Kopi Indonesia Harum di World of Coffee 2026, Catatkan Potensi Transaksi Hampir Rp600 Miliar
San Diego, 15 Juni 2026 – Citra harum kopi Nusantara di pasar internasional kembali tercium melalui kehadiran Paviliun Indonesia pada ajang World of Coffee (WoC) 2026. Pameran ini berlangsung di San Diego Convention Center, San Diego, Amerika Serikat (AS), pada 10–12 April 2026. Indonesia berhasil mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 34,7 juta atau setara Rp593,3 miliar.
“Selama tiga hari pameran, Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 34,7 juta yang mencakup biji kopi mentah (green beans), kopi sangrai (roasted coffee), serta produk turunan kopi lainnya. Capaian ini belum termasuk berbagai penjajakan dari permintaan informasi (business inquiries) yang berpotensi berkembang menjadi kontrak dagang dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi.
Ranitya menyebut, keikutsertaan Indonesia pada salah satu pameran kopi terbesar di dunia ini menjadi upaya memperluas akses pasar dan memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar AS. Indonesia juga dapat memperkenalkan keragaman asal usul (origin) biji kopi, kualitas tinggi biji kopi, serta komitmen industri kopi Indonesia terhadap praktik produksi yang berkelanjutan.
Ranitya menyampaikan, kehadiran Paviliun Indonesia di WoC 2026 menjadi semakin strategis di tengah dinamika kebijakan perdagangan AS yang semakin kompleks. Dalam hal ini, WoC 2026 menjadi titik temu pelaku industri kopi Indonesia dengan pasar AS untuk menavigasi kebijakan tarif dan peningkatan standar keamanan pangan. Partisipasi Indonesia dalam pameran tersebut juga dapat menjawab tuntutan pasar AS terhadap keberlanjutan, transparansi, dan keterlacakan kopi.
AS merupakan importir kopi terbesar di dunia. Dengan nilai impor mencapai sekitar USD 12,8 miliar per tahun, Negeri Paman Sam sekaligus menjadi salah satu tujuan utama ekspor kopi Indonesia. Ranitya mengutarakan, sekitar dua pertiga populasi dewasa AS mengonsumsi kopi setiap hari. Seiring hal tersebut, tren specialty coffee pun terus meningkat yang didorong preferensi terhadap kualitas, asal usul, dan pengalaman konsumsi yang lebih premium.
Kesibukan di Paviliun Indonesia
Selama tiga hari pameran, Paviliun Indonesia memfasilitasi berbagai kegiatan promosi dan penjajakan bisnis (business matching), mulai dari pertemuan business-to-business (B2B), coffee cupping, coffee tasting, hingga diskusi dengan pelaku industri kopi global.
“Sesi cupping menjadi salah satu sarana utama yang mempertemukan produsen Indonesia dengan calon pembeli internasional. Sesi ini juga memberi buyer kesempatan untuk mengevaluasi langsung kualitas dan karakteristik kopi Indonesia sesuai kebutuhan pasar,” kata Ranitya.
Paviliun Indonesia juga menghasilkan sejumlah peluang kerja sama yang akan ditindaklanjuti pascapameran. Terdapat dua penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI), masing-masing antara Gravfarm Indonesia dan Beaneka Coffee, serta KBF International Group dan Cartel Coffee Lab.
“KBRI Washington D.C. melalui Atdag RI bersama para pemangku kepentingan terkait akan terus memfasilitasi tindak lanjut berbagai kesempatan (business leads) untuk memastikan peluang dapat dikonversi menjadi transaksi ekspor yang konkret dan berkelanjutan,” kata Ranitya.
Mengusung tema “Indonesia: Home of the Finest Coffee”, Paviliun Indonesia dirancang sebagai ruang eksperimen dengan pendekatan yang menghubungkan antarindividu. Konsep ini menampilkan area coffee cupping, etalase produk terkurasi, materi promosi berbasis cerita (storytelling) yang menonjolkan peran petani dan keragaman origin kopi Indonesia, serta area pertemuan bisnis dan berjejaring.
“Tema dan konsep Paviliun Indonesia merepresentasikan keunggulan Indonesia melalui keragaman varietas, ekosistem, dan profil cita rasa kopi dari berbagai daerah. Tema ini sekaligus menegaskan komitmen terhadap aspek keberlanjutan dan keterlacakan produk,” tambah Ranitya.
Sebanyak 12 peserta pameran memamerkan produk dan layanan unggulan mereka di Paviliun Indonesia. Para peserta terdiri atas petani dan koperasi, eksportir, agregator, hingga pemilik kafe dan penyangrai (roaster). Di Paviliun Indonesia, kelompok Indonesian House of Beans (IHOB), Sulotco, Gravfarm Indonesia, Muniru Coffee, SCAI, Sundanika, Beaneka Coffee, Q.Co, Javanese Coffee, Kela Coffee, Distira, dan APP-Charta Global.
Sementara itu, produk yang ditampilkan meliputi biji kopi mentah seperti Gayo, Mandheling, Lintong, Java Preanger, Java Estate, Toraja, Kintamani, dan Flores Bajawa dari berbagai daerah penghasil kopi unggulan Indonesia. Selain itu, peserta juga memamerkan biji kopi sangrai, specialty blends, dan coffee capsule. Juga dipamerkan berbagai produk pendukung industri kopi seperti gula aren dan gelas kertas untuk industri kafe dan ritel kopi.
Keikutsertaan Indonesia pada World of Coffee 2026 juga menghasilkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Latte Art Competition, barista Indonesia Joost Rolland berhasil menempati peringkat ketujuh dari 33 peserta internasional. “Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai produsen kopi berkualitas, tetapi juga sebagai bagian penting dari budaya dan industri kopi global,” tambah Ranitya.
Perwakilan Sundanika Coffee, Julianti Trisnamawan, mengungkapkan, keikutsertaan dalam WOC 2026 menjadi pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, pameran tersebut memberi wawasan yang lebih luas mengenai perkembangan industri kopi global mulai dari tren specialty coffee, teknologi sangrai terkini, hingga standar keberlanjutan di pasar AS dan Eropa.
“Melalui pameran ini, kami berkesempatan bertemu dengan banyak calon pembeli potensial. Saat ini, tiga buyer telah memasuki tahap permintaan sampel untuk produk green bean kami. Para calon pembeli potensial mencari kopi yang memiliki tracebility yang jelas dan cerita petani yang kuat, sehingga ini menjadi masukan bagi jenama kami,” ujar Julianti.
--selesai--
Sumber: Atase Perdagangan Washington D.C.
Disunting oleh Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan