Search

Dengarkan Berita Ini

Mendag Busan: Sinergi Komunikasi dan Kebijakan Publik adalah Kunci Kejar Target Ekonomi 8 Persen

Jakarta, 18 Desember 2025 – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, instrumen komunikasi merupakan pilar penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kebijakan publik yang efektif lahir dari proses komunikasi yang inklusif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat menghadiri acara “Pelantikan Pengurus Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Jabodetabek Periode 2025–2029” di Universitas Esa Unggul, Jakarta Barat, pada Kamis, (18/12). Turut mendampingi Mendag Busan, yakni Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi dan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag) Johni Martha.

“Kebijakan publik lahir dari proses komunikasi dan interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Komunikasi publik yang baik sangat penting agar aspirasi masyarakat terserap sehingga kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran,” ungkap Mendag Busan.

Kementerian Perdagangan meraih penghargaan Arkaya Wiwarta Prajanugraha sebagai badan publik terbaik nasional dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Penghargaan tersebut menunjukkan komitmen Kemendag dalam menyampaikan informasi publik dengan konsisten, transparan, dan akuntabel.

Pada acara tersebut, Mendag Busan memaparkan tiga program prioritas Kemendag untuk mendorong perdagangan nasional, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri; Perluasan Pasar Ekspor; serta Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Ketiga program ini merupakan hasil serapan aspirasi publik.

Melalui program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Kemendag mendorong pelaku usaha lokal meningkatkan kualitas produknya agar mampu bersaing dengan produk impor dan menguasai pasar dalam negeri. “Kita jangan hanya sekadar mengampanyekan “Bangga Buatan Indonesia”, tetapi juga memastikan produk Indonesia berkualitas sehingga kita otomatis menggunakan,” kata Mendag Busan.

Melalui program Perluasan Akses Pasar Ekspor, Kemendag membuka jalan bagi produk nasional di kancah global. Saat ini, 20 perjanjian dagang telah diimplementasikan. Tahun ini saja, Kemendag merampungkan lima perjanjian strategis, yaitu Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).

“Perjanjian dagang mempermudah kita mengakses pasar luar negeri. Sekarang kita sudah mempunyai 20 perjanjian dagang yang sudah implementasi. Kita akan terus membuka pasar-pasar kita di negara-negara lainnya. Kalau kita sudah membuka pasar ini silakan industrinya masuk ke pasar itu,” ujar Mendag Busan.

Selanjutnya, melalui program UMKM BISA Ekspor, Kemendag membawa dan memfasilitasi pelaku UMKM menembus pasar internasional dengan dukungan penuh dari 46 perwakilan dagang RI di 33 negara.

Sepanjang Januari–November 2025, Kemendag telah memfasilitasi 1.132 UMKM melalui 581 kegiatan penjajakan bisnis (business matching) yang terdiri atas 377 kurasi produk (pitching) dan 204 sesi temu bisnis dengan buyer mancanegara. Tercatat, total transaksi pada periode tersebut mencapai USD 134,4 juta atau setara Rp2,1 triliun.

Rektor Universitas Esa Unggul, Arief Kusuma Among Praja, menyambut baik kehadiran Kemendag sebagai bentuk pengakuan atas peran vital ilmu komunikasi dalam ekosistem ekonomi digital dan kebijakan publik.

“Kami berharap pertemuan ini menjadi enabler bagi kebijakan perdagangan, khususnya dalam membangun narasi positif produk Indonesia untuk menggerakkan industri dan mendorong perekonomian Indonesia,” kata Arief.

Sejalan dengan Arief, Ketua Umum ASPIKOM Anang Sujoko menegaskan, komunikasi memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan sehingga menjadi penting menguasai ilmu komunikasi. “Pada era saat ini, komunikasi hadir dalam setiap aspek kehidupan, maka ilmu komunikasi menjadi sebuah kenyataan yang harus kita kuasai,” ujar Anang.

Sementara itu, Ketua ASPIKOM Jabodetabek terpilih, Erna Febriani, menekankan tanggung jawab asosiasi dalam mengawal transformasi komunikasi yang adaptif dan etis. “Tantangan komunikasi ke depan tidak mudah, perlu kolaborasi lintas sektor agar pengembangan ilmu komunikasi berdampak nyata bagi masyarakat,” jelas Erna.

Pameran Produk Mahasiswa

Sebelum menyampaikan pidato kunci, Mendag Busan meninjau pameran produk mahasiswa anggota ASPIKOM di Universitas Esa Unggul. “Saya mengapresiasi pameran produk-produk dari mahasiswa. Kami ingin mahasiswa setelah lulus bisa menjadi entrepreneur, langsung bekerja tanpa harus mencari pekerjaan,” ujar Mendag Busan.

Rini dan Rina, mahasiswa Universitas Esa Unggul memamerkan produk beras yang awalnya merupakan tugas kuliah. Dalam satu bulan, mereka berhasil menjual hingga 10 ton beras. “Kami berharap penjualan kami semakin meningkat menjadi 50 ton sampai 100 ton setiap bulannya,” kata Rini.

Ada juga Lubna dari jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul yang memamerkan karya buatan tangan yang fungsional (handmade functional art). Ia sukses menembus pasar Amerika Serikat, Malaysia, dan Selandia Baru. “Harapannya, bisa ikut lebih banyak pameran lagi hingga ke negara tetangga,” ujar Lubna.

--selesai--

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers