100 Perajin Batik Belajar Jurus Bikin Produk Yang Laris Di Dunia

 

Cirebon - Pemerintah mendorong penggunaan pewarna alami dalam produksi batik di Cirebon. Sekitar 100 perajin batik digembleng agar memiliki daya saing baik di pasar lokal maupun internasional. "Kita lakukan bimbingan teknis (bimtek) ini tujuannya untuk meningkatkan daya saing perajin. Kita harus punya produk unggulan, nah di Cirebon kita fokus pada pengembangan penggunaan pewarna alam untuk produksi batik," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti usai pembukaan bimtek pengembangan produk di kawasan Jalan Tuparev Kabupaten Cirebon, Jabar, Rabu (10/9/2019).

Tjahya menyebutkan salah satu sentra batik yang ada di Kabupaten Cirebon, yakni sentra batik Ciwaringin sejak dulu sudah menggunakan pewarna alami, sehingga perlu dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi yang ada.  "Dalam bimtek ini kita akan sampaikan tentang pemanfaatan teknologi untuk produksi batik pewarna alam. Kita akan dorong jadi produk unggulan," katanya.

Batik yang menggunakan zat pewarna alam memiliki warna yang relatif tak cerah dibandingkan dengan zat warna kimia, namun, menurut Tjahya, ciri khas warna batik pewarna alam itu memiliki daya tarik sendiri.  Tjahya optimistis batik pewarna alam tetap diminati pasar luar negeri. "Memang warnanya seperti imi (tidak cerah). Sepanjang ada permintaan dan bisa bersaing, tentu bisa kita ekspor. Apalagi tren ramah lingkungan ini sedang ramai di dunia, ini yang paling di cari karena ada pasarnya," kata Tjahya.

Untuk harga batik pewarna alami ini dibanderol dari Rp 300 ribuan hingga jutaan rupiah tergantung motif dan bahan yang digunakan.  Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon Deni Agustin mengatakan geliat produksi dan penjualan batik pewarna alami mengalami peningkatan. Namun, Deni tak menampik penggunaan zat pewarna alami masih memiliki kelemahan, yakni tidak tahan lama. "Ya semoga dalam bimtek ini ke depannya kita menemukan formula agar batik pewarna alam ini bisa lebih mencolok warnanya dan tahan lama," ucap Deni.

Deni menyebutkan beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan pewarna alami batik, seperti kulit jengkol, kayu jati, biji tanaman jambe, jambu biji dan lainnya.  "Jengkol itu biasanya dimakan, dibikin semur. Kalau di Ciwaringin kulitnya itu malah jadi bahan pewarna batik, kulit jengkol ini penghasil warna abu-abu," ucapnya.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4618298/100-perajin-batik-belajar-jurus-bikin-produk-yang-laris-di-dunia
Sudirman Wamad