Hari Pertama TEI ke-41, Sebanyak 168 MoU Senilai USD 13,2 Miliar Ditandatangani
Kabupaten Tangerang, 14 Oktober 2026 – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyaksikan penandatanganan 168 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara pelaku usaha Indonesia dan buyer luar negeri senilai USD 13,2 miliar pada Rabu, (14/10). MoU tersebut ditandatangani pada hari pertama pelaksanaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Pameran dagang internasional terbesar di Indonesia ini akan berlangsung hingga Minggu, (18/10).
“Penandatanganan MoU di hari pertama TEI ke-41 menjadi penanda dimulainya sinergi antara pelaku usaha Indonesia dan para buyer luar negeri. MoU ini membuktikan produk Indonesia memiliki kualitas yang unggul sehingga diminati dan dipilih pasar luar negeri,” ujar Mendag Busan usai menyaksikan penandatanganan MoU.
Penandatanganan MoU hari ini merupakan hasil rangkaian penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dan buyer mancanegara yang dilaksanakan sebelum TEI ke-41 berlangsung. Penjajakan-penjajakan bisnis tersebut didukung Kedutaan Besar RI, Konsulat Jenderal RI, atase perdagangan RI, dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri.
Mendag Busan mencatat, Belanda, India, dan Jepang menjadi 3 dari 22 negara dengan potensi transaksi terbesar pada penandatanganan hari ini. Sementara itu, produk-produk dengan nilai MoU terbanyak meliputi roti, pastri, kue, biskuit, dan produk roti; batu bara; briket dan bahan bakar padat sejenis yang terbuat dari batu bara; furnitur atau mebel lainnya beserta bagian-bagiannya; serta kertas dan karton tidak dilapisi. Kemudian, dilakukan juga penandatanganan MoU untuk investasi bidang jasa.
“Penandatanganan MoU di hari pertama TEI ke-41 menjadi awal yang baik bagi eksportir Indonesia dan buyer untuk saling bekerja sama dan membangun peluang saling menguntungkan. Kementerian Perdagangan akan memastikan agar MoU ini dapat terealisasikan dan semoga kerja sama dapat dilakukan secara berkelanjutan,” kata Mendag Busan.
Ameer Ali bin Mydin Mohamed, pemilik jaringan ritel hypermarket asal Malaysia, Mydin, mengapresiasi produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan Indonesia. Mydin telah bekerja sama dengan Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Menurut Ameer, kreativitas Indonesia dalam hal inovasi rasa, ragam produk, hingga kemasan menjadi daya tarik untuk perusahaannya. Selain itu, Ia mengaku Indonesia memiliki cita rasa yang disukai pasar Malaysia.
“Menurut saya, penting untuk bisnis menawarkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru sehingga konsumen datang ke kami. Kami melihat Indonesia punya kreativitas ini. Dengan adanya perbedaan, membuat pelanggan lebih dari sekadar puas,” ujar Ameer.
Richard Changay, International Marketing Manager dari PT Wahana Kosmetika Indonesia (WKI), perusahaan yang memproduksi merek Azarine dan Nuface, menyatakan Kemendag mendukung perusahaannya lewat diskusi dan masukan mengenai karakteristik pasar Malaysia sehingga perusahaannya dapat masuk ke pasar Malaysia dengan lebih baik. Selain itu, PT WKI telah mengikuti sejumlah acara dan pameran dengan dukungan fasilitas Kemendag.
“Kami harap, bisnis kami bisa (berjalan) lebih baik, lebih lancar, dan ekspansinya lebih dari pasar yang sudah ada. Kami juga berharap, Kemendag bisa memfasilitasi ekspansi bisnis PT WKI ke pasar internasional lainnya,” ujar Richard.
--selesai--