Search

Strategi Jaga Harga Pangan Impor Ala Mendag Budi

  Dengarkan Berita Ini

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memaparkan strategi supaya harga pangan impor dapat terjaga.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan strategi untuk menjaga stabilitas harga pangan impor di tengah potensi kenaikan biaya logistik global.(Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan strategi untuk menjaga stabilitas harga pangan impor di tengah potensi kenaikan biaya logistik global. Ia mencontohkan komoditas bawang putih yang diimpor dari China.

Budi mengatakan, pemerintah mengatur ritme impor agar tidak memicu lonjakan harga dari negara pemasok.

“Kalau kita tiba-tiba ambil banyak, harga bisa naik karena permintaan melonjak. Supplier juga pasti akan menyesuaikan harga,” ujar Budi di Pasar Minggu, Sabtu (27/3/2026).

Karena itu, pemerintah menerapkan strategi impor bertahap sesuai kebutuhan dalam negeri. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menahan gejolak harga, baik di tingkat global maupun domestik.

Ia menjelaskan, selama kondisi logistik dari negara asal masih aman, pasokan bawang putih relatif tidak menghadapi kendala. 

“Impor dilakukan pelan-pelan, menyesuaikan kebutuhan dalam negeri, sehingga harga tetap stabil,” ujar dia.

Selain itu, Budi Santoso mengungkapkan, penyebab kenaikan harga cabai rawit merah karena faktor cuaca. Kondisi cuaca menghambat proses panen di tingkat petani.

Budi mengatakan, pemerintah telah berkomunikasi dengan asosiasi petani untuk mengidentifikasi akar permasalahan itu. Hasilnya menunjukkan bahwa curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menjadi kendala utama dalam proses panen.

"Ya jadi problemnya kami sudah komunikasi dengan asosiasi petaninya, problemnya memang cuaca, jadi salah satunya memanennya itu kan tidak bisa terus, artinya ketika hujan berhari-hari kan pasti nggak bisa memanen. Itu memang yang cabai, cabai rawit merah,” ujar dia usai peninjauan di Pasar Minggu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut hanya terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Untuk jenis cabai lainnya, situasi harga dan pasokan masih dalam kondisi normal.

Ia mencontohkan, harga cabai merah keriting panjang masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan HET sebesar Rp55.000 per kilogram, komoditas tersebut saat ini dijual sekitar Rp50.000 per kilogram.

"Artinya, harga masih stabil dan dalam kondisi baik. Jadi secara umum tidak ada masalah, hanya cabai rawit merah yang terdampak,” kata dia.

Pengusaha Lapor Mendag: Biaya Logistik Mahal Imbas Perang AS-Israel vs Iran


Menteri Perdagangan Budi Santoso. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Sebelumnya, kalangan pengusaha diketahui mulai merasakan kenaikan biaya logistik ditengah memanasnya perang Amerika Serikat (AS) - Israel dengan Iran. Biaya logistik disebut naik imbas melonjaknya harga minyak dunia ditambah rute pengiriman.

Keluhan tersebut diakui langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso. Menurutnya, sudah ada aduan yang disampaikan para kalangan pengusaha soal biaya logistik, baik ekspor maupun impor.

"Teman-teman (pengusaha) memang bilang kalau biaya logistik ini meningkat, sebagian tetap jalan dengan kondisi biaya logistik tinggi, sebagian juga masih memang ada yang wait and see," kata Budi, di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Dia mengatakan, para pengusaha itu sejatinya masih ingin memperlancar proses ekspornya. Mengingat lagi, adanya tambahan permintaan dari beberapa negara, termasuk dari kawasan Timur Tengah.

"Ya cuma mereka mungkin berpikir dengan cost yang tinggi berani enggak ya mungkin untungnya berkurang gitu kali ya. Tetapi kan kalau teman-teman sebenarnya tetap ingin jalan kalau saya tanya ke mereka," jelasnya.

Ketika ditanya memgenai pihak yang menanggung kenaikan biaya logistik, Budi mengaku masih berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya. "Lagi dicari jalan keluarnya lah, mana yang terbaik. Karena mereka juga sebenarnya butuh barang itu kan gitu, negara-negara importir ya. Ini kita cari solusinya bersama antar, sebenarnya itu kan B2B (business to business) sebenarnya," tuturnya.

Tak Pengaruhi Komoditas Tertentu

Menteri Perdagangan, Budi Santoso ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso memperkirakan kinerja ekspor Indonesia bisa lebih rendah dari tahun lalu. Hal ini bisa terjadi jika perang Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran terus berlanjut.

Eskalasi perang Iran dan AS-Israel yang terjadi membuat arus logistik, utamanya di Selar Hormuz terganggu. Biaya logistik juga melonjak imbas kenaikan harga minyak dunia. Budi melihat dampaknya terhadap produk asal Indonesia.

"Tentu kalau ini enggak selesai, misalnya, enggak selesai terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Ganggu Akses Logistik


Menteri Perdagangan, Budi Santoso ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Dia mencatat, ekspor RI ke Timur Tengah sepanjang 2025 mencapai USD 9,87 miliar, dengan tujuan terbesar yakni Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Budi menyoroti biaya logistik yang mempengaruhi paling besar.

"Dampaknya (dari perang) sebenarnya lebih banyak faktor ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," ungkapnya.

Budi menyebut, para eksportir sebetulnya masih sanggup mengirimkan barangnya. Hanya saja, biayanya menjadi lebih tinggi. "Permintaan dari Timur Tengah memang masih jalan. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," jelas dia.

Penulis: Immanuel Christian

** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (liputan6.com)

  • Share