Catat Potensi Transaksi Rp3,49 Triliun di Pameran Negeri Sakura, Kemendag Ajak Eksportir Terus Optimalkan IJEPA
Tokyo, 8 September 2026 – Pelaku usaha boga bahari Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 198,33 juta, atau setara Rp3,49 triliun, dalam pameran boga bahari di Jepang, yaitu “The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026”. Pameran tersebut terselenggara pada 19—21 Agustus 2026 di Tokyo Big Sight, Tokyo.
Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, potensi transaksi tersebut merefleksikan besarnya potensi pasar produk perikanan Indonesia di Jepang. Ia pun mengajak eksportir produk boga bahari Indonesia untuk terus mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dalam upaya menembus pasar produk ikan olahan Negeri Sakura.
“Potensi transaksi pada JISTE 2026 menunjukkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di Jepang. Peluang nyata ini dapat terus dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia, termasuk dengan mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan IJEPA. Dengan kerja sama tersebut, akses pasar ke Jepang semakin terbuka melalui kebijakan tarif nol persen untuk produk ikan olahan asal Indonesia,” ujar Puntodewi secara terpisah.
Berdasarkan penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dan buyer Jepang selama pameran, tuna dalam berbagai bentuk dan olahannya menjadi produk dengan potensi transaksi terbesar. Produk lainnya yang direspons positif meliputi gurita, ikan kisu, serta produk udang goreng (ebi fry). Selain itu, cakalang, rajungan, cumi-cumi, sotong, olahan ikan teri (chirimen), telur ikan (tobiko), bulu babi (uni), serta berbagai produk hasil laut olahan menarik perhatian buyer.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, mengatakan, implementasi Protokol Perubahan IJEPA yang memberikan tarif nol persen untuk produk ikan olahan asal Indonesia telah membuka pasar yang lebih luas. Hal ini sangat diperlukan, mengingat sektor perikanan merupakan salah satu pilar penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang.
“Selain itu, untuk menjaga kepercayaan mitra Jepang, pelaku usaha Indonesia perlu menunjukkan komitmen, konsistensi, dan kontinuitas pasokan. Kepercayaan dari mitra Jepang dibangun tidak hanya dari kualitas produk, tetapi juga dari keandalan dan transparansi dalam memenuhi komitmen,” ujar Dubes Kartini.
JISTE 2026 diikuti 700 perusahaan dari 19 negara dan dikunjungi 30.091 pengunjung, meningkat 7,73 persen dibandingkan JISTE 2025 dengan 27.932 pengunjung. Sementara itu, Paviliun Indonesia di JISTE 2026 menempati area seluas 72 m2 dan diikuti 14 perusahaan Indonesia. Keikutsertaan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kemendag melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Osaka dan Atase Perdagangan Tokyo, Kedutaan Besar RI Tokyo, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan ASEAN-Japan Centre.
Perusahaan-perusahaan yang ikut serta adalah PT Unimitra Andalan Sejati, PT Bahari Biru Nusantara, CV Karimun Mina Sejahtera, PT Sinar Surya Alam, PT Kilau Marine International, PT Berkat Matsya Nusantara, PT Amy Pasifik Morotai, PT Nirvana Niaga Sejahtera, PT Empat Berkah Milioner, PT Edmar Mandiri Jaya, PT Makan Udangnya Indonesia, PT Buana Laut Nusantara, PT United Oceans Worldwide, dan PT FLX International Group.
Partisipasi di JISTE 2026 juga menghasilkan tindak lanjut kerja sama bisnis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Nirvana Niaga Sejahtera dan Godai Co., Ltd. dari Jepang untuk kerja sama pengembangan produk sashimi-grade yellowfin tuna loin. Nilai potensi transaksi tercatat sebesar USD 9,6 juta atau sekitar Rp169,25 miliar. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan bisnis kedua perusahaan pada JISTE 2025.
Manajer Pengembangan Bisnis PT Nirvana Niaga Sejahtera, Andi Faisal, menyampaikan, partisipasi di JISTE untuk kedua kalinya berdampak positif terhadap perluasan pasar di Jepang. “JISTE 2026 sangat efektif memperkuat penetrasi pasar kami di Jepang, baik melalui MoU dengan Godai Co., Ltd. maupun penjajakan dengan empat calon buyer baru,” ujar Andi.
Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Osaka, Didit Akhdiat, berkomitmen untuk terus menggencarkan promosi produk unggulan Indonesia, termasuk perikanan, melalui upaya pemasaran, fasilitasi perdagangan, dan perluasan jejaring dengan buyer Jepang. “Kami harap, upaya ini dapat membuka akses pasar dan peluang bisnis, serta mengoptimalkan manfaat Protokol Perubahan IJEPA bagi pelaku usaha kedua negara,” ujar Didit.
Sekilas Perdagangan Indonesia-Jepang
Jepang merupakan salah satu pasar strategis bagi produk perikanan Indonesia. Pada Januari—Juni, ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang mencatatkan nilai USD 173,00 juta. Ada penurunan 7,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Penurunan ini disebabkan pelemahan ekspor beberapa komoditas seperti udang beku dan cakalang. Namun, komoditas seperti tuna, rumput laut, dan produk olahan ikan masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kondisi ini dapat mendorong terciptanya diversifikasi produk dan pasar.
Sementara itu, ekspor produk olahan perikanan Indonesia ke Jepang terus menunjukkan perkembangan positif. Pada Januari—Juni 2026, nilai ekspor produk olahan perikanan mencapai USD 45,81 juta atau sekitar Rp807,67 miliar, meningkat 29,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh beberapa produk utama, yaitu olahan tuna dan cakalang (HS 160414) sebesar USD 41,12 juta atau pangsa 89,75 persen, olahan ikan lainnya (HS 160419) sebesar USD 2,22 juta dengan pangsa 4,85 persen; olahan cumi-cumi (HS 160554) sebesar USD 1,16 juta atau 2,52 persen; serta olahan gurita (HS 160555) sebesar USD 953 ribu dengan pangsa 2,08 persen.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, mengatakan, secara tren lima tahunan, untuk periode 2021–2025, ekspor produk olahan perikanan mencatat tren pertumbuhan rata-rata sebesar 10,39 persen. Prospek ini perlu dimanfaatkan pelaku usaha untuk terus memacu ekspor produk olahan perikanan ke Jepang. “Penguatan promosi, diversifikasi produk, serta peningkatan nilai tambah dan daya saing produk olahan perikanan Indonesia perlu terus didorong untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada,” ujar Miftah.
--selesai--