Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti menjadi pembicara utama pada Kadin Sharia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Jakarta, Rabu (28 Jan).
Wamendag Roro menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga dalam Indikator Ekonomi Islam Global (Global Islamic Economy Indicator/GIEI) setelah Malaysia dan Arab Saudi pada tahun 2025. Capaian ini didukung oleh keunggulan Indonesia di berbagai sektor, seperti fesyen muslim, obat dan kosmetik halal, makan dan minuman halal, serta pariwisata ramah muslim.
Wamendag Roro juga menambahkan, sertifikasi halal dan perlindungan konsumen menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk yang beredar di pasar. Pemerintah telah menetapkan berbagai regulasi yang mewajibkan produk makanan, minuman, obat, kosmetik, dan produk tertentu lainnya untuk memiliki sertifikat halal secara bertahap.
Kemendag juga telah bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dalam pembinaan pelaku usaha, pengawasan produk halal, serta perluasan akses pasar dalam dan luar negeri. Produk halal Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing di pasar global dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produsen halal dunia.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya; Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa; Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan; Kepala Badan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah, Titi Khoiriah; dan Wakil Kepala Badan Bidang Keuangan Syariah, Banjaran Surya Indrastomo.
.
Kemendag juga telah bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dalam pembinaan pelaku usaha, pengawasan produk halal, serta perluasan akses pasar dalam dan luar negeri. Produk halal Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing di pasar global dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produsen halal dunia.