Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meninjau rumput laut yang siap ekspor di Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Maros, Sulawesi Selatan pada Rabu (4/3/2026). (ANTARA/HO-Kemendag)
"SRG memiliki peran yang strategis dalam mendukung ekspor komoditas unggulan di berbagai wilayah Indonesia"
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) terus dioptimalkan untuk mendukung ekspor komoditas ke pasar global, salah satu hasilnya adalah keberhasilan ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai 100.215 dolar AS atau setara Rp1,7 miliar ke Tiongkok.
Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, Budi menyebut ekspor ini dilakukan melalui Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Maros, Sulawesi Selatan. Gudang ini merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh PT Wahana Pronatural, Tbk (PT WAPO).
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas akses pasar internasional melalui sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, dan eksportir. Selain itu, ke depan SRG akan terintegrasi dengan program Desa Bisa Ekspor (DBE) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk petani.
"Akses pasar komoditas yang disimpan dalam gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi Atase Perdagangan RI dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara," kata Budi.
Melalui DBE, lanjut Budi, produk unggulan seperti rumput laut yang diproduksi para petani atau nelayan di berbagai desa dapat disimpan di gudang SRG dan dijual ketika harga pasar menguntungkan.
Program DBE bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor di desa melalui enam pilar strategi, yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, produktivitas dan teknologi, logistik, pembiayaan, serta promosi dan akses pasar.
Di tengah tantangan perdagangan global dan penurunan harga komoditas, Indonesia tetap berupaya meningkatkan ekspor ke berbagai negara. Pemerintah juga terus menempuh berbagai langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian situasi geopolitik global untuk menjaga stabilitas perdagangan nasional.
Menurut Budi, dalam menjawab tantangan dan peluang perdagangan global tersebut, SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tunda jual.
Pemanfaatan SRG juga membuka akses pasar; menyediakan informasi ketersediaan, sebaran, mutu, dan nilai komoditas; serta memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya menyampaikan, nilai ekspor rumput laut Indonesia ke dunia pada 2025 mencapai 317,55 juta dolar AS. Negara tujuan utama meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, Spanyol, Jepang, dan Belanda.
"SRG memiliki peran yang strategis dalam mendukung ekspor komoditas unggulan di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, pengelola gudang SRG memiliki peluang untuk meningkatkan kompetensi dan komunikasi, sehingga mampu memperluas akses pasar ekspor bagi produk yang mereka kelola," ujar Tirta.
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (antaranews.com)