Search

Indonesia Bawa Agenda AI, UMKM Digital, dan Ekonomi Hijau ke Forum APEC

  Dengarkan Berita Ini

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri di Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (28/4/2026)(KOMPAS.com/IZZATUN NAJIBAH )

JAKARTA, KOMPAS.com- Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menilai transformasi digital dan transisi menuju ekonomi hijau kini menjadi faktor utama yang membentuk ulang pola perdagangan serta investasi global.

Roro mengatakan penguatan kerja sama antarnegara menjadi penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi baru dapat dirasakan lebih luas dan inklusif.

“Transformasi digital dan transisi hijau tengah membentuk ulang pola perdagangan dan investasi global,” kata Roro dalam The 32nd Asia Pacific Economic Cooperation Ministers Responsible for Trade (APEC MRT) Meeting sesi kedua bertema “Foster New Engines of Innovative and Dynamic Trade and Investment Cooperation” di Suzhou, China, seperti disampaikan dalam keterangan resmi, Rabu (27/5/2026).

“Oleh karena itu, kerja sama yang lebih kuat diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan inklusif oleh seluruh ekonomi,” ujar Roro.

Roro mengatakan perekonomian global masih menghadapi tantangan pertumbuhan yang cenderung melambat dan tidak merata.

Situasi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari dinamika geopolitik, ancaman perubahan iklim, hingga fragmentasi rantai pasok dunia.

Negara anggota APEC dinilai perlu memperkuat kolaborasi untuk membangun kawasan yang lebih resilien, inklusif, dan siap menghadapi perubahan masa depan.

Sektor digital menjadi salah satu perhatian utama Indonesia.

Indonesia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara.

Pemanfaatan teknologi dinilai mampu menekan biaya transaksi dan mempercepat proses bisnis serta perdagangan internasional.

Indonesia juga mencatat pertumbuhan ekonomi digital yang terus menguat.

Nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital nasional diperkirakan mendekati 100 miliar dollar Amerika Serikat (AS) pada 2025.

Capaian tersebut menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi domestik.

Indonesia juga terus memperluas pemanfaatan AI dalam sektor perdagangan melalui pengembangan inisiatif TradeAI.

Program ini diarahkan untuk menyederhanakan proses kepabeanan, meningkatkan efisiensi logistik, serta mempercepat arus perdagangan lintas batas.

Indonesia menitikberatkan tiga agenda utama agar transformasi digital berjalan lebih merata.

Tiga agenda itu meliputi perluasan infrastruktur digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan transfer teknologi, serta penguatan digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Penguatan digitalisasi UMKM diarahkan agar pelaku usaha mampu menembus pasar global melalui berbagai program, seperti UMKM Go Digital dan UMKM BISA Ekspor.

Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga ruang kebijakan nasional dalam tata kelola data dan ekonomi digital.

Kerja sama regional tetap perlu diperkuat, khususnya dalam perdagangan digital, harmonisasi standar yang inklusif, serta digitalisasi sistem fasilitasi perdagangan.

“Pengembangan AI harus didasarkan pada prinsip kepercayaan, keamanan, dan inklusivitas, serta didukung investasi pada infrastruktur dan penguatan kapasitas,” kata Roro.

Transisi hijau juga dipandang Indonesia sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang semakin penting bagi kawasan.

Pemerintah terus memperkuat agenda ekonomi hijau dengan mengintegrasikan aspek industri, perdagangan, dan keberlanjutan dalam strategi pembangunan nasional.

Roro mengatakan arah pembangunan ekonomi tidak hanya perlu mendorong pertumbuhan.

Pembangunan juga harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris atau Paris Agreement dan berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2030.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan program hilirisasi mineral kritis serta pembangunan ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang terintegrasi.

Langkah itu diarahkan untuk mendukung rantai pasok regional.

Indonesia juga diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik di kawasan ASEAN.

Roro menegaskan Indonesia menyambut positif penguatan kolaborasi kawasan melalui berbagai inisiatif, termasuk APEC EV Supply Chain.

Kebijakan industri yang mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan domestik dinilai penting.

Manfaat ekonomi dari pengolahan tersebut diharapkan dapat dirasakan secara lebih adil dan berkelanjutan.

Roro juga menyoroti kebutuhan dukungan yang lebih merata dalam proses transisi hijau.

Dukungan tersebut mencakup akses pembiayaan, transfer teknologi, penguatan kapasitas, hingga ketersediaan sumber daya, terutama bagi negara berkembang dan kelompok rentan.

Indonesia menilai APEC memiliki posisi strategis untuk mendorong perdagangan produk ramah lingkungan.

APEC juga dinilai dapat memperluas kerja sama energi terbarukan dan efisiensi energi, memperkuat transfer teknologi, serta meningkatkan capacity building antaranggota ekonomi.

“Indonesia turut menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi global tidak boleh menciptakan hambatan perdagangan baru,” ujar dia.

Kebijakan terkait karbon perlu diterapkan secara transparan, nondiskriminatif, dan sejalan dengan aturan perdagangan multilateral.

Kebijakan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi dan tingkat pembangunan masing-masing ekonomi.

“Melalui forum APEC MRT 2026, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama perdagangan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan melalui penguatan digitalisasi dan ekonomi hijau,” tegasnya.

Penulis: Kiki Safitri

** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (kompas.com)

  • Share