Harga CPO dan kakao turun pada November 2026, namun pungutan ekspor tetap 12,5%. Penurunan harga dipengaruhi oleh stok dan dinamika pasar global.
Truk menurunkan muatan tandan buah segar dari kebun sawit milik PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG)./DSNG
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan biji kakao terkoreksi pada November 2026, masing-masing turun 6,07% dan 7,33% dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan harga referensi CPO untuk periode 1–30 November 2026 ditetapkan sebesar US$978,90 per metrik ton (MT). Nilai tersebut turun US$63,25 atau 6,07% dibandingkan dengan periode Oktober 2026 sebesar USD1.042,15 per MT.
“HR CPO periode November 2026 turun dibandingkan periode Oktober 2026. Merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berlaku, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$124 per MT serta PE CPO sebesar 12,5% dari HR CPO periode November 2026, yaitu sebesar US$122,36 per MT,” kata Tommy dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (1/11/2026).
Penetapan bea keluar (BK) CPO periode November 2026 mengacu pada Kolom Angka 7 Lampiran Huruf C PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025. Sementara itu, pungutan ekspor (PE) CPO merujuk pada Lampiran Huruf A PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Tommy menjelaskan, harga referensi CPO diperoleh dari rata-rata harga selama periode 20 September—19 Oktober 2026 di Bursa CPO Indonesia sebesar US$869,07 per MT, Bursa CPO Malaysia US$1.088,73 per MT, dan Harga Port CPO Rotterdam US$1.443,90 per MT.
Berdasarkan Permendag Nomor 35 Tahun 2025, jika selisih harga rata-rata dari ketiga sumber tersebut lebih dari US$40, harga referensi dihitung menggunakan rata-rata dua sumber harga yang menjadi median dan paling dekat dengan median.
Dengan perhitungan tersebut, harga referensi CPO November 2026 bersumber dari Bursa CPO Malaysia dan Bursa CPO Indonesia.
Adapun minyak goreng refined, bleached, and deodorized (RBD) palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat bersih maksimal 25 kilogram dikenakan BK sebesar US$31 per MT. Ketentuan tersebut tercantum dalam Kepmendag Nomor 2065 Tahun 2026.
Harga Referensi Kakao Turun 7,33%
Selain CPO, harga referensi biji kakao juga mengalami penurunan pada November 2026. Pemerintah menetapkan harga referensi biji kakao sebesar US$5.613,60 per MT, merosot US$444,27 atau 7,33% dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Penurunan harga referensi tersebut berdampak pada harga patokan ekspor (HPE) biji kakao yang turun US$444 atau 7,81% menjadi US$5.242 per MT.
Tommy menjelaskan penurunan harga referensi dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan stok menyusul masa panen di negara produsen utama, yakni kawasan Afrika Barat.
“HPE dan HR dihitung dengan memperhatikan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Terjadi peningkatan stok biji kakao akibat masa panen di negara produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu penurunan HR dan HPE biji kakao periode November 2026,” jelasnya.
Pemerintah menetapkan BK biji kakao periode November 2026 sebesar 7,5%. Tarif tersebut mengacu pada Kolom Angka 4 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025.
Sementara itu, PE biji kakao ditetapkan sebesar 7,5% berdasarkan Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Di sisi lain, harga patokan ekspor produk kulit pada November 2026 tidak berubah dari periode sebelumnya. Kondisi serupa terjadi pada HPE keping kayu (chipwood), kayu olahan jenis sungkai dengan luas penampang 1.000–4.000 mm², serta kayu olahan jenis merbau dengan luas penampang 4.000–10.000 mm².
Kenaikan HPE terjadi pada kayu veneer dari hutan alam, kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box), serta kayu olahan jenis meranti dengan luas penampang 1.000–4.000 mm². Kenaikan juga terjadi pada sortimen lainnya dari hutan tanaman jenis akasia dan sengon. HPE getah pinus turut naik menjadi US$1.023 per MT, meningkat US$3 atau 0,29% dibandingkan dengan Oktober 2026.
Sebaliknya, HPE kayu veneer dari hutan tanaman, kayu kering atau pecahan (wood in chips or particle), serta kayu olahan jenis merbau dengan luas penampang 1.000–4.000 mm² mengalami penurunan. Penurunan juga terjadi pada sortimen lainnya dari jenis eboni dan jati, serta produk dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina, karet, balsa, dan eukaliptus.
Penulis : Rika Anggraeni
** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (bisnis.com)