RI pastikan tetap jaga keberlanjutan ekspor sawit ke Pakistan.
Pertemuan Bilateral sebelum Acara Indonesia Palm Oil Networking Reception
REPUBLIKA.CO.ID, KARACHI -- Indonesia dan Pakistan terus memperkuat hubungan ekonomi bilateral kedua negara. Komitmen tersebut menjadi tema utama dalam pertemuan antara Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti dan Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan di sela-sela rangkaian acara Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) VIII di Karachi pada Jumat (9/1/2026).
Menteri Perdagangan (Mendag) Pakistan Jam Kamal Khan memandang, perkembangan teknologi industri di negerinya membuka ruang kolaborasi dengan kekuatan industri Indonesia. Menurut dia, kedua negara memiliki struktur ekonomi yang memungkinkan kerja sama berbasis nilai tambah dan transfer teknologi.
“Indonesia dan Pakistan memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Kami melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama, termasuk di sektor teknologi industri yang berkembang pesat di Pakistan,” ujar Jam Kamal Khan, dikutip pada Sabtu (10/1/2026).
Penawaran kerja sama teknologi industri tersebut dibahas bersamaan dengan agenda perluasan Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditargetkan rampung pada 2027. Pemerintah Indonesia menilai sektor teknologi industri berpotensi menjadi salah satu pilar baru dalam kerangka CEPA.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan, Indonesia mendorong identifikasi sektor-sektor potensial agar proses negosiasi CEPA berjalan lebih terarah. Pemerintah RI mengusulkan kelanjutan perundingan pada awal 2026 dengan fokus pada sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
“Indonesia mendorong perluasan kerja sama melalui CEPA dan mengusulkan agar negosiasi dilanjutkan pada awal 2026 dengan mengidentifikasi sektor-sektor potensial kedua negara,” ujar Dyah Roro.
Selain teknologi industri, pembahasan juga mencakup peluang kerja sama sektor jasa, khususnya jasa kesehatan. Indonesia membuka peluang kolaborasi melalui penyediaan tenaga dokter dan perawat seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di Pakistan.
Kedua negara turut membahas penguatan kerja sama perdagangan regional melalui implementasi D-8 Preferential Trade Agreement (D-8 PTA). Indonesia menyambut implementasi D-8 PTA oleh Pakistan sejak 1 Januari 2025 serta mendukung peran Pakistan sebagai Secretary General D-8 pada 2026.
“Implementasi penuh D-8 PTA oleh seluruh negara anggota akan memperkuat integrasi ekonomi dan mendorong perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Dyah Roro.
Sawit, komoditas utama
Di sektor perdagangan, Pakistan tercatat sebagai pengimpor minyak sawit Indonesia terbesar ketiga setelah India dan Republik Rakyat China (RRC). Nilai impornya mencapai 2,77 miliar dolar AS pada 2024.
Pemerintah Indonesia memastikan kebijakan domestik, termasuk peningkatan program B30 menjadi B50 pada 2026, tetap menjaga keberlanjutan ekspor sawit ke Pakistan.
Pakistan juga mengundang Indonesia sebagai tamu kehormatan dan pembicara utama pada Pakistan Edible Oil Conference di Karachi pada 10 Januari 2026. Forum tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan berbasis data terkait keberlanjutan dan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global.
Di luar sektor industri dan energi, Pakistan berharap peningkatan akses produk pertanian ke pasar RI. Pemerintah Pakistan juga berencana menyelenggarakan single showcase exhibition di Indonesia dengan melibatkan eksportir produk-produk strategis dan mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah Indonesia.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mencatat total perdagangan Indonesia–Pakistan pada 2025 mencapai 3,6 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 3,4 miliar dolar AS dan impor 136 juta dolar AS.
Indonesia membukukan surplus perdagangan 3,3 miliar dolar AS dengan komoditas utama ekspor meliputi minyak sawit dan turunannya, serat stapel artifisial, suku cadang kendaraan bermotor, serta briket batu bara.
Penulis: Frederikus Dominggus Bata
** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (republika.co.id)