Konsumen Korea Selatan Minati Produk Fesyen UKM Indonesia, Potensi Transaksi Capai Rp33,15 Miliar
Potensi Transaksi Capai Rp33,15 Miliar
Seoul, 2 Juli 2026 – Produk fesyen pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia mendapat sambutan positif dari konsumen Korea Selatan. Hingga akhir Mei 2026, keikutsertaan Indonesia dalam ASEAN Panorama 2026 berhasil membukukan potensi transaksi sebesar USD1,95 juta atau sekitar Rp33,15 miliar. Pameran berlangsung selama lima bulan, mulai Mei hingga September 2026, di Seoul ASEAN Hall, Korea Press Centre, Seoul, Korea Selatan.
Atase Perdagangan RI di Seoul, Roesfitawati, menyampaikan, potensi pasar Korea Selatan bagi produk Indonesia, khususnya produk UKM, masih terbuka lebar. Capaian tersebut mencerminkan tingginya minat pasar Negeri Gingseng terhadap produk fesyen Indonesia yang mengedepankan kualitas, keunikan, serta nilai budaya.
“Melalui kolaborasi dengan ASEAN-Korea Centre (AKC), kami terus menjembatani pelaku UKM Indonesia dengan importir dan buyer potensial melalui berbagai kegiatan promosi dan kerja sama penjajakan bisnis (business matching). Ke depan, kami akan terus memperluas akses pasar agar semakin banyak UKM Indonesia mampu menembus pasar Korea Selatan," ujar Roesfitawati.
ASEAN Panorama 2026 merupakan program promosi perdagangan tahunan yang diselenggarakan ASEAN-Korea Centre (AKC). Selain pameran produk, kegiatan ini mencakup kerja sama penjajakan bisnis (business matching), seminar ekspor, dan kunjungan ke berbagai perusahaan serta pusat bisnis untuk mempertemukan para pelaku usaha ASEAN dengan calon mitra dagang di Korea Selatan. Pada gelaran ini, Indonesia dan Brunei Darussalam mendapat kesempatan sebagai negara pembuka pameran pada Mei 2026.
Pada ASEAN Panorama 2026, Indonesia menghadirkan 10 pelaku UKM yang telah lolos proses kurasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan. Peserta tersebut, yaitu PT Alfazza Kayo Hanania, Bali Glams, CV Gammara Jaya Mondial, PT Haidee Orlin Indonesia, Ikids Id, PT Porto Indonesia Sejahtera, CV Rumah Jeddiah, Shiroshima Indonesia, Tirta Arta Persada, dan Zante. Para peserta memamerkan berbagai produk fesyen dan gaya hidup, seperti pakaian, tas, alas kaki, dan aksesori yang mengangkat kreativitas serta kekayaan budaya Indonesia.
Selain mengikuti pameran, para pelaku UKM juga mengikuti seminar pembiayaan dan pengembangan pasar Korea Selatan; business matching dengan sejumlah importir, antara lain Jeongjin B2B, K-Networks, dan Musinsa; serta kunjungan ke Natural Week 2026 dan Samsung C&T Fashion Group. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tren pasar, preferensi konsumen, serta persyaratan untuk memasuki pasar Korea Selatan.
Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, mengapresiasi penyelenggaraan ASEAN Panorama 2026 sebagai wujud nyata penguatan kemitraan ekonomi antara ASEAN dan Korea Selatan. Cecep menilai, ajang ini menjadi katalisator peningkatan kerja sama ekonomi melalui pameran produk, business matching, dan seminar akses pasar yang mempertemukan pelaku usaha ASEAN dengan buyer serta jaringan distribusi di Korea Selatan.
Menurutnya, ajang ini juga sejalan dengan upaya penguatan hubungan bilateral Indonesia–Korea Selatan, terlebih setelah kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada Maret 2026 yang semakin memperkokoh kemitraan strategis komprehensif khusus kedua negara.
"ASEAN Panorama 2026 tidak hanya membuka peluang akses pasar bagi produk Indonesia, tetapi juga memperkuat soft power dan posisi Indonesia produk Indonesia di Korea Selatan. Selain itu, ajang ini turut mempererat solidaritas ASEAN dengan menghadirkan seluruh negara anggota dalam satu platform promosi bersama," ujar Cecep.
Salah satu UKM, Melati Nurani Nayu selaku pendiri IKIDS, mengaku memperoleh banyak manfaat dari keikutsertaannya dalam ASEAN Panorama 2026. Ajang ini membuka peluang ekspor ke Korea Selatan sekaligus memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tren pasar dan preferensi konsumen.
“Kami juga dapat memperluas jejaring dengan distributor serta memperoleh wawasan mengenai perkembangan industri fesyen Korea Selatan melalui kunjungan ke Samsung C&T Fashion Group," ungkap Melati.
Di lain pihak, Marketing Manager Musinsa, Nara Kim, menilai produk fesyen Indonesia memiliki karakter yang kuat dan diferensiasi yang menarik karena mengangkat unsur kriya dan budaya. Menurutnya, keunggulan tersebut semakin diperkuat dengan konsep buatan tangan (handmade), volume produksi terbatas (limited production), serta cerita di balik setiap produk. Namun, ia menekankan pentingnya pemenuhan standar keamanan produk dan keberlanjutan bahan baku agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar Korea Selatan.
Sekilas Perdagangan Indonesia-Korea Selatan
Pada Januari—Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan mencapai USD 7,61 miliar. Pada periode ini, nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan mencapai USD 4,05 miliar dan impor Indonesia dari Korea Selatan sebesar USD 3,56 miliar. Sementara itu, pada 2025, total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan mencapai USD 18,04 miliar. Pada tahun tersebut nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan mencapai USD 10,14 miliar dan impor Indonesia dari Korea Selatan USD 7,90 miliar.
Pada 2025, ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan terbesar, antara lain, batu bara dan batu bara bitumen, lithium ion, biji tembaga dan konsentratnya, dan minyak asam dari pemurnian. Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dari Korea Selatan terbesar pada 2025, antara lain, penyimpanan elektronik, bagian dari rangkaian terpadu (integrated circuit), prosesor elektronik, fero-molibdenum, dan kosmetik.
--selesai--
Sumber: Atase Perdagangan RI Seoul
Disunting oleh Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan