Search

Dengarkan Berita Ini

Inovasi Puzzle Interaktif Mandira Heritage Hidupkan Sejarah di Campuspreneur

Surakarta, 9 April 2026 – Cahaya matahari pagi menyelinap masuk Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, (1/4) menandai dimulainya Expo Campuspreneur 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan inovasi, mengembangkan ide bisnis sejak dini, memperluas jejaring, hingga mendorong lahirnya wirausaha muda yang siap menembus pasar domestik dan global.

Di tengah deretan puluhan stan yang berjajar, langkah kaki pengunjung perlahan melambat saat melewati sebuah meja sederhana yang memajang replika bangunan kuno. Sekilas, objek tersebut tampak seperti kotak bergambar candi yang mengundang rasa ingin tahu orang yang melintas. Namun, begitu didekati, objek tersebut adalah Mandira Puzzle, permainan puzzle miniatur bangunan bersejarah. Bukan hanya sekadar potongan puzzle dari kertas, puzzle ini telah terintegrasi dengan teknologi Augmented Reality (AR). Melalui produk ini, Mandira Heritage mempresentasikan pesona cerita sejarah masa lalu dengan teknologi masa kini.

Mandira Heritage lahir dari tangan kreatif mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada. Berawal dari proyek kompetisi kampus, inisiatif ini bertransformasi menjadi unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membawa misi besar: meluruskan misinformasi sejarah.

Chief Finance Officer Mandira Heritage, Stefani Adelia, menuturkan keresahannya terhadap kurangnya apresiasi masyarakat terhadap sejarah. Narasi masa lalu kerap beredar setengah benar atau berkembang menjadi mitos yang terus diulang tanpa kajian kritis. Selain itu, sejarah sering kali hanya berhenti sebagai hafalan, bukan pemahaman.

Stefani menuturkan, salah satu miskonsepsi yang paling populer adalah anggapan bahwa pembangunan candi menggunakan putih telur sebagai perekat. Narasi seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga mengaburkan kecanggihan pengetahuan leluhur. Padahal, candi-candi Nusantara mampu bertahan ratusan tahun karena teknik kuncian batu yang presisi.

“Tidak benar candi disusun menggunakan putih telur. Candi yang dibangun para leluhur kita terkenal awet dan kuat karena berbagai teknik kuncian dalam pembangunannya, misalnya teknik ekor burung. Prinsip-prinsip itulah yang kami adopsi dalam mekanisme permainan kami,” ujar Stefani.

Selain pelurusan fakta, Mandira Heritage menyoroti nasib situs-situs “sunyi” candi-candi kecil yang tidak sepopuler destinasi besar. Padahal, situs-situs ini menyimpan kisah, nilai, dan pengetahuan yang tak kalah penting. Upaya ini diwujudkan tidak hanya melalui puzzle, tetapi juga melalui permainan bongkar pasang bertajuk “Mandira Bricks”. Adapun ragam candi yang diadopsi dalam permainan ini meliputi Candi Gapuro Boko, Candi Banyunibo, Candi Sukuh, dan lainnya.

“Beberapa candi di Yogyakarta memiliki potensi kuat untuk dijadikan objek wisata menarik. Namun, karena tidak sebesar Prambanan atau Borobudur, candi-candi tersebut masih kurang dikenal. Kami berharap melalui permainan ini orang-orang bisa lebih mengenal candi-candi tersebut,” tambahnya.

Dari kegelisahan itulah Mandira Heritage mencoba berperan mengemas sejarah dalam bentuk permainan agar bisa disentuh, dirakit, dan dipahami. Stefani menunjukkan salah satu edisi yang terinspirasi dari Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, tempat relief fabel tentang karma dan konsekuensi perbuatan. “Melalui permainan ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu bentuk candinya, tapi juga memahami cerita dan pesan moral di baliknya,” jelasnya.

Di tengah hiruk-pikuk pameran, stan Mandira Heritage menghadirkan ruang kontemplasi. Di sini, pengunjung diajak menyadari bahwa sejarah tidak selamanya terasa jauh dan kaku.

Melalui fitur AR, pengguna cukup memindai bagian tertentu dari puzzle dan “menghidupkan” struktur tersebut menjadi visual tiga dimensi. Dengan cara ini, bangunan Candi Sojiwan pun tampil secara interaktif, dapat diputar dari berbagai sudut, lengkap dengan informasi sejarah yang kuat.

Inovasi lainnya hadir dalam bentuk Mandira Bricks, miniatur candi susun yang mengangkat kisah Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah. Candi yang memiliki arsitektur unik dan kerap disalahpahami ini dihadirkan kembali dengan narasi yang lebih utuh dan mudah dicerna.

“Orang-orang yang suka sejarah, akan sangat tertarik. Kemudian, tantangan kami adalah bagaimana orang-orang yang passion-nya bukan sejarah dapat tetap melihat permainan ini menarik. Akhirnya, kami buatkan deskripsi singkat mengenai Candi Sukuh yang terletak di Lereng Kaki Gunung Lawu, Karanganyar,” jelas Stefani.

Sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Campuspreneur, inovasi seperti Mandira Heritage diharapkan dapat tumbuh menjadi peluang usaha yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki daya saing dan potensi pasar yang luas. Dari proses pembinaan, pelatihan, hingga jejaring, program ini membuka jalan agar langkah-langkah kecil mahasiswa dapat mengarah pada panggung yang lebih besar.

Pagi itu, di Auditorium UNS, sebuah kegelisahan tentang sejarah yang terlupakan mulai menemukan jalannya sendiri. Melalui kepingan permainan sederhana, Mandira Heritage sedang berupaya menitipkan estafet fakta dan cerita lama ke generasi muda, satu kepingan di setiap waktu.

--selesai--

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers