Melbourne, 27 Januari 2026 – Indonesia gencar memperkuat ekosistem ekspor nasional dengan meluncurkan pendekatan strategis baru yang menyasar diaspora pelajar. Indonesia melalui Kementerian Perdagangan terus memantapkan ‘Program Talenta Kewirausahaan Ekspor Pelajar Indonesia’ yang dikukuhkan melalui penyelenggaraan Seminar Ekspor di The University of Melbourne, Australia, Jumat (23/1).
Seminar bertajuk ”Market Access to Market Success: Unlocking the Potential of Indonesian Export to Australia" ini dibuka secara resmi oleh Konsul Jenderal RI Melbourne Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo dan dihadiri secara hibrida oleh peserta yang terdiri dari mahasiswa, diaspora, serta pelaku usaha dari berbagai wilayah. Acara ini merupakan kerja sama antara Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan RI Canberra dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia dan Mata Garuda Australia-New Zealand.
Atase Perdagangan RI Canberra, Agung Haris Setiawan mengungkapkan bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga merupakan modal strategis dalam diplomasi ekonomi. Hal tersebut karena mereka memiliki pemahaman langsung terhadap budaya, regulasi, serta preferensi pasar setempat. “Saat ini, terdapat lebih dari 20 ribu pelajar Indonesia di Australia. Mereka memiliki potensi besar, baik sebagai ‘duta pasar’ yang memperkenalkan produk Indonesia, maupun sebagai calon eksportir masa depan yang memahami kebutuhan dan standar pasar lokal. Melalui program ini, kami ingin mengonversi potensi akademik tersebut menjadi kekuatan ekonomi riil,” tegas Haris.
Menurut Haris, momentum pelaksanaan seminar ini dinilai sangat strategis di tengah tren positif kinerja perdagangan kedua negara. Merujuk data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-Australia pada periode terakhir tercatat mencapai USD 15,4 miliar (data BPS 2024) dengan pertumbuhan ekspor nonmigas yang menjanjikan. Potensi pasar yang besar ini menjadi landasan utama pelibatan diaspora pelajar secara lebih masif.
Ia menambahkan bahwa saat ini, banyak mahasiswa Indonesia, termasuk para penerima beasiswa LPDP, menempuh studi di bidang bisnis dan manajemen. Kementerian Perdagangan mendorong mereka untuk melakukan experiential learning dengan terlibat langsung dalam pengamatan pasar (market sensing), promosi, hingga pendampingan business matching bagi UMKM.
"Ketika kembali ke Indonesia, para mahasiswa Indonesia diharapkan dapat menjadi eksportir yang menguasai karakteristik pasar setempat. Sebaliknya, jika menetap di Australia, mereka berpotensi menjadi importir atau distributor andal bagi produk Indonesia. Salah satu contoh nyata yaitu kisah sukses Michael Samsir dengan Waroeng SS Australia yang juga hadir sebagai narasumber pada seminar ini," imbuh Haris.
Guna memastikan keberlanjutan program, Atdag RI Canberra juga memperkenalkan ekosistem digital pendukung, seperti portal tanya-atdag.au dan AI Chatbot KSATRIA. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan layanan konsultasi 24 jam dan pendampingan ekspor yang mudah diakses oleh mahasiswa maupun UMKM.
“Melalui sinergi ini, Kemendag optimistis target peningkatan ekspor nonmigas ke Australia dalam kerangka IA-CEPA dapat terakselerasi melalui lahirnya generasi baru pelaku usaha yang berwawasan global,” pungkas Haris.
Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber yang merepresentasikan kolaborasi kuat antara pemerintah dan praktisi, diantaranya Managing Director Waroeng SS Australia, Michael Samsir; Founder Ekspor.id, Choirul Amin; Presiden PPI Australia, Muhammad Hadiyan Ridho; dan Presiden Mata Garuda Australia-New Zealand, Jonathan Hasian Haposan.
Managing Director Waroeng SS Australia, Michael Samsir sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini menjadi contoh nyata mahasiswa Indonesia di Australia yang mampu bertransformasi menjadi pelaku usaha dan penghubung pasar Indonesia dan Australia. Kiprahnya bersama komunitas diaspora turut membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri dapat berkontribusi nyata dalam diplomasi ekonomi.
Sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi tersebut, Indonesia Culinary Association of Victoria (ICAV) —organisasi diaspora kuliner Indonesia di Melbourne yang turut ia dorong— berhasil meraih Primaduta Award pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2024. Penghargaan ini menjadi bukti konkret peran diaspora pelajar dan alumni Indonesia dalam memperkuat penetrasi produk dan kuliner Indonesia di pasar Australia.
Melalui keterlibatan Michael dan para pelaku diaspora lainnya, program ini diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa Indonesia lain untuk terlibat aktif dalam ekosistem ekspor. Dengan demikian, ketika kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi, mereka dapat tumbuh menjadi eksportir produk Indonesia yang memahami pasar global. Sementara bagi yang menetap di Australia, mereka berpotensi menjadi buyer, importir, atau pelaku usaha yang secara berkelanjutan memasarkan produk Indonesia di Australia.
Selanjutnya, Presiden PPI Australia, Muhammad Hadiyan Ridho menegaskan bahwa PPI Australia siap menjadi mitra strategis pemerintah. "Dengan basis massa yang besar, PPI Australia siap mengintegrasikan kapasitas akademik pelajar dengan kebutuhan nyata ekosistem ekspor, menjadikan pelajar sebagai early adopter sekaligus penghubung pasar," ujarnya.
Senada dengan itu, Presiden Mata Garuda Australia-New Zealand, Jonathan Hasian Haposan menekankan bahwa alumni LPDP siap menjadi jembatan strategis diplomasi ekonomi. Kolaborasi ini menciptakan peluang bisnis berkelanjutan dan memperkuat rantai pasok Indonesia ke pasar global.
--selesai--