Debut di Saudi Fashion & Tex Expo 2026, Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp20,25 Miliar
Riyadh, 27 Oktober 2026 – Produk fesyen dan tekstil Indonesia berhasil mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 1,12 juta atau sekitar Rp20,25 miliar pada partisipasi perdananya di Saudi Fashion & Tex Expo 2026. Pameran ini berlangsung di Jeddah Center for Exhibitions & Events (JCEE), Jeddah, Arab Saudi, pada 24—27 September 2026 dan diikuti oleh lebih dari 550 perusahaan dari 22 negara.
Partisipasi Indonesia pada Saudi Fashion & Tex Expo 2026 merupakan hasil kolaborasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Riyadh, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah, dan Kementerian Perdagangan RI. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan promosi produk fesyen dan tekstil Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi mengatakan, capaian pada Saudi Fashion & Tex Expo 2026 menunjukkan besarnya peluang pasar Arab Saudi bagi produk fesyen dan tekstil Indonesia. “Melalui promosi yang berkelanjutan, penjajakan bisnis yang intensif, dan penguatan daya saing produk, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemasok produk fesyen muslim dan tekstil unggulan di kawasan Timur Tengah,” ujar Puntodewi.
Pameran yang diselenggarakan oleh Pyramids Group ini mempertemukan pelaku industri fesyen dan tekstil global, mulai dari produsen, pemasok, buyer, importir, distributor, hingga peritel dari berbagai negara. Selama penyelenggaraan pameran, Paviliun Indonesia mencatat sekitar 1.208 pengunjung dan menghasilkan 82 kontak dagang potensial yang membuka peluang kerja sama bisnis serta transaksi lanjutan.
Pada pameran ini, Paviliun Indonesia menampilkan sepuluh perusahaan terpilih yang terdiri atas delapan perusahaan fesyen dan dua perusahaan tekstil. Delapan perusahaan fesyen tersebut, yaitu Sarinah, Modest Luxe, Crucil, Hikmat, Intanaka, Karina Design, Irna La Perle, dan Khanaan, yang menampilkan berbagai produk seperti modest fashion, busana muslim, abaya, dan gaun. Sementara itu, dua perusahaan tekstil, yaitu PT Yoshi Utama (Yoshitex) dan Shifasco, memamerkan bahan tekstil untuk pembuatan thobe dan abaya.
Sebelum penyelenggaraan pameran, KBRI Riyadh telah memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) kesepuluh perusahaan Indonesia dengan tiga calon buyer Arab Saudi, yaitu Adnan Ali Baselim Trd. Est., Algitan Alzahaby Trading Est., dan Al-Wasamah Est. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan kualitas dan spesifikasi produk Indonesia serta membuka peluang kerja sama dagang. Selama pameran, upaya tersebut diperkuat melalui serangkaian pertemuan bisnis dengan calon mitra dari Arab Saudi.
Pada pembukaan pameran, Konsul Jenderal RI di Jeddah, Sugiri Suparwan, menyoroti besarnya potensi pasar Arab Saudi. Ia menilai masih besarnya ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor fesyen dan tekstil ke Arab Saudi melalui perluasan pangsa pasar dan penguatan promosi dagang.
“Keberlanjutan koordinasi dan kolaborasi antara KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah sangat penting untuk terus mempromosikan produk fesyen dan tekstil Indonesia agar semakin dikenal di pasar Arab Saudi,” tegas Sugiri.
Selain pameran dagang, Indonesia juga menyelenggarakan Halal Creative Forum bertema "How Indonesia's Creative Industry Unlock Saudi Arabia Market". Forum tersebut membahas strategi peningkatan daya saing produk Indonesia, penguatan merek, pemahaman karakteristik konsumen Saudi, serta pengembangan ekosistem halal untuk mendorong peluang bisnis yang lebih konkret antara Indonesia dan Arab Saudi.
Atase Perdagangan RI Riyadh, Zulvri Yenni mengatakan, tingginya permintaan pasar Arab Saudi terhadap bahan dan produk tekstil menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pangsa ekspor di negara tersebut. Seiring berkembangnya ekosistem fesyen di Arab Saudi, Indonesia perlu membangun kehadiran yang berkelanjutan melalui promosi produk, partisipasi pada pameran dan fashion event, serta kolaborasi antara pelaku industri kedua negara. Strategi tersebut tidak hanya menjadikan Arab Saudi menjadi pasar ekspor, tetapi juga sebagai mitra strategis dan pintu masuk bagi industri fesyen Indonesia di kawasan Timur Tengah.
“Kami mengajak pelaku usaha untuk memanfaatkan pameran sebagai langkah awal dalam mengintensifkan promosi pasar produk fesyen dan tekstil Indonesia. Perwakilan perdagangan RI berkomitmen memperluas jangkauan produk Indonesia melalui sejumlah fasilitasi seperti konsultasi ekspor, informasi pasar, dan business matching,” ujar Zulvri.
Salah satu peserta pameran, yaitu pemilik Karina Design, Rina Angrainy, mengungkapkan kegembiraannya karena terpilih sebagai peserta pameran Saudi Fashion & Tex Expo 2026. Ia berharap dapat makin memperkenalkan produk fesyen Indonesia di pasar Arab Saudi. “Kami sangat senang dapat terpilih sebagai peserta pameran Saudi Fashion and Tex di Jeddah dari 182 perusahaan yang mendaftar mewakili Indonesia. Kami berharap, pameran ini dapat terus berlanjut karena pasar Arab Saudi menyukai bahan serta motif produk kami yang sederhana dan unik,” kata Rina.
Sekilas Perdagangan Indonesia—Arab Saudi
Pada Januari–Agustus 2026, total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi tercatat sebesar USD 2,17 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 1,39 miliar, sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Arab Saudi sebesar USD 774,1 juta. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 619,6 juta terhadap Arab Saudi.
Sementara itu, pada periode Agustus 2025 hingga Agustus 2026, nilai ekspor fesyen Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 17,55 juta atau sekitar 0,84 persen pangsa pasar, sedangkan impor produk fesyen Arab Saudi dari Indonesia senilai USD 2,09 miliar. Untuk produk tekstil, impor Arab Saudi mencapai USD 598,55 juta dengan kontribusi Indonesia sebesar USD 12,79 juta atau 2,14 persen pangsa pasar.
--selesai--
Sumber: Atase Perdagangan RI Riyadh
Disunting oleh Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan