Produk Makanan dan Minuman Pukau Summer Fancy Food Show 2026, Tempe Berpotensi Tembus Pasar AS
Washington D.C., 31 Juli 2026 — Produk pangan olahan Indonesia kembali tampil luar biasa pada pameran pangan Summer Fancy Food Show (SFFS) 2026 di New York, Amerika Serikat (AS). Pameran ini digelar pada 28—30 Juni 2026 di Javits Convention Center, New York. Indonesia membukukan potensi transaksi sebesar USD 8,3 juta atau sekitar Rp150,7 miliar. Selain potensi transaksi, SFFS 2026 juga membuka peluang bagi tempe menjadi salah satu produk Indonesia yang berpotensi menembus pasar AS.
Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, mengatakan, potensi transaksi tersebut merupakan awal dari proses menuju realisasi ekspor. Untuk itu, Atdag RI Washington D.C. terus mengawal tindak lanjut setiap peluang bisnis melalui fasilitasi komunikasi antara eksportir Indonesia dan calon buyer. Pendampingan negosiasi bisnis serta pemantauan perkembangan kerja sama juga terus dilakukan agar potensi transaksi pada SFFS 2026 dapat segera dikonversi menjadi kontrak dagang dan ekspor yang berkelanjutan.
“Potensi transaksi yang dibukukan pada SFFS 2026 menunjukkan produk pangan Indonesia memiliki daya saing dan semakin diminati pasar AS. Kami akan terus mengawal berbagai tindak lanjut dari penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat,” ujar Ranitya.
Ranitya menjelaskan, dari penyelenggaraan SFFS 2026 dan serangkaian pertemuan bisnis dengan calon buyer, tempe dinilai sebagai salah satu produk Indonesia yang memiliki prospek paling besar untuk dikembangkan di pasar AS. Hal ini didorong oleh meningkatnya tren konsumsi pangan nabati (plant-based food), makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat (healthy lifestyle) yang meningkatkan permintaan terhadap produk berbahan nabati. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tempe untuk menjadi salah satu produk unggulan (champion product) Indonesia di pasar AS.
“Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan,” tambah Ranitya.
Pada ajang ini, Paviliun Indonesia hadir melalui sinergi Atdag RI Washington D.C., Konsulat Jenderal RI New York, serta berbagai pemangku kepentingan. Keikutsertaan Indonesia pada pameran ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan produk pangan bernilai tambah kepada calon mitra dagang di AS.
Paviliun Indonesia menempati stan seluas 28 m2 dengan menampilkan enam pelaku usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk yang ditampilkan meliputi kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, serta mi instan. Turut ditampilkan makanan sehat seperti tempe, makanan berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta aneka pangan olahan.
Di antara sejumlah pelaku usaha yang ditampilkan di Paviliun Indonesia, tiga di antaranya, yaitu Exotique Foods, Trully Amazing One, dan Bos Tempeh, merupakan agregator maupun produsen produk Indonesia yang dikelola diaspora Indonesia di AS. Selanjutnya, terdapat PT Manohara Asri (Mayasi) dengan produk berbasis kacang-kacangan dan PT Indowooyang (Sweetatoes) dengan produk pangan olahan berbasis ubi. Turut ditampilkan produk binaan Bank Mandiri berupa teh specialty dari jenama Silatea dan kerupuk kulit ikan dari jenama Fisnack.
Di luar Paviliun Indonesia, dipamerkan tiga merek makanan dan minuman Indonesia yang telah beredar di pasar AS. Produk tersebut, yakni permen susu Milkita, mi instan sehat Lemonilo, dan jamu instan NusaDrink.
Keikutsertaan dalam Paviliun Indonesia mendapat apresiasi dari para pelaku usaha. Salah satunya dari Empire Internasional yang telah menjadi distributor produk pangan Indonesia di AS. Perwakilan Empire Internasional, Business Development Manager Hendrick Wu menyampaikan, dukungan dan pendampingan dari Kedutaan Besar RI Washington D.C., KJRI New York, dan Atdag RI Washington D.C. memungkinkan perusahaannya memperkenalkan produk kepada lebih banyak buyer, distributor, dan mitra bisnis potensial di AS.
Sementara itu, perwakilan PT Indowooyang (Sweetatoes), Marketing Manager Javon Quincygio Salim, menilai pendampingan yang didapatkan mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga tindak lanjut setelah pameran memberikan manfaat strategis untuk memperluas jaringan dengan buyer potensial dan memahami kebutuhan pasar AS. Perusahaan optimistis kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia akan mendorong peningkatan ekspor sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
SFFS 2026 merupakan salah satu pameran makanan dan minuman terbesar di AS yang diikuti sekitar 2.529 peserta pameran dari 57 negara. Tidak hanya itu, pameran ini mampu menghadirkan sekitar 14.000 pelaku bisnis, mulai dari importir, distributor, peritel, pelaku jasa boga, hingga investor.
AS merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 5,97 miliar, naik 14,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 5,23 miliar. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 10,1 persen terhadap total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang mencapai USD 59,04 miliar pada 2025. Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor pangan Indonesia ke AS tercatat berfluktuasi, yakni sebesar USD 5,62 miliar pada 2021, USD 6,03 miliar (2022), USD 4,96 miliar (2023), USD 5,23 miliar (2024), dan USD 5,97 miliar (2025).
Pada periode Januari–Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sebesar USD 18,44 miliar. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD 12,73 miliar, sedangkan impor sebesar USD 5,71 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD 7,02 miliar. Sementara itu, sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 43,80 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 30,96 miliar dan impor sebesar USD 12,85 miliar. Pada tahun tersebut, Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 18,11 miliar.
--selesai--