Guangxi, 15 Januari 2026 – Kementerian Perdagangan RI menyambut baik keberhasilan ekspor perdana durian beku asal Indonesia yang telah tiba di Pelabuhan Qinzhou, Tiongkok. Ekspor perdana 23 ton durian beku produksi PT Amerta Nadi Agro Cemerlang dari Sulawesi Tengah senilai USD 123,84 ribu atau sekitar Rp2,08 miliar ini tiba di Negeri Tirai Bambu pada Selasa, (6/1). Kesuksesan ekspor ini merupakan hasil sinergi Kedutaan Besar RI Beijing dan Kemendag RI melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI Beijing dalam membuka komunikasi antara pelaku usaha durian Indonesia dengan calon pembeli di Tiongkok untuk membeli durian langsung dari Indonesia.
Atase Perdagangan (Atdag) RI Beijing Budi Hansyah menyampaikan, ekspor durian beku ini menjadi bukti nyata diterimanya standar kualitas hortikultura Indonesia di pasar global. Pencapaian tersebut sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisinya sebagai pemasok produk hortikultura berkualitas tinggi di pasar internasional.
“Ekspor langsung ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar global. Durian beku yang dikirimkan telah memenuhi berbagai standar yang ditetapkan otoritas Tiongkok mulai dari keamanan pangan, kesehatan tumbuhan, hingga persyaratan mutu produk,” ujar Budi.
Budi menambahkan, masuknya durian beku Indonesia ke pasar Tiongkok telah memperoleh persetujuan Badan Karantina RI serta diproses sesuai ketentuan kepabeanan dan melalui pengawasan karantina yang berlaku di Tiongkok. “Hal ini menegaskan kepercayaan otoritas Tiongkok terhadap sistem karantina serta jaminan mutu produk pertanian Indonesia,” jelasnya.
Durian beku Indonesia ini akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti durian potong bercangkang, daging durian beku, durian kering, durian kering beku, dan pasta durian untuk didistribusikan ke berbagai wilayah di Tiongkok. Melihat besarnya potensi durian olahan di pasar Tiongkok, Budi pun mengajak para pelaku usaha Tanah Air untuk menjajaki peluang ekspor durian bernilai tambah ke Tiongkok.
“Kemendag terus memotivasi para pelaku usaha di tanah air untuk merambah produk olahan bernilai tambah. Hal ini mengingat besarnya potensi pasar di Tiongkok yang menunjukkan minat tinggi terhadap varian produk seperti durian kering hingga pasta durian. Dengan produk bernilai tambah ini, daya saing produk lokal di kancah internasional akan semakin meningkat,” kata Budi.
Budi menegaskan, Kemendag akan terus memfasilitasi promosi dan penguatan jejaring bisnis agar lebih banyak produk unggulan Indonesia dapat bersaing di pasar Tiongkok. “Kami terbuka untuk berdiskusi, berbagi informasi, dan menghubungkan para pelaku usaha. Kami juga mengundang mitra Tiongkok untuk bekerja sama dengan Indonesia agar dapat membangun hubungan yang kuat dan menciptakan perdagangan yang lebih sukses bersama,” kata Budi.
Direktur PT Amerta Nadi Agro Cemerlang, I Putu Agus Candranata, mengapresiasi dukungan pemerintah dalam mendorong ekspor produk hortikultura. Dukungan ini hadir mulai dari informasi pasar, komunikasi dengan calon pembeli, hingga persiapan pengiriman.
“Kami berterima kasih kepada Atdag RI Beijing atas bimbingan yang diberikan, mulai dari fasilitasi komunikasi dengan otoritas setempat, bantuan pengurusan dokumen ekspor, hingga penyediaan informasi pasar. Pengiriman ekspor perdana dapat terlaksana dengan baik dan mendukung ekspansi pasar durian Indonesia,” ujar Agus.
Pelabuhan Qinzhou Gerbang Masuk Penting
Menurut Budi, kehadiran durian beku Indonesia di Tiongkok turut mendukung pengembangan Pusat Perdagangan Buah Tiongkok-ASEAN yang terletak di Qinzhou. Pelabuhan ini adalah simpul logistik utama bagi kawasan Asia Tenggara yang didukung layanan kepabeanan cepat serta fasilitas pemeriksaan dan pengujian terintegrasi.
Sejalan dengan itu, dukungan infrastruktur pelabuhan Qinzhou, kawasan berikatnya, serta jaringan logistik laut dan kereta barangnya yang menjangkau wilayah pedalaman Tiongkok akan bermanfaat memperkuat daya saing produk hortikultura bernilai tambah Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur tersebut, produk Indonesia dapat menjangkau pasar Tiongkok secara lebih cepat dan kompetitif. Sementara itu, untuk durian beku Indonesia, distribusinya akan semakin luas dan efisien.
“Memperkuat ekspor melalui pelabuhan Qinzhou tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok produk hortikultura dari Asia Tenggara, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar ke berbagai wilayah strategis di Tiongkok,” ungkap Budi.
Pelabuhan Qinzhou merupakan gerbang internasional Koridor Baru Darat-Laut Barat yang pada 2025 mengoperasikan 44 rute pelayaran ke negara-negara ASEAN, termasuk menghubungkan sentra-sentra produksi buah di Asia Tenggara. Pada 2026, dengan dibukanya proyek infrastruktur Terusan Pinglu, pelabuhan ini diproyeksikan menjadi jalur laut paling strategis bagi wilayah barat daya Tiongkok. Pelabuhan ini diproyeksikan dapat menurunkan biaya logistik produk pertanian dari Indonesia dan ASEAN hingga 30 persen.
Pada Januari–November 2025, total perdagangan Indonesia dengan Tiongkok tercatat sebesar USD 138,34 miliar atau meningkat 12,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Tiongkok pada periode Januari–November 2025 tercatat sebesar USD 60,30 miliar. Sementara itu, pada 2024, total perdagangan kedua negara mencapai USD 136,59 miliar.