Diplomasi Budaya dan Ekonomi Kreatif, Novel Gadis Kretek Bahasa Korea Dorong Penguatan Promosi Produk Indonesia
Seoul, 15 April 2026 – Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI Seoul di Korea Selatan mendukung upaya penguatan diplomasi budaya dan diplomasi ekonomi kreatif yang dilaksanakan Kedutaan Besar RI Seoul. Salah satu upayanya dengan mempromosikan novel Gadis Kretek dalam bahasa Korea, dalam rangka meningkatkan ekspor produk kreatif pada subsektor Penerbitan ke Negeri Ginseng.
Rangkaian promosi meliputi konferensi pers dengan media Korea Selatan di ASEAN-Korea Centre, dan Book Talk bertajuk “Beyond the Smoke” di Seoul pada 13 Maret 2026. Selain itu, diadakan pula serta Book Concert di National Asian Cultural Center (ACC) Gwangju pada 14 Maret 2026. Antusiasme tinggi terlihat dari pendaftar acara yang mencapai 150 orang, serta interaksi aktif para peserta saat berdiskusi tentang sejarah industri kretek dan dinamika sosial budaya Indonesia.
Dalam konferensi pers (13/3), Duta Besar RI untuk Korea Selatan Cecep Herawan menyampaikan bahwa, “Karya sastra dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman antar masyarakat kedua negara. Penerbitan novel ini bukan sekedar penerjemahan karya sastra, tetapi juga simbol komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya Indonesia dan Korea.”
Kolaborasi antara KBRI Seoul dan ACC Gwangju juga membuka peluang kerja sama lanjutan dalam pengembangan program promosi budaya berkelanjutan yang berorientasi ekonomi. Penulis Gadis Kretek Ratih Kumala pun menjelaskan perjalanan Gadis Kretek hingga diadaptasi menjadi serial di Netflix. Adaptasi ini dinilai memperluas eksposur global terhadap narasi dan branding Indonesia.
Sementara itu, Atdag RI Seoul Roesfitawati mengungkapkan, peluncuran perdana novel Gadis Kretek dalam bahasa Korea dapat membuka jalan dan memotivasi pekerja kreatif Indonesia lainnya untuk memperkuat diplomasi budaya ke Korea Selatan. Selain menawarkan alur kisah yang menarik, sebuah novel sekaligus dapat menjadi ruang promosi bagi barang dan jasa. Menurut Roesfitawati, jika dimanfaatkan secara strategis, momentum peluncuran novel di pasar internasional dapat menjadi praktik terbaik untuk integrasi budaya dan perdagangan Indonesia di pasar global.
“Peluncuran novel Gadis Kretek di Korea Selatan merupakan kegiatan literasi sekaligus instrumen soft diplomacy, sarana nation branding, dan pintu masuk ekspansi produk-produk Indonesia yang bernilai tambah seperti makanan, minuman, kerajinan, fesyen dan pariwisata,” ujar Roesfitawati.
Sebagai bagian dari strategi promosi terpadu budaya Indonesia, KBRI Seoul memperkenalkan kopi Gayo dalam bentuk kantong saring (drip bag coffee) di momen peluncuran novel Gadis Kretek tersebut. Roesfitawati mengungkapkan, pendekatan ini menunjukkan promosi budaya dapat dikaitkan langsung dengan pengenalan produk unggulan ekspor Indonesia, dalam hal ini kopi yang memiliki potensi pasar besar di Korea Selatan.
“Kopi Gayo dipilih karena telah memiliki reputasi global di segmen premium kopi specialty, sesuai dengan preferensi konsumen Korea yang menyukai kopi bertekstur lembut dan cita rasa yang seimbang (smooth and balanced). Popularitas kopi gayo di Korea Selatan juga didukung storytelling yang menarik, yaitu tentang sejarah Provinsi Aceh sebagai wilayah dengan identitas budaya autentik,” ujar Roesfitawati.
Salah satu jurnalis Korea Selatan yang hadir dalam peluncuran novel Gadis Kretek Bahasa Korea, Kim Yutae, mengungkapkan ketertarikannya di acara ini. Ia berucap, promosi terintegrasi ini menjadi kombinasi yang unik antara literatur, sejarah, dan budaya rasa.
Sementara itu, Chairperson HansaeYes24 Foundation Baek Sumi menyoroti pentingnya publikasi karya sastra Indonesia. HansaeYes24 Foundation sebelumnya juga telah mempromosikan budaya Indonesia melalui pameran batik dan penerbitan karya sastra Indonesia lainnya. Aktivitas ini menunjukkan konsistensi dalam membangun jembatan budaya sekaligus pasar.
“Pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca dan memperkuat pemahaman lintas budaya. Sastra Asia Tenggara memiliki nilai penting dalam memperkaya dialog budaya di Korea Selatan. Korea Selatan perlu membuka diri terhadap berbagai karya sastra dari budaya lain,” ungkap Sumi.
Pada Januari—Februari 2026, total perdagangan Indonesia-Korea Selatan mencapai USD 3 miliar dan mencatatkan surplus USD 326,5 juta. Sementara itu, pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 18, miliar. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan mencapai USD 10,1 miliar dan impor Indonesia dari Korea Selatan sebesar USD 7,9 miliar. Indonesia surplus USD 2,2 miliar.
Sementara itu, nilai ekspor kopi dari Indonesia ke Korea Selatan tahun 2025 mencapai USD 15,94 juta atau naik 42,19 persen dibandingkan tahun 2023. Indonesia menempati posisi ke-14 sebagai pemasok kopi di negara tersebut.
--selesai--