Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan, saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan, mengaku yakin ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) akan naik meski dunia sedang menghadapi perang di Timur Tengah.
Busan mengatakan, pemerintah yakin volume dan harga CPO akan meningkat seiring banyaknya negara eksportir minyak nabati yang terdampak perang.
“Kalau itu kami optimis ya kalau ekspor CPO akan meningkat termasuk juga baik baik value maupun volumenya,” kata Busan saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Ilustrasi minyak kelapa sawit. (SHUTTERSTOCK/MERCURY STUDIO)
Menurut Busan, sebagian negara memang menggunakan minyak nabati lain dari impor sebagai substitusi CPO.
Namun, negara eksportir minyak nabati itu turut terdampak perang sehingga terjadi kekurangan pasokan minyak nabati.
Kondisi ini berpeluang mendorong permintaan CPO meningkat.
“CPO kalau CPO kan banyak dibutuhkan kondisi sekarang ya suplai kita pasti banyak dibutuhkan,” ujar Busan.
Busan tidak menampik, beberapa komoditas ekspor memang tertekan dampak perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.
Perang yang membatasi lalu lintas Selat Hormuz mengakibatkan harga minyak dunia melambung, mengerek biaya logistik.
Namun, sejumlah komoditas seperti CPO, batubara, sampai nikel justru mengalami kenaikan.
“Sekarang batubara kan juga mulai banyak yang minta misalnya kayak Filipina ya yang sekarang mereka tergantung,” tuturnya.
Ilustrasi kelapa sawit. Negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia.(Dok. Berry Subhan Putra/Kompas.com)
Pemerintah juga tengah mencanangkan diversifikasi pasar dengan membidik negara-negara yang tidak terdampak perang.
Menurut Busan, negara-negara Amerika Latin, Afrika Selatan, dan anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang terdiri dari negara ASEAN dan 5 negara mitra bakal menjadi destinasi ekspor.
Diversifikasi pasar ekspor yang biasanya membutuhkan waktu lama biasanya berlangsung cepat ketika dunia dihadapkan gejolak geopolitik.
Banyak negara importir kesulitan mendapatkan pasokan dari negara lain imbas krisis.
Namun, hal ini justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia.
“Nah itu kalau kita punya peluang di situ artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik,” kata Busan.
Salah satu cara mengebut diversifikasi pasar ekspor itu dengan menggelar business matching.
“Karena business matching itu memang tidak harus menunggu setahun baru ada transaksi,” ucap Busan.
Berdasarkan data Trading Economics, harga CPO di pasar global terus meningkat.
Saat ini mencapai 4.600 Ringgit Malaysia atau Rp 19,4 juta per ton.
Harga CPO itu naik 9,30 persen dibandingkan bulan lalu.
Penulis: Syakirun Ni'am
** Tulisan ini berasal dari tautan berikut ini. (kompas.com)