizinan seperti sertifikasi halal, sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan hak merek.

Keinginan membantu masyarakat juga berjalan beriringan dengan tumbuhnya usaha. Argotelo saat ini mempekerjakan 35 orang karyawan yang sebagian besar adalah masyarakat sekitar. “Delapan puluh persen karyawan kami adalah masyarakat sekitar, melibatkan karang taruna dan kelompok sadar wisata untuk ikut berdaya bersama di Argotelo,” ujar Toni.

Kiprah Argotelo juga melahirkan inisiatif Kampung Singkong di Salatiga yang kini memberdayakan hingga 300 orang pekerja. Kebutuhan bahan bakunya sendiri dipasok langsung dari daerah-daerah penghasil singkong di sekitar Salatiga. Argotelo bertransformasi menjadi produk yang tidak hanya memanjakan lidah konsumen, tetapi juga membawa berkah dan kesejahteraan untuk masyarakat sekitar.


Selain fokus pada produksi, Argotelo aktif berpartisipasi dalam berbagai program pembinaan yang diadakan pemerintah, baik tingkat kota, provinsi, dan kementerian. “Pembinaan di antaranya seperti pengolahan pangan, higienitas, hingga penjualan untuk media sosial,” tutur Toni.

Komitmen Argotelo untuk terus berkembang mengantarkannya menembus panggung internasional melalui pameran perdagangan internasional terbesar di Indonesia, Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 pada Oktober 2025. Keikutsertaannya pada ajang tersebut membuka peluang emas untuk berjejaring langsung dengan buyer mancanegara dan berhasil mendapat pasar.

“Kami ikut TEI 2025 dan alhamdulillahnya dari pameran tersebut kami mendapat networking dari Australia dan berkenalan dengan teman-teman dari Dubai. Kemudian, yang terbaru, kami berhasil mengekspor produk ke Australia,” ujar Toni.

Selain Australia, penetrasi pasar Argotelo juga telah menjangkau Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong. Meski begitu, Toni mengaku masih punya impian untuk mengembangkan produknya dan terus berekspansi. “Kami ingin sekali bisa ikut (lagi) pameran semacam TEI. Kemudian kami juga berharap, bisa mendapatkan akses untuk pameran langsung bertemu buyer yang ada di luar negeri,” ungkap Toni.

Mendukung impian Toni, Mendag Busan mengunjungi Kampung Singkong Argotelo pada Kamis, (18/6). Pada kunjungannya, Mendag Busan mengapresiasi inovasi Argotelo dalam mengembangkan olahan singkong dan menegaskan komitmen Pemerintah untuk terus mendukung pengembangan bisnis Argotelo.

“Saya bangga Argotelo tidak sekadar berbisnis, tetapi turut memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Argotelo membuktikan produk lokal yang memiliki kualitas unggul akan mampu berdaya saing di pasar global. Kami akan terus mendukung Argotelo agar makin memperluas pasar ekspornya,” ujar Mendag Busan.

Kemendag memiliki berbagai program promosi perdagangan strategis yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Fasilitasi tersebut, di antaranya penjajakan bisnis (business matching), pameran dagang, program coaching ekspor, hingga promosi dagang melalui perwakilan dagang RI di luar negeri.

Perjalanan Argotelo menunjukkan bahwa komoditas sederhana, ketika diolah dengan inovasi dan kualitas mampu tumbuh bahkan bersaing hingga ke pasar global. Seperti arti namanya, Argotelo perlahan tumbuh menjadi “gunung” yang kokoh, sebuah ekosistem mandiri yang mengalirkan sumber penghidupan dan menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers