ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA)

 

  1. GAMBARAN UMUM
  1. Lahirnya AFTA
  1. Tujuan dari AFTA
  1. Jangka Waktu Realisasi AFTA

  • ASEAN Summit ke-4 pada awalnya menargetkan realisasi AFTA dalam 15 tahun (1 Januari 1993 - 1 Januari 2008) dan hanya mencakup produk manufaktur.
  • Kemudian Sidang ke-26 Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) pada bulan September 1994 mempercepat realisasi AFTA menjadi 10 tahun (1 Januari 2003) dan memasukkan produk pertanian (processed atau unprocessed) kedalam CEPT Scheme.
  • Selanjutnya ASEAN Summit ke-6, (Desember 1998), menetapkan untuk mempercepat realisasi AFTA menjadi tahun 2002 dengan tarif 0 - 5%, dengan beberapa "fleksibilitas".
  • Vietnam pada tahun 2006 (masuk ASEAN tanggal 28 Juli 1995)
  • Laos dan Myanmar tahun 2008 (masuk ASEAN tanggal 23 Juli 1997)
  • Cambodia tahun 2010 (masuk ASEAN tanggal 30 April 1999).
        1. Fleksibilitas
        2. Yang dimaksud dengan fleksibilitas adalah suatu keadaan dimana ke-6 negara ASEAN apabila belum siap untuk menurunkan beberapa produk menjadi 0-5% pada tahun 2002, maka bisa diturunkan pada tahun 2003. Tahun 2003 produk-produk dalam AFTA tarifnya harus sudah maksimal 5%.

          Fleksibilitas masing-masing negara sebagai berikut :

          Brunei Darussalam = 16 items

          Indonesia = 66 items (tarifnya masih 10% dan sebagian besar dari sektor

          plastic dan chemicals)

          Malaysia = 922 items

          Philipina = 199 items

          Thailand = 472 items

        3. CEPT Product List

    (i) Inclusion List (IL) : produk-produk yang dimasukkan pada kelompok IL harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

    Pada tahun 2001, enam negara ASEAN telah mempunyai tarif 0-5% sebesar minimal 90% dari IL.

    (ii) Temporary Exclusion List (TEL) : produk-produk yang termasuk dalam kategori ini sementara dibebaskan dari kewajiban penurunan tarif, penghapusan QRs dan bentuk NTBs yang lain. Dan secara bertahap harus dimasukkan kedalam IL.

    TEL Indonesia ada sebanyak 14 pos tarif yang terdiri dari bunga potong segar, bawang putih, buah apel, cengkeh, gandum dan kedelai yang tarifnya sudah 0-5% kecuali bunga potong segar tarifnya 20%.

    (iii) Sensitive List (SL) :

    (iv) General Exception (GE)

      1. Aktivitas Lain Untuk Menunjang Pelaksanaan AFTA2

    1. KEIKUTSERTAAN INDONESIA DALAM AFTA

      1. AFTA Diberlakukan Secara Bertahap

    Catatan :

    Bagi Indonesia, produk pertanian yang belum diolah untuk masuk cakupan CEPT-AFTA adalah sebanyak 14 pos tarif yaitu dari bunga potong segar, cengkeh, kedelai, bawang putih dan sebagainya. Produk ini akan masuk CEPT pada tahun 2002.

      1. Memenuhi Komitmen Internasional berdasarkan sejarah

      1. Pemanfaatan Pasar Bersama ASEAN

      1. Tarif 0-5% CEPT-AFTA Tahun 2001 Besarnya Sudah 90%
      2. Pada tahun 2001 ini tarif CEPT-AFTA yang besarnya 0-5% sudah mencakup minimal 90% dari seluruh produk-produk yang dimasukkan dalam Skema CEPT. Keenam anggota ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand) besarnya tarif 0-5% masing-masing menunjukkan 97,3%; 90,1%; 90,88%; 92,7%; 100% dan 90%.

      3. Tingkat Kompetisi Produk dan Posisi Perdagangan Indonesia di ASEAN cukup baik
      4. Neraca perdagangan Indonesia dengan ASEAN mulai tahun 1996 s/d 2000 mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 12,35% per tahun, yaitu dari US$ 2.760,95 juta pada tahun 1996 meningkat menjadi US$ 4.398,84 juta pada tahun 2000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai neraca perdagangan bagi Indonesia selalu mengalami surplus setiap tahunnya, yang berarti ekspor Indonesia ke negara-negara ASEAN setiap tahunnya terus meningkat dibanding dengan import dari negara-negara ASEAN.

      5. Beberapa protocol/Article yang dapat dipakai untuk mengamankan produk Indonesia

    Dapat dipakai dasar untukmenarik produk-produk yang telah dimasukkan ke AFTA mulai tahun 2000 (misalnya produk otomotif Indonesia dengan HS 87) untuk dikeluarkan/ditunda masuk AFTA. Dengan sendirinya penarikan suatu produk tersebut, harus disertai dengan kompensasi.

    Dapat dipakai dasar untuk menarik produk-produk yang telah dimasukkan ke dalam Skema CEPT-AFTA, akibat adanya import yang banyak dari ASEAN sehingga menyebabkan adanya kehancuran industri dalam negeri.

    Bunyi lengkap article tersebut adalah sebagai berikut :

    If, as a result of the implementation of this Agreement, import of a particular product eligible under the CEPT Scheme is increasing in such a manner as to cause or threaten to cause serious injury to sector producing like or directly competitive products in the importing Member States, the importing Member States may, to the extent and for such time as may be necessary to prevent or to remedy such injury, suspend preferences provisionally and without discrimination, subject to Article 6 (3) of this Agreement. Such suspension of preferences shall be consistent with the GATT.

    Interpretative Notes

    1) Products included in the CEPT Scheme shall not be subjected to increase of CEPT rates except under emergency situation as provided in Article 6 of the CEPT Agreement.

    2) The suspension of CEPT preferences under Article 6 of the CEPT Agreement shall be consistent with Article XIX (Emergency Action Imports of Particular Products) of the GATT.

    Memuat produk-produk Sensitive dan Highly Sensitive (beras dan gula)

    Contoh

    Indonesia telah menarik gula dari daftar CEPT, dimana sebelumnya gula akan dimasukkan kedalam Skema CEPT-AFTA pada tahun 2002 dan pada tahun 2003 maksimal tarifnya 5%. Dengan adanya gula masuk ke HSL maka gula akan masuk IL tahun 2003 dan ending year 2010 dengan tarif maksimal 20%.

      1. Komitmen AFTA akan menarik investor

      1. ASEAN merupakan suatu kesatuan untuk maju dan tumbuh bersama

    1. KESIAPAN PEMERINTAH MENGENAI AFTAR

      1. Dinas Perindustrian dan Perdagangan di seluruh Indonesia adalah salah satu instansi pemerintah yang mempunyai wewenang untuk memproses ekspor ke negara-negara ASEAN dengan menggunakan fasilitas AFTA.
      2. Indonesia mempunyai produk-produk yang tidak mengikuti program penurunan tarif dalam AFTA (seperti GE, HSL).
      3. Sejak ditandatangani AFTA pada bulan Januari 1992 di Singapura, pemerintah telah mengadakan sosialisasi-sosialisasi baik kepada dunia usaha maupun instansi pemerintah yang terkait di seluruh Indonesia.
      4. Para Pejabat Senior Ekonomi ASEAN (SEOM) dalam sidang-sidangnya selalu melibatkan ASEAN-CCI untuk mengadakan konsultasi.
      5. ASEAN-CCI ini anggotanya adalah KADIN-KADIN yang ada di masing-masing negara ASEAN.

      6. Departemen Perindustrian dan Perdagangan c/q Ditjen Kerjasama Industri dan Perdagangan Internasional (KIPI) adalah sebagai "National AFTA Unit", sehingga bila ada masalah-masalah tentang AFTA dapat berhubungan dengan instansi tersebut.
      7. Departemen Keuangan setiap tahun menerbitkan Surat Keputusan Menteri Keuangan (SK Menkeu) tentang CEPT-AFTA yang lampirannya berisi daftar produk-produk yang memperoleh keringanan bea masuk. Sedangkan daftar produk-produk yang akan diekspor dalam rangka AFTA diperoleh dari Dinas-dinas Perindustrian dan Perdagangan di seluruh Indonesia.

     

    ORIGINAL (DUPLICATE/TRIPLICATE/QUADRUPLICATE)

     

    1. Goods consigned from (Exporter's business name,
    2. address, country)

    Reference No.

    ASEAN COMMON EFFECTIVE PREFERENTIAL

    TARIFF/ASEAN INDUSTRIAL COOPERATION SCHEME

    CERTIFICATE OF ORIGIN

    (Combined Declaration and Certification)

  • Goods consigned to (Consignee's name, address,
  • country)

    FORM D

    issued in ______________

    (Country)

    See Notes Overleaf

  • Means of transport and route (as far as known)
  • Departure date

     

    Vessel's name/Aircraft etc.

     

     

     

    Port of Discharge

  • For Official Use
  • Preferential Treatment Given Under ASEAN

    Common Effective Preferential Tariff Scheme

    ------------------------------------------------------------------

    Preferential Treatment Given Under ASEAN

    Industrial Cooperation Scheme

    ------------------------------------------------------------------

    Preferential Treatment Not Given (Please

    state reason/s)

    Signature of Authorised Signatory of the Importing

    Country

  • Item
  • number

  • Marks and
  • number on

    packages

    7. Number and type of packages, description of goods (including quantity where appropriate and HS number of the importing country)

    8. Origin criterion

    (see Notes

    overleaf)

    1. Gross weight

    or other quantity and value (FOB)

    10. Number and date of invoices

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    1. Declaration by the exporter
    2. The undersigned hereby declares that the above details and statement are correct; that all the goods were produced in

    ------------------------------------------------------

    (Country)

    and that they comply with the origin requirements specified for these goods in the ASEAN Common Effective Preferential Tariff Scheme for the goods exported to

    ------------------------------------------------------

    (Importing Country)

    ------------------------------------------------------

    Place and date, signature of

    authorised signatory

    1. Certification

    It is hereby certified, on the basis of control

    carried out, that the declaration by the

    exporter is correct.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    ------------------------------------------------------

    Place and date, signature and stamp of

    certifying authority