Search

Dengarkan Berita Ini

Semerbak di World of Coffee Bangkok 2026, Kopi Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp66 Miliar

Bangkok, 17 Juni 2026 – Aroma kopi Indonesia kembali memamerkan daya saingnya di pasar global melalui ajang World of Coffee Bangkok 2026. Dalam pameran kopi internasional yang berlangsung di Bangkok, Tailan, pada 7—9 Mei 2026 tersebut, Indonesia berhasil membukukan potensi transaksi sebesar USD3,89 juta atau setara Rp66 miliar pada saat itu.

Potensi transaksi tersebut berasal dari komitmen pembelian 337 ton kopi Indonesia antara eksportir Indonesia dan 60 buyer potensial melalui Letter of Intent (LoI). Para buyer datang dari berbagai negara seperti Tailan, Belanda, Korea Selatan, Kanada, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Mesir, Oman, India, Brunei Darussalam, Filipina, Finlandia, dan Taiwan.

“Pameran World of Coffee Bangkok menjadi sarana efektif untuk mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyer potensial dari berbagai negara. Antusiasme pengunjung terhadap kopi Indonesia sangat tinggi, tecermin dari banyaknya komitmen bisnis yang berhasil dihimpun selama penyelenggaraan pameran,” ujar atase Perdagangan di Bangkok Rafika Arfani.

Dalam persiapan pameran, Rafika menyoroti sejumlah prosedur yang harus dipenuhi untuk memasukkan sampel produk kopi para eksibitor ke Tailan. Prosedur tersebut mencakup perizinan dari Kementerian Pertanian dan Koperasi Tailan, Kementerian Perdagangan Tailan, Food and Drug Administration (FDA) Tailan, serta otoritas Bea dan Cukai. Ketentuan yang sama juga berlaku bagi seluruh importir produk kopi yang memasuki pasar Tailan.

Paviliun Indonesia yang merupakan hasil kerja sama antara Bank Indonesia, KBRI Bangkok, dan Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan mengusung tema “Kopi Indonesia”, menampilkan 10 stan yang berlokasi di Booth No. 301, Blok F, Hall EH 99. Konsep paviliun kali ini menggabungkan desain tempat penjemuran kopi sebagai ruang pamer produk dan area diskusi bisnis. Paviliun Indonesia juga dilengkapi demonstrasi barista (open barista) yang memungkinkan produsen menyajikan langsung kopi unggulannya kepada calon buyer.

Sebanyak 20 pelaku usaha kopi binaan Bank Indonesia turut berpartisipasi dalam Paviliun Indonesia. Mereka berasal dari berbagai daerah sentra kopi nasional, antara lain, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua. Sebelum terpilih mengikuti pameran, para peserta telah melalui kurasi ketat dari total 189 calon peserta yang dilakukan Laboratorium Kopi 5758. 

Paviliun Indonesia secara resmi dibuka Duta Besar RI untuk Kerajaan Tailan, Hari Prabowo. Dalam sambutannya, Dubes Hari menekankan besarnya potensi pasar kopi di Tailan yang terus berkembang. Menurutnya, konsumsi kopi masyarakat Tailan meningkat hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, dari sekitar 180 cangkir menjadi 340 cangkir per kapita per tahun. Di sisi lain, produksi kopi Tailan yang hanya sekitar 15.600 ton per tahun masih jauh di bawah kebutuhan domestiknya yang mencapai lebih dari 90.000 ton per tahun. 

“Kondisi tersebut menjadikan Tailan sebagai pasar yang sangat prospektif bagi kopi Indonesia untuk memperluas penetrasi ekspor dan memperkuat posisinya di kawasan Asia Tenggara,” jelas Hari.

Pemilik Bali Arabica milik I Komang Sukarsana mengungkapkan, keikutsertaan dalam pameran kopi berskala internasional tersebut menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jaringan bisnis sekaligus memahami tren industri kopi global secara langsung. Ia menilai dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasok kopi, mulai dari petani hingga pelaku usaha pengolahan dan roastery.

“Melalui World of Coffee yang didukung Bank Indonesia, kami bisa terkoneksi langsung dengan petani maupun para roastery sehingga mata rantai bisnis menjadi lebih pendek dan efisien. Selain itu, kami juga dapat melihat perkembangan serta tren proses pengolahan kopi yang berpotensi diminati pasar pada masa depan,” ujar Komang. 

Saat ini, produk Bali Arabica telah dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Kuwait, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Ia pun berharap ajang seperti World of Coffee dapat semakin memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar internasional. “Tujuan kami adalah membawa produk-produk lokal agar semakin dikenal masyarakat, khususnya masyarakat internasional,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan CV Mandiri Kopi asal Sumatera Utara, Titis Budi Prihatin, mengaku senang dapat menjadi bagian dari World of Coffee Bangkok 2026. Menurutnya, partisipasi dalam pameran internasional tersebut membuka peluang bagi usahanya untuk menjangkau calon pembeli dari berbagai negara serta memperluas jejaring bisnis di pasar global.

“Di Bangkok, kami melihat antusiasme masyarakat Thailan terhadap kopi sangat besar. Melalui pameran ini, kami dapat bertemu langsung dengan berbagai pelaku industri, mulai dari trader, roastery, hingga importir besar yang menunjukkan minat tinggi terhadap kopi-kopi Indonesia. Kegiatan ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus menjalin kerja sama dengan mitra potensial dari mancanegara,” ujar Titis.

World of Coffee merupakan salah satu pameran kopi paling bergengsi di dunia. Ajang ini diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association (SCA). Ajang ini juga menjadi wadah strategis pelaku industri kopi global untuk menjalin kemitraan bisnis. Ajang ini juga dapat digunakan untuk memperkenalkan produk kepada pembeli, roaster, dan importir dari berbagai negara. Reputasi SCA sebagai penyelenggara World Barista Championship turut memperkuat posisi World of Coffee sebagai salah satu referensi utama dalam industri kopi dunia

Fasilitasi Busines Matching

Selama pameran, Atdag RI di Bangkok memfasilitasi penjajakan kerja sama bisnis (business matching) antara peserta di Paviliun Indonesia dan manajemen Café Amazon di Tailan. Penjajakan ini dilaksanakan di Paviliun Indonesia pada Jumat, (8/5). Café Amazon merupakan jaringan kedai kopi terbesar di Tailan yang berada di bawah pengelolaan PTT Oil and Retail Business Public Company Limited (PTTOR).

Kegiatan business matching dihadiri jajaran petinggi Café Amazon seperti Vice President Upstream Coffee Beans Value Chain Management Pongsak Phattarameatevinyu, Café Amazon International Network Development Division Manager Peerapong Chukiatkhajorn, serta perwakilan Peaberry Thai Co., Ltd., sebuah perusahaan importir kopi yang berafiliasi dengan Café Amazon. Sementara itu, dari Indonesia hadir Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia Maulisa Yanti Nasution yang mempresentasikan berbagai produk kopi unggulan peserta pameran. 

Dalam pertemuan tersebut, Café Amazon menyampaikan ketertarikannya untuk mengeksplorasi lebih jauh komoditas kopi dan peluang pasar di kawasan Asia Tenggara. Indonesia dinilai sebagai salah satu mitra potensial, mengingat tingginya kebutuhan kopi di Tailan yang belum dapat dipenuhi oleh produksi domestik. 

Sementara itu, Peaberry Thai Co., Ltd. menyatakan minat terhadap kopi Gayo asal Aceh yang dinilai memiliki karakteristik dan cita rasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain mengembangkan jaringan Café Amazon, PTTOR juga terus memperkuat segmen kopi spesialti melalui merek Pacamara yang mengusung konsep “Everyday Specialty” dengan pengelolaan rantai produksi secara terintegrasi mulai dari pemilihan biji kopi, pengolahan, hingga proses roasting.

--selesai--


Bagikan di
| Unduh
Berita Perdagangan