Catatkan Potensi Transaksi Rp419 Miliar, Indonesia Tampil Memukau di SENA 2026
Boston, 8 April 2026 – Indonesia tampil memukau dalam ajang Seafood Expo North America (SENA) 2026 pada 15–17 Maret 2026 di Boston Convention and Exhibition Center, Amerika Serikat (AS). Partisipasi tersebut mencatatkan capaian positif melalui raihan potensi transaksi sebesar USD 24,7 juta atau setara Rp419 miliar.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI Fajarini Puntodewi, dalam kesempatan terpisah, menanggapi potensi transaksi tersebut. Raihan ini mencerminkan kuatnya daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global. Ia menambahkan, tingginya minat terhadap komoditas unggulan Indonesia turut didorong kualitas produk, konsistensi pasokan, serta komitmen terhadap praktik keberlanjutan dan ketertelusuran (traceability) yang diusung pelaku usaha Indonesia.
“Potensi transaksi sebesar Rp419 miliar menunjukkan tingginya minat pasar global terhadap produk perikanan Indonesia. Minat terhadap komoditas unggulan seperti udang dan tuna tetap kuat, didukung persepsi positif atas kualitas produk, konsistensi pasokan, serta komitmen terhadap praktik keberlanjutan (sustainability) dan ketertelusuran,” ujar Puntodewi.
Sementara itu, Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C. Ranitya Kusumadewi memaparkan lebih detail terkait potensi transaksi yang dicatatkan. Ia mengatakan, lebih dari 50 pertemuan bisnis (business-to-business/B2B) pelaku usaha Indonesia dengan buyer dan importir utama di AS, baik mitra yang sudah ada maupun calon mitra baru, menjadi sumber dari potensi transaksi tersebut.
“Produk perikanan Indonesia seperti tuna, udang, kakap merah, gurita, cumi, dan tilapia mendapatkan respons positif dari sisi kualitas, harga, dan konsistensi pasokan. Selain transaksi langsung, sejumlah penjajakan kerja sama juga berpotensi berkembang menjadi kontrak pembelian dalam beberapa bulan ke depan,” tutur Ranitya.
Mengusung tema “Indonesian Seafood: Naturally Diverse, Safe, and Sustainable”, Paviliun Indonesia hadir menempati area seluas kurang lebih 55,7 m² di booth nomor 2664. Paviliun Indonesia juga menampilkan penguatan penjenamaan komoditas melalui sejumlah subtema, antara lain, “Indonesian Tuna: Sustainable by Tradition, One-by-One”, “Indonesian Shrimp: Discover the Taste of 17,000 Islands”, serta “Indonesian Pangasius: The Better Choice”.
Tidak hanya sebagai etalase produk, Paviliun Indonesia juga berfungsi sebagai hub kolaboratif yang dimanfaatkan sebagai ruang berjejaring, pelaksanaan pertemuan bisnis, serta diskusi antara pelaku usaha Indonesia dan pemerintah terkait isu pasar dan kebijakan.
Partisipasi Indonesia pada SENA 2026 melibatkan lima mitra dari asosiasi dan perusahaan nasional, yaitu Asosiasi Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) yang diwakili oleh PT Benteng Laut Sejahtera, serta PT Intimas Surya, PT Dharma Samudra Fishing Industries Tbk, dan PT Sari Tuna Makmur.
Di sela pameran, Pemerintah Indonesia juga melakukan sejumlah pertemuan strategis dengan pemangku kepentingan di AS, antara lain, National Fisheries Institute (NFI), U.S. Food and Drug Administration (USFDA), dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). “Pertemuan ini membahas isu penting seperti standar keamanan pangan, implementasi Marine Mammal Protection Act (MMPA), serta dinamika kebijakan perdagangan yang berpotensi memengaruhi akses pasar produk perikanan Indonesia,” ucap Ranitya.
Meskipun pelaksanaan SENA 2026 berlangsung di tengah dinamika global, Ranitya melihat minat terhadap produk boga bahari tetap kuat. Indonesia pun dipersepsikan sebagai pemasok yang kompetitif, andal, dan adaptif terhadap perubahan standar global.
“Minat terhadap produk boga bahari secara umum tetap relatif kuat dan menunjukkan sektor ini masih memiliki fundamental permintaan yang solid di pasar global khususnya AS. Dalam sejumlah forum diskusi dan interaksi dengan pelaku industri, Indonesia disebut sebagai mitra yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pasar, standar kualitas, serta perkembangan regulasi global,” ujar Ranitya.
Sementara itu, Pemilik sekaligus Direktur PT Sari Tuna Makmur, Sugito Wahid, menyampaikan, SENA 2026 menjadi peluang strategis untuk memperkuat promosi tuna Indonesia di pasar global. “Partisipasi dalam pameran ini memberi kami kesempatan untuk menjangkau buyer baru sekaligus memperkuat hubungan dengan buyer yang sudah ada. Bagi perusahaan kami, membangun relasi yang kuat dan menjaga kemitraan jangka panjang merupakan fondasi utama. Selain itu, pameran ini juga menjadi sarana pembelajaran yang berharga untuk mengeksplorasi peluang baru serta memahami lebih dalam ekspektasi pasar AS,” ujar Sugito.
SENA 2026 merupakan merupakan salah satu pameran boga bahari terbesar di dunia yang diikuti lebih dari 1.200 peserta dari lebih dari 50 negara, serta berhasil menarik sekitar 20.000 pengunjung dari berbagai penjuru dunia.
Sekilas Perdagangan Indonesia-AS
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemendag, ekspor produk perikanan Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 201,12 juta pada periode Januari–Februari 2026. Sementara itu, pada 2025, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai USD 1,17 miliar.
Selanjutnya, total nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 43,80 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia ke AS sebesar USD 30,96 miliar pada 2025.
--selesai--
Sumber: Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer dan Atase Perdagangan RI Washington D.C.
Disunting oleh Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan