Search

Dengarkan Berita Ini

Nutriplate: Saat Keresahan Berubah Jadi Piring Sehat

Surakarta, 2 April 2026 – Suasana Auditorium GPH Haryo Mataram, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tampak berbeda dua hari ini. Ratusan mahasiswa dengan antusiasme tinggi berkumpul untuk menyaksikan babak baru dukungan nyata pemerintah terhadap ide segar para wirausahawan muda. Di tengah banyaknya UMKM yang hadir mengikuti rangkaian kegiatan peluncuran Campuspreneur yang dibuka oleh Menteri Perdagangan, Budi Santoso, salah satu tenan menarik perhatian khalayak. Nutriplate, bisnis gagasan lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu peserta pameran yang tampak ramai pengunjung.

CEO Nutriplate, Lia Hanifah mengungkapkan lahirnya produk piring sehat Nutriplate tersebut dimulai dari tugas kuliah dengan ide berlatar belakang kegelisahan. Tepatnya, fakta bahwa angka Penyakit Tidak Menular (PTM) terus merangkak naik setiap tahunnya. Belum lagi hasil dari survei kesehatan di 2023 yang menunjukkan bahwa 96 persen masyarakat Indonesia belum memahami pemorsian makanan dengan tepat. “Saat melihat antrean panjang di rumah sakit, muncul keprihatinan karena penyakit-penyakit tersebut sebenarnya bisa dicegah melalui isi piring makan. Kami mencoba menghadirkan solusi yang mudah diakses dalam keseharian,” jelas Lia.

Lia kemudian menerapkan pentingnya kolaborasi dengan sesama mahasiswa lintas jurusan untuk membentuk tim dan menerapkan keahlian di bidang masing-masing, misalnya Ghifari Nafhan dari Jurusan Teknologi Informasi yang menginisiasi penerapan artificial intelligence (AI) untuk membantu konsumen memetakan kebutuhan nutrisi dan bertindak sebagai CTO Nutriplate. Sementara itu, Edeline Felicia Dharmawan dari Jurusan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak bertanggung jawab atas pengembangan UI/UX di website Nutriplate; Ahsanun Nadyah dari Jurusan Akuntansi menjabat sebagai Chief Financial Officer; dan Annisa Usfatun dari Ilmu Gizi sebagai Chief Marketing Officer.

Lahirnya ide bisnis Nutriplate bukan hanya dirancang untuk membantu masyarakat mengatur pola makan tanpa harus pusing menghitung kalori secara manual, tetapi membuktikan keresahan bisa menjadi peluang ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan tren terkini. Kecermatan juga menjadi variabel penting yang tercermin dari bisnis ini, misalnya melalui pemilihan bahan keramik alih-alih melamin untuk piring yang digunakan karena adanya tekad untuk meminimalisasi risiko mikroplastik. Meski demikian, berjalannya bisnis ini bukan tanpa tantangan, salah satunya yaitu masih rendahnya literasi masyarakat Indonesia tentang nutrisi.

Tidak dipukul rata, Nutriplate dengan pembagian sekat piring yang presisi menawarkan empat varian yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu. Terdapat varian normal plate untuk menjaga kebugaran harian; diabetes plate, yang dirancang khusus untuk mengontrol asupan karbohidrat; obese plate untuk membantu manajemen berat badan; athlete plate untuk menyesuaikan kebutuhan energi tinggi bagi pegiat olahraga.

"Nutriplate merupakan solusi cerdas untuk membantu masyarakat mengatur porsi makan dan membentuk pola konsumsi yang sehat. Dengan desain yang mengacu pada pedoman 'Isi Piringku' dari Kementerian Kesehatan dan dukungan teknologi QR Code, Nutriplate memudahkan pengguna untuk memantau asupan kalori dan mendapatkan informasi kesehatan yang relevan. Inovasi ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang gizi kesehatan dan kreativitas dalam mengintegrasikan teknologi dengan kewirausahaan," tutur Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradata.

Tak hanya berhenti pada produk fisik, Nutriplate membuktikan diri sebagai solusi modern lewat integrasi berbasis web. Pengguna cukup mengakses fitur di dalamnya untuk menghitung Body Mass Index (BMI), melakukan konsultasi menu makan, hingga menggunakan scanner estimasi kalori. Inilah keunggulan Nutriplate dibanding kompetitor dan menjadikan Nutriplate sebagai asisten kesehatan pribadi yang menemani penggunanya di setiap jam makan . “Dengan Nutriplate, kami ingin memberikan langkah preventif yang nyata dan mudah dijangkau oleh siapa saja di seluruh pelosok nusantara,” pungkas Lia.

Untuk memperluas jangkauan pasar terutama di luar pulau Jawa, Nutriplate juga merambah pasar digital seperti Shopee dan Tokopedia. Mereka berharap adanya kesempatan untuk membawa bisnis ini melampaui pasar lokal. Dengan tren pasar global yang kian sadar dengan gaya hidup sehat, Nutriplate melihat peluang untuk melangkah lebih jauh. Dua negara yang mereka anggap strategis yaitu Australia dan Jepang.

Tim Nutriplate meyakini rangkaian fasilitasi dari Campuspreneur akan membantu mereka mencapai target berikutnya. “Kegiatan hari ini menegaskan ke kami adanya dukungan nyata pemerintah terhadap entrepreneurship di kalangan generasi muda. Kesempatan coaching dan pitching hari ini menjadi sarana berharga bagi kami memahami peluang pasar internasional,” tandas Lia.

“Saat mengunjungi tenan Nutriplate, saya mendapat wawasan baru tentang kebutuhan gizi harian seseorang. Saya juga diajak untuk mencoba langsung menggunakan produk mereka. Menurut saya, produk ini sangat inovatif, mudah digunakan, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Semoga Nutriplate bisa merambah ke inovasi lainnya di bidang gizi,” ucap salah satu pengunjung tenan, Ummu Masruroh mahasiswa UNS.

Nutriplate berhasil membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa berteori di kelas, tapi juga mampu mengelola bisnis yang memiliki dampak sosial tinggi. Ia menjadi bukti bahwa inovasi lokal yang lahir dari tangan kreatif mahasiswa bisa menjadi solusi bagi bangsa. Kementerian Perdagangan senantiasa bersiap memberikan dukungan dan fasilitasi yang dibutuhkan agar bisnis-bisnis wirausahawan muda kian matang dalam berkembang.

--selesai--


Informasi lebih lanjut hubungi:

Ni Made Kusuma Dewi
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Perdagangan
Email: pusathumas@kemendag.go.id

Bagikan di
| Unduh
Siaran Pers